Petani dan Pelabuhan

Apakah petani Aceh diuntungkan atau dirugikan? Itulah pertanyaan penting ketika berbicara kelesuan aktifitas bongkar-muat pelabuhan laut di Aceh. Keuntungan petani bisa didapat dari ekspor mentah hasil bumi dg harga wajar dan atau dari nilai tambah olahannya.

Jika petani menjual hasil bumi langsung kepada pembeli di luar negeri, maka tanggung jawab petani selesai ketika komoditas sampai di atas kapal. Setelah itu, pengiriman hingga sampai ke tujuan menjadi tanggungan pembeli. Karena itu, pembeli menentukan kapal yg digunakan. Skema seperti ini menguntungkan kedua belah pihak.

Dengan skema lain, petani bisa merugi jika menjual hasil bumi kepada pedagang pengumpul dg harga lebih rendah daripada harga pasar. Pedagang ini kemudian menjualnya ke pembeli di luar negeri dg harga lebih tinggi.

Di utara Sumatera, Belawan memiliki jalur langsung ke Singapura yg menjadi penghubung jalur logistik internasional. Ini menjadi salah-satu alasan ekspor komoditas pertanian Aceh dikirim oleh kapal yg hilir-mudik di Belawan.

Kembali ke pertanyaan awal. Jika fokus kita pada petani, maka yg perlu diperhatikan adalah hal2 yg terkait dg peningkatan keuntungan bagi petani Aceh. Dua hal yg mendesak adalah peningkatan nilai tambah melalui pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi, serta penyediaan informasi harga komoditas utk petani. Pada gilirannya, ini akan meningkatkan konsolidasi barang dan memungkinkan beroperasinya pelabuhan ekspor yg lebih dekat dg sumber produksi.

Kesimpulannya, lebih baik membangun agroindustri dahulu ketimbang mengeluh karena pelabuhan laut lokal tdk ramai.

*Penulis bukan ahli perdagangan/pertanian/ekonomi. Kesalahan mohon dimaklumi saja.

:-)

Posted in Opini | Leave a comment

15 Agustus

Ruang tamu rumah itu masih kusam walau sudah tujuh bulan kami huni kembali pasca pembersihan bengkalai tsunami. Garis bekas genangan air setinggi dua setengah meter sangat jelas terlihat di dindingnya. Bahkan, bau khas tanah yang mengering dari air laut masih tercium.

Siang itu, aku menatap lamat-lamat kotak ajaib empat belas inci yang dibelikan istriku dari gaji pertamanya. Antena luar tidak ada, jadi aku berusaha menjangkau sinyal dari menara TVRI di daerah Mata Ie dengan antena bawaan televisi-analog-layar-datar-mungil itu. Aku yakin, ruang tamu berjarak paling dekat dengan menara itu dibanding ruangan lain. Hasilnya lumayan. Kendati gambarnya sedikit kabur, acara yang disiarkan secara nasional itu dapat kuindera dengan jelas.

Itulah hari yang detilnya kuingat dengan baik. Inilah hari perdamaian, yaitu hari ditabalkannya kesepakatan damai di Helsinki sana. Bagiku, perdamaian ini adalah rizki terbesar kami setelah puluhan tahun dirundung konflik.

Kerja memang belum selesai dan tak akan pernah. Sejak televisi itu kupindahkan lagi ke pinggir ruang makan pada sore hari sepuluh tahun lalu itu, aku sudah sedang akan mengisi masa damai ini dengan kerja yang lebih keras dan cerdas lagi. Itulah tiketku guna menyusul para syuhada di sana.

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment

135 Juta, dst.

Agaknya, satu2nya lagu yg perlu terus diperbaharui judul dan liriknya adalah lagu Bung Rhoma yg berbunyi:

“Seratus tiga puluh lima juta
Penduduk Indonesia
Terdiri dari banyak suku-bangsa
Itulah Indonesia….”
,
Jadi, jika Anda menyanyikannya sekarang, judulnya berubah menjadi “252 Juta” dg lirik awal “Dua ratus lima puluh dua juta penduduk….”

:-)

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Insting Lelaki

Setiap lelaki memiliki insting untuk melindungi, dan insting itu menguat pesat ketika ia menjadi seorang ayah.

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment

Transparansi & Linux

Keyakinan saya pada pentingnya transparansi di pemerintahan tidak saya dapati dari sumpah jabatan, diklat, ceramah ilmu administrasi negara, kuliah perencanaan, dsb. Saya dapati itu dari hobbi menggunakan GNU/Linux.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Godaan Korup

walau
tabiat korup
kutolak
tapi
tak pernah
kubersorak
saat koruptor
diarak

kutakut
diriku juga
bakal diangkut

kepada
Al-Kabir
aku bertabir

Posted in Sastra | Leave a comment

Cahaya di Atas Cahaya

Ada yg anaknya juara lomba, ada yg mendapat beasiswa, ada yg lulus sekolah baru, ada yg jadi pengantin baru, ada yg bergotong-royong membangun rumah baru utk si nenek miskin, ada yg bukunya laris-manis, ada yg ditabalkan sbg tenaga medis teladan nasional, ada yg menjadi pembicara sains terbaik, ada yg beroleh promosi karir, dsb.

Berlombalah terus dalam kebaikan. Itulah cahaya sesudah kegelapan. Bahkan, jadilah cahaya di atas cahaya.

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment