Frontiers In ….

Salah-satu mata kuliah yang saya sukai saat mahasiswa dulu adalah “Frontiers in Geographic Information Science (695)”.
Apa yang menarik? Mata kuliahnya membahas fenomena kebumian apa saja yang baru yang belum ada buku teksnya atau sedang ditulis atau sedang dikembangkan.

Saat itu, Google Map belum secanggih sekarang. Aplikasi web yang mampu menunjukkan posisi koordinat adalah “Latitude”. Youtube masih baru tapi bisa dipakai untuk menghubungkannya dengan info dari situs semacam Wikipedia. Saat itu, dunia sedang mengenal “internet 2.0” di mana web tidak saja one-way tapi interaktif, dan Facebook adalah salah-satu layanan baru semacam itu. Dalam Ilmu Geografi, semua itu adalah “just another kind of place”. Oya, satu lagi, saat itu ponsel pintar belum ada di pasaran. Yang ada adalah perangkat bermerek Palm yang bisa digunakan untuk membuka dokumen Word dan Excel dengan tampilan sederhana. Adapun i-Phone, ia masih berupa konsep yang dikembangkan dari i-Pod dg layar sentuh.

Di mata kuliah 695 itu, saya tertarik pada kajian tentang pengumpulan data dari publik (croud source) untuk kebencanaan (volunteered geographic information for emergency management). Ini adalah konsep yang saat ini sudah berkembang cepat dan semakin mudah dipakai dengan bantuan ponsel pintar untuk berbagai keperluan. Layanan “Go-jek” (ojek dengan aplikasi) menggunakan konsep ini.

Saya kira, perlu ada Frontiers in Sociology, Frontiers in Mathematics, Frontiers in Psychology, Frontiers in Architecture, dsb. yang mengajak mahasiswa mengenal hal-hal baru dan bahkan menciptakan visinya sendiri dalam ilmu yang diminatinya itu.

Mata kuliah pasca sarjana Geografi di Texas A&M University dapat dilihat di sini.

Posted in Geografi | Leave a comment

Camat Pungo

image

“Jika air itu tak mengalir, Camat duluan yang akan kita ceburkan ke sungai,” ucap seorang lelaki paruh baya pada orang di sampingnya.

“Ya. Camat pungo!” timpal seorang lagi.

Memerah telinga Makcikku mendengar komentar penumpang di belakangnya. Ingin ia berhenti di tengah jalan dan turun dari angkutan antarkecamatan yg tengah melaju kencang itu. Ia tak kuat hati.

Kisah dari adik ibuku itu aku dengar saat SMP, atau sepuluh tahun sejak bendungan di Krueng Peusangan itu dibangun bersama warga. Bapak adalah camat di sana ketika itu.

Ya, “camat pungo” (camat gila) adalah panggilan sebagian orang kepada Bapak yang berinisiasi mengairi sawah tadah hujan dengan membendung air sungai yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan dan berhilir di Selat Malaka. Sesuatu yang terlalu “cet langet” (tak mungkin) di masanya, apalagi dengan dana terbatas. Namun, dengan dukungan swadaya masyarakat, proyek ini berhasil.

Bekerja untuk publik memang begitu. Anda bisa jadi tak populer. Damed if you do, damed if you don’t!

Sepertinya, dalam beberapa hal, aku mewarisi “kepungoan” itu.

:-D

Image | Posted on by | Leave a comment

GIScience

Pemetaan kerab dipakai untuk menjelaskan fenomena di atas permukaan bumi atau keruangan (spatial). Sayang, ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan lingkungan fisik lebih aktif memanfaatkannya ketimbang ilmu sosial (human context).

Penginderaan jauh tidak begitu saja dapat menjelaskan fenomena sosial berbekal resolusi spasial, temporal, atau spektral. Begitu pula, peta yg dihasilkan Geography Information System (GIS) tidak berarti apa-apa jika titik, garis, dan area yang digambarkan tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi di permukaan bumi dalam ruang dan waktu tertentu.

Di sisi lain, banyak cabang ilmu yg bersentuhan langsung dengan fenomena sosial, namun teledor dalam mendudukkan perkara akibat tidak menelaahnya secara komprehensif dengan melibatkan lokasi, lingkungan, jarak, pola, waktu, luas, dan pergerakan objek di permukaan bumi. Karenanya, ilmu-ilmu itu perlu dibantu oleh alat-alat pemetaan yang teknologinya semakin canggih.

Masalah pengungsi Timur-Tengah ke Eropa, misalnya, dapat dianalisis oleh ilmu ekonomi, sosiologi, sejarah, demografi, statistik, kesehatan, politik, dsb. Analisisnya membutuhkan informasi keruangan yang dapat dengan mudah dikelola dengan aplikasi GIS. Ini membuat analisis keruangan tidak melulu didekati secara kuantitatif, tapi juga secara kualitatif.

Agar ilmu pengetahuan dan teknologi pendukung analisis keruangan dapat dipelajari, dapat diulang metodenya, dan benar secara ilmiah, saya menganjurkan UGM membuka program studi baru untuk S1, S2, dan S3, yaitu Geography Information Science (GIScience).

Posted in Geografi | Leave a comment

Petani dan Pelabuhan

Apakah petani Aceh diuntungkan atau dirugikan? Itulah pertanyaan penting ketika berbicara kelesuan aktifitas bongkar-muat pelabuhan laut di Aceh. Keuntungan petani bisa didapat dari ekspor mentah hasil bumi dg harga wajar dan atau dari nilai tambah olahannya.

Jika petani menjual hasil bumi langsung kepada pembeli di luar negeri, maka tanggung jawab petani selesai ketika komoditas sampai di atas kapal. Setelah itu, pengiriman hingga sampai ke tujuan menjadi tanggungan pembeli. Karena itu, pembeli menentukan kapal yg digunakan. Skema seperti ini menguntungkan kedua belah pihak.

Dengan skema lain, petani bisa merugi jika menjual hasil bumi kepada pedagang pengumpul dg harga lebih rendah daripada harga pasar. Pedagang ini kemudian menjualnya ke pembeli di luar negeri dg harga lebih tinggi.

Di utara Sumatera, Belawan memiliki jalur langsung ke Singapura yg menjadi penghubung jalur logistik internasional. Ini menjadi salah-satu alasan ekspor komoditas pertanian Aceh dikirim oleh kapal yg hilir-mudik di Belawan.

Kembali ke pertanyaan awal. Jika fokus kita pada petani, maka yg perlu diperhatikan adalah hal2 yg terkait dg peningkatan keuntungan bagi petani Aceh. Dua hal yg mendesak adalah peningkatan nilai tambah melalui pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi, serta penyediaan informasi harga komoditas utk petani. Pada gilirannya, ini akan meningkatkan konsolidasi barang dan memungkinkan beroperasinya pelabuhan ekspor yg lebih dekat dg sumber produksi.

Kesimpulannya, lebih baik membangun agroindustri dahulu ketimbang mengeluh karena pelabuhan laut lokal tdk ramai.

*Penulis bukan ahli perdagangan/pertanian/ekonomi. Kesalahan mohon dimaklumi saja.

:-)

Posted in Opini | Leave a comment

15 Agustus

Ruang tamu rumah itu masih kusam walau sudah tujuh bulan kami huni kembali pasca pembersihan bengkalai tsunami. Garis bekas genangan air setinggi dua setengah meter sangat jelas terlihat di dindingnya. Bahkan, bau khas tanah yang mengering dari air laut masih tercium.

Siang itu, aku menatap lamat-lamat kotak ajaib empat belas inci yang dibelikan istriku dari gaji pertamanya. Antena luar tidak ada, jadi aku berusaha menjangkau sinyal dari menara TVRI di daerah Mata Ie dengan antena bawaan televisi-analog-layar-datar-mungil itu. Aku yakin, ruang tamu berjarak paling dekat dengan menara itu dibanding ruangan lain. Hasilnya lumayan. Kendati gambarnya sedikit kabur, acara yang disiarkan secara nasional itu dapat kuindera dengan jelas.

Itulah hari yang detilnya kuingat dengan baik. Inilah hari perdamaian, yaitu hari ditabalkannya kesepakatan damai di Helsinki sana. Bagiku, perdamaian ini adalah rizki terbesar kami setelah puluhan tahun dirundung konflik.

Kerja memang belum selesai dan tak akan pernah. Sejak televisi itu kupindahkan lagi ke pinggir ruang makan pada sore hari sepuluh tahun lalu itu, aku sudah sedang akan mengisi masa damai ini dengan kerja yang lebih keras dan cerdas lagi. Itulah tiketku guna menyusul para syuhada di sana.

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment

135 Juta, dst.

Agaknya, satu2nya lagu yg perlu terus diperbaharui judul dan liriknya adalah lagu Bung Rhoma yg berbunyi:

“Seratus tiga puluh lima juta
Penduduk Indonesia
Terdiri dari banyak suku-bangsa
Itulah Indonesia….”
,
Jadi, jika Anda menyanyikannya sekarang, judulnya berubah menjadi “252 Juta” dg lirik awal “Dua ratus lima puluh dua juta penduduk….”

:-)

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Insting Lelaki

Setiap lelaki memiliki insting untuk melindungi, dan insting itu menguat pesat ketika ia menjadi seorang ayah.

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment