Biomimic

Jurusan teknik perlu memasukkan Ilmu Biologi dalam kurikulumnya.

Kesimpulan di atas disarikan dari uraian para ahli tentang “biomimic”, yakni rancang bangun suatu alat atau teknologi berdasarkan bentuk atau cara kerja makhluk hidup di alam. Jika dulu para insinyur kerap belajar dari teknologi rancangan orang lain, kini mereka melihat bahwa banyak hal yang bisa dicontoh dari alam untuk menjawab persoalan manusia.

Para ahli melihat penerapan biomimic pada berbagai aktifitas sain dan teknologi. Sebagai contoh, kasus kebisingan pada Shinkansen. Saat kereta api super cepat ini keluar dari terowongan, timbul bunyi yang besar. Ini terjadi karena udara di dalam terowongan didorong keluar oleh kendaraan itu dengan cepat sehingga menghasilkan bunyi. Ini mirip dengan udara di terompet. Agar suara meredam, perancang Shinkansen mempelajari bentuk sayap burung hantu, badan pinguin, dan paruh burung. Ketiganya dipadukan sedemikian rupa sehingga desain baru kereta cepat itu menghasilkan gesekan yang rendah dengan udara.

Para ahli juga melihat bahwa cara kerja atau proses daur hidup di alam dapat diadopsi untuk menjawab masalah kehidupan sehari-hari kita, seperti energi dan ekonomi. Pada siklus rantai makanan, misalnya, didapati bahwa tidak ada produk yang terbuang di alam. Tiap produk akhir menjadi manfaat baru bagi subyek berikutnya dari rantai itu. Siklus alam seperti ini dapat mengilhami pakar energi untuk merancang mesin yang menghasilkan energi terbarukan. Adapun pakar ekonomi dapat merancang suatu rantai ekonomi masyarakat yang terus bergerak berkesinambungan.

Banyak contoh lain penerapan biomimic dalam peradaban manusia. Jadi, tak salah jika Ilmu Biologi diajarkan di jurusan teknik, bukan?

:-)

Advertisements
Posted in Cang Panah | Leave a comment

Parvana

Hari ini, “Avengers: Infinity War” (2018) ditayangkan di bioskop berbagai negara. Saya mungkin akan menontonnya tiga-empat bulan lagi saat versi DVD diluncurkan. Saya menyukai imajinasi Stan Lee dkk. yang begitu banyak menciptakan superhero yang keren dan jenaka.

Sambil menunggu, ada superhero lain yang lebih membumi yang saya tonton, yaitu Parvana. Gadis kecil ini bisa mengubah dirinya menjadi sosok yang mampu bergerak bebas di tempat umum. Kemampuannya itu ia gunakan untuk membeli roti, susu, buah-buahan, dan mengambil air di sumur bagi ibu, kakak, dan adiknya. Sepeninggal sang ayah, Parvana adalah pahlawan keluarganya.

Parvana bukan tokoh Marvel atau DC. Ia hadir di “The Breadwinner” (2017), film animasi berlatar konflik di Afghanistan. Parvana adalah fiksi, tapi superhero yang seperti itu nyata adanya. Sama nyatanya dengan monster ganas yang dihadapinya, yaitu kejahiliyahan.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Aceh: Reset 2

Pembangunan Aceh belum begitu menggembirakan. Kita mungkin perlu merencanakan ulang semuanya. Tapi, sebelum melangkah jauh, mari kita lihat beberapa tonggak penting pembangunan Aceh pasca perang/konflik.

1958: Kopelma Darussalam (Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry, Dayah Pante Kulu) mulai dibangun.

1960: Bank Kesedjahteraan Atjeh NV didirikan. Ini menjadi cikal-bakal BPD. Sekarang bernama Bank Aceh.

1962: Badan Perancang Daerah (Bapeda) dibentuk.

1963: Bapeda berubah menjadi Badan Koordinasi Pembangunan Daerah (BKPD).

1967: BKPD berubah menjadi Badan Pertimbangan Perencanaan Pembangunan Daerah (BP3D).

1968: BP3D berubah menjadi Aceh Development Board (ADB) atau Badan Perencana Pembangunan Daerah Aceh (BPPA).

1973: BPPA diadopsi menjadi bagian dari struktur pemerintahan nasional (Bappenas) dan daerah (Bappeda).

2005-2010: Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias dibentuk untuk merespon bencana gempa dan tsunami.

Dari sejarah itu, dapat dilihat bahwa pembangunan manusia, penguatan perbendaharaan daerah, dan perencanaan yang matang adalah langkah strategis untuk memulai generasi baru. Inovasi adalah kuncinya.

Sebagai sumber pemikir-pemikir awal perencanaan Aceh, Kopelma Darussalam hendaklah terus memperbaiki kualitasnya. Kualitas tidak hanya didapat dari bibit-bibit baru yang bersaing ketat di ujian masuk perguruan tinggi, tapi juga dari seleksi tenaga pengajarnya yang kompetitif. Pusat-pusat studinya hendaklah menjadi pusat belajar masyarakat dan pengambil kebijakan publik. Pemahaman filosofis dan penerapan praktis patut hadir secara bersamaan mewarnai derap pembangunan.

Dalam pada itu, Bank Aceh hendaklah dekat dengan mereka yang ingin mandiri membangun usahanya. Bank pelopor ini harus benar-benar menjadi penggerak kesejahteraan daerah sebagaimana namanya saat pertama didirikan. Indikatornya bukan pada peningkatan pinjaman PNS, tapi pada bangkitnya usaha kecil menengah di seluruh Aceh.

Bagaimana dengan kerja pemerintah daerah? Kerjanya hendaklah direncanakan oleh orang yang bisa merencanakan. Perencanaan yang benar dengan cara benar. Untuk ini, kita bisa mencontoh semangat ADB di tahun 1960-an dan melihat cara kerja BRR.

Sebagai instansi ad-hoc dengan masa kerja lima tahun, BRR dirancang bekerja efesien dan efektif dengan pembagian fungsi secara tegas antara perencana dan pelaksana. Perencanaan terpusat dilakukan oleh satu unit khusus, sedangkan pelaksanaan dilakukan oleh satuan-satuan kerja.

Di lain pihak, instansi permanen daerah justru dibebani dua fungsi sekaligus, yaitu perencanaan dan pelaksanaan. Tak heran jika outcome yang muncul adalah perencanaan tidak matang dan pelaksanaan asal-asalan. Karena itu, satuan kerja pembangunan daerah hendaknya diberi fungsi pelaksanaan saja agar sumberdaya yang terbatas dapat difokuskan untuk kualitas output yang tinggi.

Lalu, bagaimana dengan perencanaan? Perencanaan itu berat, biar Bappeda saja.

Tonggak-tonggak penting perencanaan pembangunan Aceh yang dibangun dengan susah payah oleh indatu adalah “Reset 1” bagi Aceh. Ibarat ponsel pintar, banyak sudah “application”, “extension”, “plugin”, atau “addon” ditambahkan dalam proses puluhan tahun sesudahnya. Tak heran, kadang kita melihat gerak pembangunan lamban, tidak harmoni antara satu kegiatan dengan yang lain, tambal-sulam, atau malah “hang”. Reset tidak menurunkan versi perangkat lunak utama yang telah ditingkatkan (upgraded) seiring waktu. Reset menghilangkan aplikasi tambahan yang kadang tak penting dan mengembalikan kesegaran ponsel.

Kini, kita perlu menyegarkan semangat generasi baru dalam membangun Aceh dengan “reset” untuk kedua kalinya.

Posted in Opini | Leave a comment

Hikmah Semesta

Alquran menggambarkan fenomena alam secara relatif dari sudut pandang dan ukuran fisik manusia (observer) yang berada di Bumi.

Dari Bumi, manusia dapat melihat matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur; bulan berubah wujud dari sabit, purnama, dan kembali menjadi sabit; bintang-bintang tampak kecil menyebar berpola; bumi dihamparkan; bumi luas; guntur sebelum hujan; hujan dari awan yang digerakkan angin; dst. Semua itu adalah fenomena alam yang umum dilihat manusia.

Bagaimana dengan sudut pandang lain, misalnya, dari angkasa luar? Alquran tidak memberi informasi langsung, tapi justru mengajak manusia mengarungi antariksa. Dari sana, manusia dipersilahkan menguraikan sendiri gambaran tentang Bumi dan benda-benda langit lain.

Misi Alquran dari menyebut-nyebut tentang alam semesta adalah mengajak manusia memperhatikan dan memikirkannya lebih dalam. Dari observasi dan penjelajahan itu, akan didapat hikmah dan manfaat yang banyak untuk kehidupan mereka. Mudah-mudahan, itu semua menjadi petunjuk bagi manusia untuk mengenal penciptanya dan mau berserah diri kepada-Nya.

Catatan:

Makna “hikmah”.

Posted in Al-Furqan | Leave a comment

Genangan menuju Arus Utama

Saya dan beberapa teman pernah berdiskusi ttg fokus kerja pemda dlm pembangunan ekonomi Aceh.

Pada tahun 2013, kami menyimpulkan bahwa Sabang perlu beralih dari ekspor-impor (dengan pelabuhan bebasnya) ke pariwisata. Empat tahun kemudian, Sail Sabang 2017 menjadi stempel bagi kota terbarat itu untuk fokus pada pariwisata.

Di tahun 2014, kami mencoba menarik perhatian pengambil kebijakan lintas sektoral untuk “bergotong-royong” memusatkan pembangunan dengan pendekatan kawasan. Sejak 2015, KEK Arun Lhokseumawe adalah salah-satu wujud awal beralihnya perhatian ke pendekatan kawasan ini.

Lalu, di tahun 2015 kami berpikir bahwa ekonomi kreatif adalah urat nadi generasi milenial (kelahiran awal 1980an-awal 2000an). Beberapa kegiatan, spt. Lomba pembuatan aplikasi Android dan memulai merancang ekosistem yang sehat bagi komunitas ekonomi kreatif pernah kami buat. Tahun 2018, “Industry 4.0” menjadi tren baru di kementerian bidang perekonomian.

Saya yakin ada banyak ide-ide lain yang muncul dari teman2, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Masalahnya, inovasi2 itu masih bagai air tergenang, belum mengalir apalagi menjadi arus utama. Kapan menjadi arus utama? Ini terjadi saat beberapa orang di Pusat memikirkan hal yang sama dan lalu menjadi kebijakan nasional.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Isra’ Mi’raj

Tugas para nabi adalah mendorong, memberi teladan, dan memimpin umatnya hingga akhir hayat, bukan berputus asa dan mengasingkan diri. Inilah perintah Allah SWT kepada para utusan-Nya.

Usai bermi’raj, Nabi Muhammad SAW kembali kepada kaumnya. Begitulah orang-orang yang didekatkan dan disayangi Tuhan, dekat dan sayang pula pada makhluk-Nya.

**

Isra’ Mi’raj

shalatku
kuperhatikan
adakah ia bernilai
ataukah kusia-siakan
adakah ia menyentuh langit
ataukah cuma tikui-tangah sahaja

Posted in Al-Furqan | Leave a comment

Fiksi

Konon, film “Crouching Tiger Hidden Dragon” (2000) hampir saja mendapatkan Oscar. Namun, juri melihat ada masalah pada adegan penutupnya. Jen, tokoh utamanya, melompat dari tempat tinggi untuk mengakhiri hidupnya. Juri bertanya-tanya, buat apa ia melompat? Apa latar belakangnya? Kalau ini berdasar keyakinan tertentu, mana cuplikan penjelasan sebelumnya dalam film itu? Karena tidak masuk akal, turunlah nilai film ini di mata dewan juri.

Bagi Hollywood, sebuah cerita fiksi haruslah masuk akal. Lihatlah kisah “Superman”, misalnya. Karena Kal El dari planet lain, maka masuk akal jika ia memiliki kekuatan super yang tidak dimiliki manusia Bumi. Begitu pula penjelasan asal-mula kekuatan hebat yang dimiliki dongeng superhero lain. Ada yang karena terpapar radiasi, terkena zat kimia, mutasi DNA, atau terbantu oleh teknologi tinggi. Semua penyebab itu adalah fiksi tapi dijelaskan dengan logis dengan meminjam sebab-akibat ilmiah yang ada dalam kehidupan nyata.

Perhatikan pula petualangan Doraemon dan kantong ajaibnya. Kata “ajaib” membuat cerita lucu dan kreatif ini menjadi logis. Pembaca komik atau penonton kartunnya malah ikut berandai-andai memiliki kantong serupa dan alat-alat aneh yang keluar darinya. Si pendongeng tidak berhenti di situ saja, ia juga menjelaskan cara dan akibat penggunaan alat-alat ajaib itu secara logis.

Kadang, sulit membedakan fiksi dan bukan fiksi. Ini yang ditunjukkan oleh serial “Beyond Belief: Fact or Fiction” (1997-2002) yang pernah ditayangkan TVRI. Dari lima kisah aneh yang disajikan per episode, penonton diminta menebak mana yang fiksi dan mana yang berdasar kisah nyata. Tak mudah menebaknya. Saya teringat salah-satu kisah tentang seorang ibu tua yang menyelamatkan putranya yang terjepit di bawah kolong mobil saat ia memperbaiki mesinnya. Yang tidak masuk akal adalah saat sang ibu mengangkat bagian belakang mobil tua yang berat itu sendirian. Saya mengira kisah ini karangan belaka. Tapi, di akhir acara diberi tahu bahwa itu benar-benar terjadi.

Cerita fiksi punya logika yang sebangun dengan cerita non-fiksi. Hampir tak dapat dibedakan. Kita hanya mengandalkan instinct atau kepiawaian untuk menyebut itu fiksi atau bukan. Sejatinya, kejujuran penuturnyalah yang membantu kita mengetahuinya.

Sekarang coba tebak, status ini termasuk prosa fiksi atau non-fiksi?

Posted in Opini, Sastra | Leave a comment