Kaos

Hari ini aku mendapat kaos baru berwarna biru untuk kegiatan Sail Sabang. Kaos ini mengingatkanku pada sebuah kisah di waktu kecil.

Suatu hari, di tahun 1983. Seperti biasa, sepulang TK aku singgah di kantor camat tempat Bapak bekerja. Rupanya, hari itu kantor dipenuhi oleh banyak orang. Mereka sedang sibuk menyiapkan penyelenggaraan MTQ se-Kecamatan Peusangan. Aku memilih duduk dipojok memperhatikan panitia hilir-mudik.

Sejurus kemudian, seseorang datang membawa beberapa kotak kardus. “Ayo, dibagi!” serunya sambil mengambil kaos dari kotak itu dan membaginya ke yang lain.

Kulihat wajah para panitia begitu gembira. Aku tertawa kecil menyaksikan polah mereka. Segera saja kaos-kaos seragam mereka itu habis dibagikan.

Tiba-tiba, mataku tertuju pada seorang perempuan di seberang ruangan. Ia kelihatan lebih muda dari yang lain. Rambutnya hitam sebahu dan berwajah manis. Tapi, ia tampak murung. Aku terdiam, penasaran atas apa yang terjadi padanya. Kuperhatikan ia dan teman-temannya lebih lama. Ah, rupanya kakak itu belum kebagian kaos!

Aku jadi ikut tidak enak hati. Terbayang betapa sedihnya kakak itu karena sendirian tidak mendapat kaos. Ia seperti terasing dari yang lain. Tak dianggap ada. Hampir saja aku berteriak memberitahu orang-orang di situ yang seolah tak peduli padanya. Namun, sebuah suara menahanku.

“Ini, ada satu lagi. Ambillah!” Seseorang mengulurkan sebuah kaos kepada kakak tadi. Kulihat wajahnya langsung sumringah. Ia begitu bahagia. Mungkin, sama seperti kebahagian yang aku rasakan hari ini.

Advertisements
Posted in Cang Panah | Leave a comment

Thanksgiving

Di AS, tiap Kamis keempat di bulan November diadakan semacam kenduri nasional yang dinamai “Thanksgiving Day”.

Banyak legenda yang melatarbelakangi hari libur Thanksgiving yang dicanangkan Abraham Lincoln ini. Salah-satunya adalah kisah imigran Eropa yang mendapat didikan bercocok tanam dari satu suku Indian, Squanto, sekitar tahun 1621. Sebagai wujud syukur atas panen yang melimpah di tahun itu dan sekaligus ucapan terima kasih kepada Indian, mereka mengadakan kenduri.

Kini, warga AS merayakan Thanksgiving dengan berkumpul dan makan malam bersama keluarga. Hidangan khasnya adalah kalkun.

Karena mudik nasional, tak heran, jalanan macet. Foto di bawah menggambarkan kondisi jalan raya di Los Angeles beberapa saat lalu. Yang putih adalah cahaya lampu depan mobil. Sedangkan dari arah berlawanan, tampak lampu belakang berwarna merah.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Geography Upgrade

Geography 1.0: menjelajahi, memetakan, dan menulis tentang bumi.

Geography 2.0: menjelajahi, memetakan, menulis tentang bumi dan angkasa luar.

Geography 3.0: melakukan semua yang ada pada versi 1.0 dan 2.0 secara digital.

Geography 4.0: penjelajahan dunia digital.

Posted in Geografi | Leave a comment

Menvonis via Sosmed

Salah-satu episode serial fiksi-sain-komedi masa depan, The Orville (parodi Star Trek), bertajuk “Majority Role”. Episode ini berkisah tentang sebuah planet yang mirip bumi dengan peradaban abad ke-21 (seperti kita saat ini). Yang menarik, hukum di planet ini didasarkan pada polling dari media sosial.

Setiap penghuni planet ini memiliki lencana di dada kirinya yang menampilkan tanda segitiga hijau dan merah beserta angkanya. Masing2 tanda mewakili “Like” dan “Dislike”. Jika si A berlaku baik, maka si B bisa menekan tombol hijau, baik secara langsung di dada si A atau via ponsel. Sebaliknya, jika A berlaku tidak sopan atau tindakan buruk lainnya, maka nilai merah yang naik.

Yang “kejahatannya” viral dan lalu memiliki nilai “Dislike” di atas angka tertentu, maka ia akan ditahan. Selanjutnya, ia akan diminta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka via televisi. Jika publik tidak memaafkannya sehingga “Dislike” mencapai angka 10 juta, maka otaknya akan “disterilkan” dari pikiran jahat.

Begitulah. Mungkin, episode The Orville kali ini hendak memberi kritik bagi perilaku menghakimi orang lain yang kerap terjadi di media sosial jaman now.

:-)

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sail

Pagi yang cerah. Saya memasuki ruang kerja. Beberapa pegawai duduk menghadap layar komputer. Mereka sibuk membereskan pekerjaan. Pandangan saya tertuju pada satu orang yang beberapa minggu ini tidak kelihatan. Ia Fadliana Surya yang baru pulang dari kegiatan besar: Sail Komodo 2013.

“Lily, apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik, Pak!” Ia menoleh. Wajahnya sumringah, kelihatan lebih segar dari sebelumnya.

“Gimana Sail…apa namanya?”

“Sail Komodo!” Kali ini tidak sekedar menoleh, ia memutar kursinya ke arah saya. Komputer ia abaikan. Selanjutnya, dengan penuh riang dan bersemangat, ia bercerita tetang perjalanannya bersama pemuda-pemudi senusantara mengarungi lautan. Saya yang mendengarnya ikut hanyut dalam petualangan Lily dan teman-teman barunya itu.

“Gitulah Pak. Ingin rasanya acara serupa diadakan di Aceh. Kan kita punya Simeulue dan Sabang.” Ia menutup kisahnya dengan ide brilian.

Hari berganti pekan, bulan berganti tahun. Kali ini, Lily lolos seleksi menjadi pendamping di Sail Raja Ampat 2014. Ia mendampingi adik-adik peserta sail di kepulauan Papua yang indah itu. Lalu, tugas ini ia lakoni pula pada Sail Tomini 2015.

Sepulang dari Tomini, pada pagi tanggal 02 Oktober 2015, kami berdiskusi lagi. “Kita buatkan konsep surat Gubernur saja. Kita minta agar acara Sail berikutnya diadakan di Aceh,” ucap saya kemudian. Hari itu juga surat dibuat.

Dalam setiap kesempatan sail, Lily selalu mempromosikan agar Aceh menjadi lokasi berikutnya. Beberapa pertemuan ia lakukan dengan pejabat terkait, di daerah dan pusat. Terakhir, saat mendampingi Sail Karimata 2016, ia suarakan lagi impiannya.

Berbekal pengalamannya menjadi peserta dan pendamping di empat sail sebelumnya, ia mendiskusikan secara detil konsep, waktu, dan tempat untuk pelaksanaan sail di Aceh.

Manjadda wa jadda. Usaha yang sungguh dan terus-menerus akan membuahkan hasil. Tahun lalu, Sail Sabang 2017 ditetapkan. Tentu, banyak yang terlibat dalam proses ini, tapi saya tidak melupakan anak muda yang enerjik itu. Lily bermimpi, lalu ia mengembangkan layar meraih mimpinya itu.

Anak-anak muda lain yang seperti Lily sungguh banyak di Aceh. Kita hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk menyapa dan mendengarkan mereka bercerita tentang mimpinya.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Pasfoto

Sila baca di Telegram pada @arifarhamamin

Posted in Bin M.A. Jangka | Leave a comment

Kritis

Pendapatan kita boleh jadi menurun daya belinya. Namun, sodara-sodara, janganlah sampai pendapat kita menurun daya kritisnya. Itu yang membuat negeri kita gagah di mata dunia!

Posted in Cang Panah | Leave a comment