Dunkirk: Darkest Hour

Film “Dunkirk” (2017) dan “Darkest Hour” (2017) sebenarnya bisa digabung. Kedua film ini bercerita tentang kejadian yang sama pada masa Perang Dunia Kedua, yaitu upaya penyelamatan pasukan Inggris dari Dunkirk, Perancis, sebelum Jerman datang di kota pesisir itu. Dengan suntingan (editing) tertentu, fragmen-fragmen dari dua film Inggris ini bisa disajikan secara selang-seling.

Film “Dunkirk” menggambarkan suasana mencekam proses evakuasi pasukan Inggris di Pelabuhan Dunkirk; pertempuran udara di atas Selat Dover; dan upaya nelayan Inggris membantu evakuasi itu. Selat Dover memisahkan pantai terdekat di Inggris dan pelabuhan Dunkirk dengan jarak sekitar 50 km. Operasi penyelamatan via laut yang terjadi pada 27 Mei hingga 4 Juni 1940 ini dikenal dengan nama “Operation Dynamo”.

Adapun film “Darkest Hour” memperlihatkan sisi politik di pusat kekuasaan Inggris dalam upaya menyelamatkan tiga ratusan ribu tentara mereka di Dunkirk. Saat itu, Jerman semakin jauh menguasai tiap jengkal Eropa. Inggris dan sekutunya kewalahan mempertahankan Dunkirk. Mereka memiliki waktu kurang dari dua hari untuk menjauh dari kota itu sebelum Jerman datang menguasainya. Pilihan ada dua: melakukan perundingan damai dengan Jerman atau menjemput mereka pulang.

Pimpinan partai yang berkuasa di Parlemen Inggris setuju pada pilihan untuk berdamai, atau tepatnya, menyerah pada Jerman. Mereka menghindari timbulnya korban besar jika melawan Hitler. Tapi, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, sama keras kepalanya dengan Sang F├╝hrer. Ia bersikeras bahwa tidak ada kata menyerah kepada Nazi. Karena itu, ia bersegera menjemput pulang tentaranya walau terancam diturunkan dari tampuk kekuasaan.

Di film “Darkest Hour”, penonton jadi tahu asal nama “Operation Dynamo”, yaitu merek kipas angin “Dynamo” yang berada di kantor seorang laksamana angkatan laut Inggris.

Satu hal yang menjadi ciri khas masing-masing film adalah dialog antara tokoh-tokohnya. “Dunkirk” disajikan dengan dialog yang minim, sedangkan “Darkest Hour” penuh dengan ocehan Churchill yang melegenda itu.

Dari kejadian di Dunkirk, kita bisa melihat keadaan Perancis, Inggris, dan juga Belanda yang begitu lemah pada ketika itu. Di masa lalu, negara-negara ini malang-melintang melakukan penjajahan di berbagai negeri di bagian selatan bumi. Kini, mereka tak berdaya di hadapan tetangga mereka sendiri, Jerman. Tapi, kita tahu akhir fragmen sejarah ini: Jerman takluk dan kemudian bangkit lagi berkawan dengan bekas musuh-musuhnya itu.

Cerita kehidupan berubah silih-berganti. Hikmahnya begitu banyak jika mau dipetik. Berikhtiar terus tanpa kenal putus asa adalah salah-satunya sebagaimana ucapan Churchill, “Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.”

Advertisements
Posted in Cang Panah | Leave a comment

Antar Sekolah

Instagram @arifarhamamin

Mengantar anak-anak ke sekolah adalah kegiatan yang selalu menyenangkan, walau kadang menegangkan.

Naik motor bersama sambil tertawa di pagi hari itu menyenangkan. Jalanan pun ramai dengan ayah-ibu-kakek-kakak mengantar anak-cucu-adik mereka ke sekolah. Ada juga yang berjalan kaki sambil berpegangan tangan. Tas di pundak berwarna-warni ikut bergoyang. Semua bersemangat di pagi hari.

Aktivitas rutin mengantar anak-anak sekolah juga menegangkan, lho. Soalnya, semua khawatir terlambat. Kadang harus melawan malas dan kantuk; mesin motor ngadat; ban bocor; lalu-lintas macet; dan kain sarung. Ya, kain sarung.

“Bapak jangan antar pakai sarung, dong! Malu kami ye….”

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Selesaikan Gambar Besarnya

Sebuah kampung dihuni para petani penggarap sawah tadah hujan. Hanya sekali dalam setahun mereka bisa panen. Mereka menginginkan agar jumlah dan kualitas panen meningkat di masa mendatang. Bagaimana caranya, mereka tak terlalu paham. Hal ini disampaikan pada kepala kampung.

Kepala kampung meneruskan aspirasi warganya ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga pada suatu ketika di tahun yang sama, Bapeda kabupaten setempat membahasnya.

Dari telaahan (klarifikasi, eksplanasi, verifikasi, dsb.) teknokrat dan birokrat yang ikut dilibatkan Bapeda, dirumuskanlah masalah, alternatif solusi, biaya belanja barang/jasa, dan waktu yang diperlukan untuk menjawab kebutuhan warga kampung tadi. Beberapa masalah terkait dari kampung lain juga ditelaah sehingga dapat disusun program strategis dan tingkat prioritasnya.

Para perencana di kabupaten itu juga memperhitungkan ruang lingkup masalah lain yang mungkin saja membutuhkan intervensi provinsi atau kementerian terkait. Karena itu, beberapa program bisa masuk dalam usulan ke APBD provinsi atau APBN.

Seusai dibahas di eksekutif dan disetujui Bupati, aspirasi warga kampung tadi bersama program lain diajukan ke legislatif sebagai rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah itu untuk dibahas. Jika disetujui, masalah tadah hujan tadi dapat mulai tertangani.

**

Gambaran di atas memperlihatkan bahwa aspirasi publik yang ditangani pemerintah menyentuh kepentingan orang banyak (bukan orang seorang); melingkupi luasan administrasi tertentu yang berjenjang kewenangannya; membutuhkan para ahli di bidangnya untuk menentukan tindakan yang tepat; serta memperhatikan kemampuan sumberdaya (dana, manusia, dan waktu) yang dimiliki.

Karena itulah, satu aspirasi warga harus dilihat sebagai satu titik dari puluhan, ratusan, atau ribuan titik lain yang membentuk gambaran besar (the big picture) pembangunan.

Para pemimpin tidak terlena pada dua-tiga titik belaka, tapi melihat dan berkomitmen untuk menyelesaikan gambar besarnya.

Posted in Opini | Leave a comment

Amerika Dibayangi “Government Shutdown”

Pembahasan anggaran 2018 yang diajukan Trump belum final. Seharusnya, anggaran baru ini disahkan pada 1 Oktober 2017 dan berlaku hingga 30 September 2018. Namun, kesepakatan belum ada. Banyak pihak mengkhawatirkan akan terjadi lagi “government shutdown” di AS.

“Government shutdown” adalah kondisi saat operasional pemerintahan dihentikan sementara (kecuali pertahanan, keamanan, dan kesehatan) akibat eksekutif dan legislatif tidak mencapai kata sepakat dalam penganggaran. Gaji PNS dan tentara tidak dibayar. Walau begitu, peluang operasional pemerintahan masih terbuka melalui pengesahan kembali anggaran tahun lalu (Continuing Resolution) untuk jangka waktu tertentu.

Kabar pagi ini menyebutkan bahwa DPR AS berhasil menyetujui rancangan anggaran 2018. Tapi, ini baru setengah jalan. Dibutuhkan persetujuan Senat AS agar palu anggaran bisa diketuk. Voting di kamar kedua lembaga Kongres AS ini akan dilakukan sebelum pukul 00.00 pada Jumat (19/1) waktu DC jika musyawarah tidak menghasilkan kesepakatan.

Senat membutuhkan persetujuan 60 anggotanya agar palu anggaran bisa diketuk. Republik hanya memiliki 51 kursi sehingga mereka memerlukan setidaknya 9 suara lagi dari Demokrat. Celakanya, ke-49 lawan-lawan Trump ini sejak jauh hari sudah bersikukuh takkan setuju pada rancangan anggaran baru Sang Presiden.

“Government shutdown” pernah dialami oleh beberapa Presiden AS sebelumnya. Pada masa Obama, penyebabnya adalah ketidaksepahaman dalam hal asuransi kesehatan. Kali ini, soal keimigrasian. Belum pernah terjadi gara-gara dana aspirasi.

Krisis penganggaran wajar saja terjadi dalam sistem presidensial, atau bisa juga disebut sebagai salah-satu kelemahan sistem ini. Konsekuensinya juga besar karena berhentinya aktivitas pemerintahan akan merugikan orang banyak.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Perbaikilah Metode Pilkada

Postulat: Pilkada model sekarang sulit memunculkan manajer yang baik bagi banyak daerah.

Hasil pilkada sepertinya begini-begini saja. Kita takkan dapat mencapai good governance dari daerah secara sistemik. Jika ada, itu kasus khusus saja.

Langkah perbaikan tata pemerintahan biasanya begini:

Metode A**
1. Seorang yang cakap terpilih jadi bupati.
2. Ia melakukan inovasi di satu bidang layanan.
3. Menteri terkait melihat keberhasilan inovasi sang bupati, lalu membuatnya menjadi kebijakan nasional yang mesti diikuti semua daerah.

Metode B
1. Presiden melakukan terobosan.
2. Lahirlah aturan penerapannya secara nasional.

Kedua metode ini baik-baik saja, namun sangat lambat bagi perbaikan kinerja banyak pemda. Karena itu, para ahli di bidang Political Science perlu meneliti, menelaah, dan memunculkan gagasan baru bagi peningkatan kualitas dan kestabilan good governance bagi pemerintahan daerah.

Less drama, more governance!

**Lebih detil, anatomi dari Metode A adalah sbb.

  1. seorang yg cakap mau menjadi bakal calon bupati;
  2. ia harus diajukan partai atau maju secara independen;
  3. ia perlu biaya untuk kampanye;
  4. ia perlu memenangkan pilkada;
  5. kebijakan/inovasinya saat berkuasa harus sukses, minimal tampak hasilnya dalam 1 periode;
  6. pemerintah pusat perlu mengetahui ada inovasi dari daerah sang bupati;
  7. pemerintah pusat harus seide/setuju dengan inovasi itu agar bisa diterapkan secara nasional;
  8. pemerintah pusat harus menjadikan inovasi itu sebagai kebijakan nasional dengan mempertimbangkan efesiensi dan efektifitasnya.
Posted in Cang Panah | Leave a comment

Solus: History

No, it’s not about the history of a Linux distribution called Solus. It is about restoring your system to a particular state and time. It is like the System Restore in Windows, but only touches the operation of install and remove.

Let say if you mess your system up by removing an application, than you find that your desktop run slower than before. What you can do is restoring the system before you did that.

Check the history first. In Terminal, type

$ eopkg history

You will see a list of operations with number, the type of operation (install/remove), date, and time.

For example, if your last working system is yesterday as shown in operation number #35, than type

$ sudo eopkg -t #35

Reboot your computer. If it does not work, you can try another number as shown in the history.

Read more at Solus Help Center.

Posted in Open Source | Leave a comment

Desain

Dunia desain begitu mempesona dan setia menemani keseharian kita. Namun, ia juga begitu mudah membosankan kita. Mungkin, itulah sebabnya desain menjadi elemen paling dinamis dalam kehidupan.

Saat Honda Jazz generasi pertama bersiliweran di jalan tahun 2004, saya menilai desainnya “aneh” atau terlalu futuristik. Tadi, saat melihatnya lagi, ia justru tampak kuno.

Kursi lipat Chitose adalah contoh lain. Desainnya simpel dan keren. Saya pertama kali melihatnya di kantor Bapak. Begitu berkesan sedemikian sehingga saya membelinya untuk kamar kos saat kuliah dulu. Di luar sana, beragam desain baru kursi terus diciptakan dan dibentuk. Mulai kursi tunggu bandara, kantor, cafe, hingga kursi tamu.

Teknologi ikut pula mengubah desain. Kamera misalnya. Di tahun 1980-an, saya pernah menggunakan kamera video analog genggam seukuran bata. Gambarnya direkam pada gulungan film untuk kemudian dicuci. Untuk menonton hasilnya, kita memerlukan proyektor seukuran dua bata. Tak usah khawatir dengan layarnya, dinding rumah berbata-bata bisa jadi pengganti. Setelah teknologi digital perekaman audio-visual dikembangkan NASA tahun 1975 dan dikomersilkan 20 tahun kemudian, desain kamera berubah. Kita bisa menggunakan ponsel tipis untuk vifi (video+selfi) setiap saat dan tayang di dinding tanpa bata, Facebook.

Begitulah dunia desain, bergerak begitu cepat dalam berbagai ranah. Di alam imajiner manusia, melanglang hampir tanpa batas. Sebagian kecilnya saja yang mewujud di dalam keseharian kita.

Ngomong2, ada lho desain yang tak lekang oleh waktu. Honda Civic generasi ke-6 (terutama yg tahun 1999) adalah yg terbaik dan takkan pernah kuno dalam pandangan saya. Itulah mengapa saya pernah bersamanya dua kali.

Foto: Sejak promo paket data muncul, kartu hp sering diganti. Karena itu, pembuka wadah/slot kartu SIM sering dipakai.. Desain ponsel keluaran terbaru berubah. Wadah kartunya hanya bisa dibuka dengan memasukkan ujung kawat ke lubang kecil. Ukuran kawat bawaannya sebesar klip segitiga yang sejak dulu dipakai untuk menjilid kertas. Karena itu, kegunaan penjilid ini bertambah, yaitu sebagai pembuka wadah/slot kartu hp.

Posted in Cang Panah | Leave a comment