Mengubah Haluan

Kapten Angkatan Laut AS, David Marquet, mendapat tugas mengkomandoi Kapal Selam Santa Fe. Kapal perang bersenjata nuklir ini berteknologi lawas dan termasuk paling rendah prestasinya dibanding armada yang lain. Kapten sebelumnya telah mengundurkan diri. Entahlah, apakah ini tugas buangan bagi Marquet atau cuma rotasi biasa.

Pada suatu sesi latihan, Kapt. Marquet memerintahkan Letnan bawahannya mengubah daya kendali nuklir ke angka tertentu. Letnan segera memerintahkan Kopral melakukannya.

“Siap, laksanakan!” ucap Kopral. Namun, tidak ada perubahan pada layar monitor.

“Kenapa tidak ada perubahan?”
“Siap Kapten! Tidak tersedia angka yang diminta pada sistem kapal ini, Pak,” jawab Kopral.
“Kamu tahu hal ini sejak awal, Letnan?
“Tahu, Kapten!”
“Lalu, kenapa kamu perintahkan juga?”
“Karena Kapten memerintahkannya.”

Marquet tercenung. Ia tahu, militer bekerja seperti ini. Semua kru kapal bergerak atas perintahnya. Tidak ada yang keliru. Tapi, kejadian tadi tidak masuk akal dan sangat berbahaya dalam satu pertempuran.

Marquet lalu membuat kebijakan baru: setiap kru Kapal Santa Fe dapat langsung memutuskan aksinya sesuai bidang tugasnya dengan syarat aman dan tepat untuk dilakukan. Mereka tidak lagi meminta izin pada kapten, tapi cukup menyampaikan apa yang akan dilakukannya.denan syarat aman dan benar . Misalnya, kru mesin bisa langsung mengganti oli mesin kapal jika menurut data teknis memang sudah layak diganti. Tentu, Letnan dan Kopral tadi sudah bisa memberi informasi yang benar kepada Kapten jika ada sebuah misi.

Kebijakan Kapt. Marquet benar-benar baru. Rantai komando begini tidak diajarkan di akademi AL. Ia mengubah haluan. Namun, akibatnya adalah bahwa setiap kru memiliki rasa tanggung jawab terhadap kapal. Ini membuat mereka berpikir, bukan hanya menjadi wayang.

Alhasil, setelah 12 bulan beroperasi tanpa mengganti satu pun personilnya, Kapal Selam Sante Fe meraih predikat terbaik satuan armada AS. Bukan hanya untuk tahun itu, tapi terbaik sepanjang sejarah AL AS.

Simak ilustrasi kepemimpinan ala David Marquet berikut.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Pengelolaan KEK

Sepertinya, ada kesalahpahaman soal pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam beberapa pemberitaan. Yang sering disebut adalah bahwa yang berkuasa penuh terhadap semua kegiatan dalam KEK adalah perusahaan pengelolanya. Tapi, apa benar begitu? Apa sebenarnya pengelolaan KEK itu?

Pengelolaan KEK terdiri dari dua bidang kerja, yaitu perizinan dan pengelolaan fisik kawasan. Kedua bidang ini tunduk di bawah kendali Dewan Kawasan yang dipimpin Gubernur dan beranggotakan Bupati/Walikota setempat.

Urusan perizinan berada di tangan pemerintah daerah melalui lembaga Administrator yang dibentuk Dewan Kawasan. Instansi ini yang memberi izin dan mengendalikan semua kegiatan usaha dalam kawasan.

Urusan pengelolaan fisik kawasan dikerjakan oleh badan pengelola (manajer) dengan lingkup pekerjaan, jangka waktu, standar kinerja pelayanan, dan sanksi tertentu. Penyediaan kapling untuk investor (tenant), pengolahan limbah, pembuangan sampah, penyediaan air bersih, promosi kawasan, dan pemeliharaan infrastruktur dalam kawasan adalah contoh ruang lingkup kerja badan pengelola KEK. Manajer ini dipilih Dewan Kawasan melalui proses lelang. Namun, badan usaha yang menjadi pengusul KEK dapat langsung ditunjuk sebagai manajernya seperti yang berlaku di KEK Morotai.

Jadi, pengelolaan KEK telah mempertimbangkan prinsip otonomi daerah dalam hal perizinan dan pengendalian, serta prinsip good corporate governance bagi manajer kawasan.***

Literatur:

kek.go.id

Posted in Geografi | Leave a comment

Sopir Paterson

Paterson (2016) adalah film yang menarik. Tokohnya adalah seorang sopir bus Kota Paterson, New Jersey, yang juga bernama Paterson. Ia suka menulis puisi dan berkarakter tenang (mild manner).

Paterson menjalani hidupnya dengan sederhana: tiap pagi bangun tepat waktu; sarapan; berjalan kaki ke gudang bus tempatnya bekerja; menulis puisi di sebuah buku sebelum busnya ia operasikan; mendengarkan perbincangan penumpangnya; istirahat siang sambil menikmati bekalnya dan melanjutkan menulis puisi; pulang sore sambil mengecek surat di kotak pos rumahnya; makan malam bersama istrinya sambil mendengarkan cerita kegiatan istrinya di rumah hari itu; dan terakhir, nongkrong di kedai minuman kecil dekat rumahnya.

Paterson adalah orang yang pendiam, kontras dengan tokoh-tokoh lain di sekitarnya yang banyak bercerita. Ia menjadi pendengar yang baik.

Sepintas, film drama dengan komedi ringan besutan Jim Jarmusch ini membosankan karena tidak ada dramatisasi dari konflik para tokohnya. Tapi, memang tidak perlu karena konflik kecil akan tampak besar dilihat dari kacamata Paterson yang diperankan Adam Driver (pemeran Ben Solo dalam Star Wars 2015) ini. Uniknya, Paterson dan Adam sama-sama pernah bertugas di militer, dan nama belakang Adam adalah Driver.

Klimaks dari kisah ini adalah saat anjing piaraan Paterson merobek-robek buku puisinya menjadi kertas-kertas kecil. Padahal, sudah sering istrinya mengingatkan agar buku rahasianya itu difotokopi atau dipublikasi. Dan Paterson tetap tenang.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Pengelola Bisnis Kawasan

Ada baiknya Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang dikembangkan sama dengan KEK Morotai. KEK ini berfokus pada zona pariwisata, manufaktur, logistik, dan pengolahan ikan.

Jika KEK memiliki Dewan Kawasan dan Administrator, maka Sabang juga memilikinya. Gubernur Aceh, Walikota Sabang, dan Bupati Aceh Besar duduk dalam dewan tersebut. Sedangkan BPKS Sabang berfungsi sebagai Administrator. Yang tidak ada di Sabang adalah pengelola bisnis kawasan sebagaimana PT. Jababeka mengelola KEK Morotai.

Karena itu, dalam rangka meraih sebesar-besar manfaat ekonomi, Kawasan Sabang perlu pengelola dari unsur badan usaha yang memiliki good corporate governance.

Posted in Geografi | Leave a comment

be thou

be smart
funny
and kind

to be smart
read books
see movies
and travel away

to be funny
you gotta be smart first
then give the rest
to the smile
and laugh

to be kind
share your
smartness
and funnyness
to all folks
flora
and fauna

Posted in Sastra | Leave a comment

Sekilas tentang KEK

Jika sehamparan lahan (min. 500 Ha) hendak dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), maka pemerintah pusat (kementerian/lembaga), pemrov, pemkab/kota, atau badan usaha dapat mengusulkannya ke Dewan Nasional KEK. Sebagai pengusul, badan usaha ini harus sehat keuangannya selama tiga tahun berturut-turut.

Apabila pemerintah yang mengusulkan KEK, maka pengelolanya harus dilelang. Sedangkan jika badan usaha yang menjadi pengusulnya, maka ia dapat ditunjuk langsung sebagai pengelola KEK. Ini berlaku juga untuk BUMN atau BUMD.

Siapapun pengusul atau pengelola KEK, Gubernur setempat berkuasa sebagai Ketua Dewan Kawasan yang membawahi administrator perizinan dalam kawasan.

Diharapkan, pengelolaan KEK yang profesional (good corporate governance) dapat memberi kenyamanan bagi berbagai perusahaan yang membuka usaha di sana. Pada gilirannya, akan terjadi multiplier effect terhadap kegiatan perekonomian daerah.***

Literatur:

Posted in Geografi | Leave a comment

Hitung Cepat Himasta

Hari ini, adik-adik mahasiswa yang berhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Statistika (Himasta) Universitas Syiah Kuala mengumumkan hasil hitung cepatnya (quick count) atas Pilkada Gubernur Aceh 2017. Bagi civitas akademika dari FMIPA ini, hitung cepat adalah penerapan ilmu statistika yang sederhana saja. Yang tidak sederhana adalah keberanian, kerjasama, inisiatif, dan proaktif mereka untuk bersuara manakala yang lain ada yang menutup rapat hitungannya. Padahal, hitung cepat bisa menjadi alat kontrol publik terhadap proses perhitungan yang sebenarnya (real count) agar tidak “masuk angin”. Memang, sudah sepatutnya kampus ikut berbicara tentang pemilu dalam posisinya sebagai bagian dari “ummatan washathan.”

Mantap Himasta!

Literatur:

Posted in Cang Panah | Leave a comment