Perigi

seperti perigi
yang jernih murni
ditimba di hari pagi
untuk bersuci

bagai perigi
yang dalam sunyi
di relung hati
bersih tersembunyi

semisal perigi
menanti yang pulang dan pergi
singgah mengisi guci
untuk minum dan memercik pipi

laksana perigi
begitulah mereka ini
yang baiknya tak terperi
kembali pada ilahi

Posted in Sastra | Leave a comment

Memekarkan Ibukota Aceh

Wacana memperluas Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh masih bergulir. Yang paling terkenal sekaligus kontroversial adalah memasukkan beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Besar ke dalam wilayah administrasi Banda Aceh. Namun, adakah alternatif lain?

Berikut dua pilihan lain yang mungkin untuk dipertimbangkan.

Downtown Banda

Bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi pada sebuah kota seperti di film-film Hollywood itu biasanya adalah lokasi perkantoran. Pada hari kerja, daerah ini ramai sekali. Namun pada Sabtu dan Minggu akan sepi. Inilah yang disebut “downtown”. Adapun tempat tinggal para pekerja itu berada di daerah sekitarnya yang disebut “suburban”. Perumahan banyak dibangun di sini.

Berkaca pada sisi positif kota-kota dunia, ada baiknya Kota Banda Aceh tidak perlu diperluas ke kecamatan-kecamatan perbatasan di Aceh Besar. Fungsi ibukota provinsi ini saja yang diarahkan perlahan menjadi downtown. Pusat-pusat pemerintahan dan bisnis berada di sini. Tentu, karena luasannya tidak ditambah, konsekuensi jangka panjangnya adalah pembangunan menjadi ke atas, berupa pencakar langit.

Adapun suburban, diarahkan berada di kecamatan yang berbatasan dengan ibukota, seperti Ingin Jaya, Darul Imarah, dan Lhoknga. Daerah ini perlu dibangun dengan prinsip “smart growth”, artinya suburbanisasi ini dibatasi pada wilayah tertentu saja dengan tetap menjaga daerah pertanian yang produktif.

Konsekuensi lain, jaringan transportasi perlu didesain ulang menyesuaikan dengan arahan pemanfaatan lahan. Pasti, dengan prinsip murah, mudah, dan hemat ruang.

Dalam prakteknya saat ini, banyak warga seperti saya yang bekerja di Banda Aceh dan tinggal di Aceh Besar. It’s happening.

Kemukiman Raya

Perluasan wilayah administratif atau pengelolaan gabungan wilayah kekotaan dapat pula dipilih untuk pengembangan ibukota provinsi Aceh ke depan. Keduanya membutuhkan otoritas.

Jika Banda Aceh diperluas dengan memasukkan beberapa kecamatan Aceh Besar di perbatasan, maka otoritas tidak berubah, yakni tetap pada pemerintah kota.

Namun, jika dilakukan pengelolaan bersama antara wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, maka diperlukan otoritas gabungan (combine authority), baik yang bersifat koordinatif (badan pengelola/koordinasi) atau definitif (penambahan level pemerintahan administratif). Badan pengelola/koordinasi didesain untuk mengurus hal-hal yang bersifat teknis untuk urusan tertentu lintas kota dan kabupaten tersebut. Sedangkan pembentukan level pemerintahan baru, sayangnya, tidak dikenal dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

Sebagai penambah wawasan dalam hal otoritas gabungan, mari kita lirik Kota New York. Pemerintahan “city” (kota) ini sebenarnya adalah gabungan lima “county” (semacam kabupaten) yang merupakan level pemerintahan di bawah negara bagian. Biasanya di AS, pemerintahan county berada pada level lebih tinggi dari pemerintahan kota. Tapi, yang ini berbeda sendiri. Pemerintahan Kota New York berada di atas pemerintahan lima county itu. Artinya, terdapat level pemerintahan tambahan di bawah negara bagian dan di atas county. Hal yang mirip berlaku di Greater London, Inggris.

Di Inggris, gabungan beberapa kota bisa juga membentuk “ceremonial county” dengan otonomi tetap pada kota-kota itu. Greater Manchester adalah contohnya.

Di Aceh, level pemerintahan sedikit berbeda dengan daerah lain. Terdapat pemerintahan adat yang disebut “kemukiman”. Levelnya ada di bawah kecamatan dan di atas gampong (desa). Prinsip kemukiman sama dengan otoritas gabungan pada pengelolaan city dan county di atas sehingga bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan wilayah yang lebih luas di Aceh.

Nah, jika pengelolaan ibukota provinsi dan sekitarnya dilakukan dengan pembentukan otoritas gabungan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, maka inovasi yang mungkin dilakukan adalah menciptakan level pemerintahan adat (ceremonial county) baru di bawah provinsi dan di atas kabupaten/kota. Kita sebut saja wilayahnya dengan “kemukiman raya”. Lengkapnya, “Kemukiman Raya Bandar Aceh Darussalam.”

Posted in Opini | Leave a comment

Produktif vs Konsumtif

Saya dan seorang teman berada di sebuah bandara. Sambil menikmati desain bandara yang megah, kami memandang kagum pada sebuah layar LED yang sangat besar. Belum sempat saya menyampaikan pikiran, ia menimpali.

“Rif, kita harus berusaha agar pabrik pembuat layar itu hadir di kampung kita!”

Saya tercenung pada pikirannya yang maju itu. Adapun pikiran saya cukup kolot: kapan ya, kita bisa beli layar itu.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

KTP Virtual

Di daerah kami kartu fisik e-KTP belum tersedia. Solusinya?

Bagaimana jika dibuat saja KTP virtual. Maksudnya, setelah perekaman sidik jari dsb., warga diberi KTP hasil print biasa dan/atau gambar KTP dalam format JPG saja (lihat GarudaMiles e-card). Pengecekan NIK bisa dilakukan online (lihat cek resi pengiriman barang yang sudah lazim dewasa ini). Begitu pencarian NIK usai, tampillah KTP virtualnya yang siap diprint atau disimpan sebagai gambar.

Ini bisa dilakukan karena:
a. penggunaan e-KTP masih analog, belum digital. Maksudnya, layanan publik masih meminta fotokopinya, belum ada penggunaan alat pemindai elektronik. Alat pemindai ini pun sebenarnya hanya mengganti ketik manual NIK (lihat cara toko-toko memindai barang).
b. NIK adalah nomor identifikasi yang sudah terpadu dalam sistem kependudukan, jadi selama warga punya nomor ini, ia sudah terdata.

Jadi, kalau ada yang minta KTP, tunjukkan saja di layar hp mu :-)

#no_ribet
#no_hilang_ktp
#no_korupsi_cetak_ktp

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sistemik vs Parsial

Ayah: Bu, aku dipindah ke Meulaboh.
Ibu: Baik, Yah.
Ayah: Tapi, Bu, bagaimana mengantar sekolah anak-anak dari sana? Kan jauh dari Banda Aceh. Apa kita langganan travel saja? Beli mobil khusus antar sekolah? Sewa sopir? Galau, nih!
Ibu: Ya, nggalah. Anak-anak dipindah saja sekolahnya ke sana.
Ayah: Oo… iya…ya…

Ayah mewakili cara berpikir parsial. Sedang si Ibu berpikir secara sistemik. Banyak program pemerintah berhenti di tengah jalan karena direncanakan secara parsial. Besar diongkos dan tidak perlu. Karena itu, perencanaan yang baik dan benar perlu digiatkan. Itu dimulai dari pikiran yang sehat.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Beyond

Saya dan seorang teman berada di sebuah bandara. Sambil menikmati desain bandara yang megah, kami memandang kagum pada sebuah layar LED yang sangat besar. Belum sempat saya menyampaikan pikiran, ia menimpali.

“Rif, kita harus berusaha agar pabrik pembuat layar itu hadir di kampung kita!”

Saya tercenung pada pikirannya yang maju itu. Adapun pikiran saya cukup kolot: kapan ya, kita bisa beli layar itu.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Membantu Teman Saat Ujian

Hari itu, hari pertama aku dan teman-teman mengikuti ujian akhir, yakni Ebtanas tingkat dasar. Aku sangat bersemangat. Dengan cepat, kukerjakan semua soalnya. Begitu selesai, segera kuhampiri meja pengawas; kuletakkan kertas jawabanku; dan kulangkahkan kaki keluar ruangan.

Tiba-tiba, seseorang memanggilku. Aku menoleh. Tampak dua perempuan berbaju kurung tergopoh menuju ke arahku. Mereka adalah guruku.

“Rif, mengapa keluar begitu cepat?” tanya salah-satu dari mereka.

Dengan riang kukabarkan bahwa aku telah selesai menjawab semua soal. Ya, ada beberapa soal yang aku tak bisa, tapi aku yakin saja bahwa kali ini banyak jawabanku yang betul. Gigiku yang ompong di kiri ikut mendukung senyum lebarku.

Tapi, kedua guruku itu tidak ikut tersenyum. Wajah mereka serius. Aku jadi kikuk. Ada apa, ya? Cepat-cepat kututup mulutku.

“Kasihan teman-temanmu, Rif. Mereka bisa panik melihat ada yang sudah selesai dan keluar ruangan. Ini ujian akhir yang menentukan kelulusan,” guru yang lebih tua menjelaskan.

“Besok, walau kamu sudah siap mengerjakan soal, tunggu saja dulu hingga menjelang waktu berakhir biar temanmu tetap tenang mengerjakan ujiannya, ya.”

“Baik, Bu,” jawabku hormat.

Aku terkejut dengan teguran itu. Anak kelas enam sepertiku tak paham soal ini. Tak ada yang mengingatkanku mengenai “saling mendukung teman saat ujian” seperti itu sebelumnya. Tapi, bagiku, itu masuk akal. Alih-alih memberi jawaban ujian akhir ke murid-muridnya, guruku malah meminta hal yang cukup mudah untuk kulakukan. Esoknya, aku ikuti nasihat guruku: aku keluar terakhir.

Sejak hari itu, dukunganku pada teman-teman saat ujian kuteruskan hingga aku duduk di bangku kuliah. Bukan dengan memberi mereka contekan, tapi dengan kebersamaan menghadapi ujian hingga waktu berakhir.

Posted in Cang Panah | Leave a comment