Budget untuk But Get

Untuk ke luar negeri, DPRA dapat memanfaatkan peluang kerjasama pendidikan singkat yang ditawarkan gratis oleh negara-negara sahabat. Singapura, Inggris, Tiongkok, India, Belanda, AS, dll. memiliki program untuk pejabat publik. Sekretariat DPRA atau badan pelatihan perlu membantu mencarikan informasi diklat singkat ini. Selain itu, studi banding tentang proses dan produk legislasi dapat pula dilakukan via internet.

Adapun anggaran belanja daerah, gunakanlah untuk keperluan publik; misalnya, pembangunan rumah yang layak bagi fakir-miskin dan beasiswa S2 untuk para guru.
Ingatlah, Aceh termiskin kedua di Sumatera. Maka, pandai-pandailah membelanjakan uang yang sedikit itu untuk masa depan.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sopir Birokrat

Salah-satu pekerjaan di lingkungan birokrasi adalah sopir. Sopir diadakan tidak saja untuk mengenderai kendaraan, tapi juga untuk merawat aset moda transportasi milik negara tersebut. Mereka profesional. Sebab itu, hendaknya mereka diberi istirahat yang cukup dan jadwal kerja yang adil.

Kunjungan lapangan yang menggunakan jasa sopir kantor perlu disusun jadwalnya dengan baik dengan memperhatikan “jam jalan” (semacam “jam terbang”) mereka. Perlu dipastikan bahwa sopir memiliki waktu istirahat yang cukup. Kurang tidur atau tidur yang tidak teratur tentu akan mempengaruhi kesehatan para sopir, terutama saat usia tua nanti.  
Jadwal kerja hendaknya memperhatikan pula kepentingan diri para sopir. Jika mereka PNS, berilah kesempatan agar mereka dapat mengikuti diklat wajib kepegawaian. Apalagi, diklat seperti ini biasanya dilaksanakan pada waktu tertentu dengan peserta terbatas setiap tahun. Selain itu, berilah pula kesempatan para sopir untuk mengikuti perayaan hari besar, seperti lebaran hari pertama bersama keluarganya. Jika pun tenaga mereka sangat diperlukan bersamaan dengan masa diklat atau lebaran, buatlah penjadwalan (shift) kerja yang rapi untuk beberapa sopir.
Perilaku feodal dalam hubungan kerja atasan-bawahan tidak boleh ada dalam birokrasi modern. Karena itu, keprofesionalan para sopir di birokrasi patut dihargai tinggi. Wujudnya justru dengan peningkatan profesionalitas di kalangan birokrat-birokrat lain dalam pemanfaatan waktu, anggaran, dan staf teknis yang membantunya.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Go or No Go

Niantic kembali merilis game berbasis lokasi nyata (real world/geospatial based game), Pokemon Go (PG). Ini bukan yang pertama. Sebelumnya, perusahaan yang bermarkas di San Francisco ini telah mengeluarkan game serupa pada 14 Desember 2013. Ingress namanya. Dugaan saya, Niantic menggunakan kode pemprograman game pertamanya itu untuk membuat PG. Mungkin, karena game yang diluncurkan 6 Juli lalu itu menggunakan karakter kartun terkenal, maka ia lebih cepat diadopsi para gamer. 

Lalu, berbahayakah bermain game berbasis lokasi seperti PG? Untuk menjawabnya, Anda perlu mengingat cerita tentang orang mati karena melamun. Ya, soalnya ia melamun di tengah jalan. Nah, PG berpotensi bahaya seperti itu.

Tentu, ada sisi-sisi negatif lain atau juga yang positif yang banyak diceritakan orang belakangan ini terkait permainan berbasis geospasial. Yang jelas, ingatlah peringatan awal saat game PG dibuka: “Remember to be alert at all times. Stay aware of your surroundings.” Tidak hanya awas terhadap monster yang sedang dicari, tapi juga keadaan sekeliling Anda.


Bagaimana dengan dugaan adanya conspiracy theory, penyadapan, atau pengintaian pihak-pihak tertentu terhadap pengguna PG? Jika Anda pernah menonton film dokumenter “Citizenfour” (2014), maka tahulah kita dari Snowden bahwa itu sudah terjadi di AS sebelum ada ponsel pintar.
#game #geography

Posted in Geografi | Leave a comment

Tablet

Matangglumpang Dua, Lebaran 2016

Aku menyambangi lemari besar itu lagi. Buku-buku, album foto keluarga, dan pernak-pernik sudah lama dengan setia menemani rak-rak kokohnya. Bapak memang menyusun pustakanya dengan rapi.
Aku berkeliling melihat-lihat. Tanpa sengaja, mataku tertuju pada sebuah laci di bagian paling bawah lemari tua itu. Aku tertarik ingin mengetahui isinya.
Dengan berjongkok, aku tarik laci itu keluar. Agak berdebu di dalamnya. Sebuah map biru pucat teronggok di lapisan paling atas isi laci itu. Aku membukanya. Isinya, kertas-kertas kerja Bapak puluhan tahun lalu yang sudah menguning.
Kulihat lagi isi laci paling bawah lemari tua itu. Ada amplop besar berwarna coklat muda di urutan terbawah lapisan dokumen-dokumen itu.
“Layar kaca elektronik,” tulisan tangan khas milik Bapak tertera di salah-satu sisi amplop. Aku meraihnya. Terasa berat.
“Apakah isinya pigura foto?” gumamku penasaran. Segera kutarik keluar amplop itu dari laci yang menyembunyikannya. Lalu, kubuka penutupnya yang terikat lem. Pelan-pelan.
“Tablet!” kataku terperanjat.
Seingatku, Bapak tak pernah terlihat bekerja dengan komputer atau ponsel pintar ini. Ah, jelas saja. Mana ada barang ini dua puluh atau tiga puluh tahun lalu!
“Tapi, mengapa Bapak menuliskan “Layar kaca elektronik” di amplop yang tampaknya sengaja disembunyikan itu?” aku kebingungan. “Mungkin salah-satu adikku atau abangku ada yang menggunakan amplop itu untuk mrnyimpan tabletnya. Tapi, buat apa? Tapi, tulisan Bapak itu?” ah, kepalaku pening menghadapi rasa penasaranku ini.
Penasaranku makin menjadi. Tombol untuk menghidupkan tablet itu kutekan. Tidak terjadi apa-apa. Sepertinya benda “layar kaca elektronik” ini tidak punya daya. Aku bergegas mengambil kabel pengisi batere. Pada masa mudik serombongan begini, aku tak kesulitan menemukan pengisi daya yang cocok karena segala macam model ikut mudik bersama pemilik-pemiliknya.
Belum sampai dua menit tablet itu terhubung ke listrik, kutekan lagi tombol “ON” di kanan layarnya.
“Hidup!” pekikku keras. Tak sabar aku menunggu barang canggih itu siap dipakai. Adakah jejak-jejak data, berkas foto atau email di dalam tablet ini dapat menjelaskan siapa pemiliknya?
Sejurus kemudian layarnya tampil. Beberapa instruksi bermunculan. 

“Silahkan pilih jaringan internet Anda.” 

“Silahkan daftarkan email dan password Anda.” 
Sepertinya, tablet ini belum pernah dipakai, atau jangan-jangan ada yang mereset ulang. Tanpa pikir panjang, kukirim internet dari ponselku dan kuisi email dan password sebagaimana diminta.
Tombol “Lanjutkan” kuketuk.
Layar tablet itu berpendar. Semakin lama semakin benderang. Mataku silau. Cahayanya kuat sekali. Tak dinyana, tiba-tiba benda itu lenyap dari genggamanku!
**
Matangglumpang Dua, Lebaran 1983
Aku haus sekali. Sirup merah cap patung yang dingin itu masih utuh di depan tamu. Ia seorang kakek-kakek. Dari tadi Bapak asyik berbincang dengannya. Beberapa kali Bapak juga mempersilahkan ia minum dan mengambil kue buatan ibu. Tetap saja kakek itu tak menjamah sirup dan kue-kue lezat itu. Aku memang berharap ia tak meminum sirup itu. Aku menginginkannya.
Aku sudah tak sabar. Tapi, syukurlah, akhirnya kakek itu pamit. Dalam hitungan detik, aku menyambar cangkir jangkung itu dan berlari ke ruangan lain, bersembunyi di balik rak buku besar.
“Aahh…segarnya,” ucapku dengan senyum bahagia. Sirup merah cap patung yang dingin itu habis tanpa ampun.
Selesai memenuhi hajatku pada sirup, aku beranjak dari sudut rak buku pustaka Bapak itu. Tapi, suatu kilatan kecil menyerang pandanganku. Sebuah benda pipih sebesar buku catatan tiba-tiba teronggok di lantai tepat di hadapanku. Aku ketakutan dan berlari memanggil Bapak.
Tamat
#fiksi #cerpen #loop

Posted in Sastra | Leave a comment

Fatsoen Politik

​Mengapa orang-orang mendukung Erdogan untuk tetap memimpin negaranya? Banyak sudut pandang untuk menjawab kejadian ini. Salah-satunya adalah karena Erdogan telah dipilih secara langsung oleh rakyat sebagai presiden dalam suatu pemilu resmi.
Tidak sepatutnya pihak-pihak yang tidak satu pandangan politik dg pemimpin yg telah dipilih (elected official) itu melakukan tindakan pengambilan kekuasaan di luar cara-cara yang diatur konstitusi.Inilah fatsoen (adab) di dalam berpolitik. Tidak patut di Turki, tidak pula di negara-negara demokrasi lainnya.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Kegiatan di Birokrasi

​Kegiatan yang paling mudah di birokrasi adalah membeli barang, dan yang paling sulit adalah berpikir.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Dapur Warung

​Pemerintah Kota Banda Aceh perlu melakukan pembinaan terhadap dapur di rumah-rumah makan. Dapur-dapur itu mestilah bersih dan rapi. Alat-alat masak dan makan terjamin kebersihannya. Air yang digunakan juga layak konsumsi. Saluran pembuangan air kotor hendaknya tertata. Begitu pula, sampah basah dan kering dipilah dan dibuang dengan tepat. Berilah contoh desain dapur modern yang sederhana untuk menjalankan itu semua.
Jika pembinaan rumah makan telah berjalan baik, maka pada gilirannya, sanksi tegas dapat diberikan bagi yang membandel. 
Itulah wujud “halalan thaiyiba” dalam hal menyajikan makanan bagi warga kota di tempat-tempat umum.

Posted in Cang Panah | Leave a comment