Sirih & Apa

Kisah ini saya dengar dari ibu saya dari temannya di pasar.
Di kampung saya, ada seorang nenek penjual ranub (sirih) di pinggir jalan raya lintas provinsi. Ia punya anak lelaki yang biasa dipanggil Si Rih (dari nama Arif?). Suatu ketika, seorang bapak menghentikan mobilnya di depan lapak nenek itu. Kelihatannya pria itu sedang melakukan perjalanan jauh.
+ Ada sirih?

– Si Rih? Hana jih. Ka jiwo u rumoh siat (Bahasa Aceh, artinya “Si Rih? Tidak ada. Ia pulang ke rumah sebentar”).

+ Apa?

– Apa-apa jih ka jiwo (apa = paman, “Pamannya juga ikut pulang”).

+ ?!?!?!

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Lelaki Berparut

Saya teringat kepada cerita tentang lelaki yang berparut di wajahnya. Saya tidak ingat di mana membacanya. Entah di buku pelajaran bahasa di MIN dulu, atau di majalah Ananda, atau di majalah Bobo. 

Ceritanya inspiratif bagi saya. Begini ringkasannya.
Seorang kakek hidup sendirian di sebuah gubuk. Wajah kakek itu mengerikan. Ada parut di wajahnya. Bagian tubuh lainnya juga ada bekas luka, tapi sering tertutup baju dan celananya. Walau miskin dan buruk rupa, orang kampung menghormatinya. Ada kisah di balik parutnya itu.
Begini kisahnya.
Suatu ketika, saat malam yang pekat, kampung itu tiba-tiba heboh. Sebuah rumah terbakar hebat. 
Seorang ibu, diapit suaminya, bersimpuh di luar rumahnya yang terbakar sambil berteriak histeris, “Anakku! Anakku! Tolong selamatkan anakku!”
Orang-orang berusaha memadamkan api yang semakin berkobar. Tapi, tak ada yang berani membantu menyelamatkan anak ibu tadi yang masih terperangkap di dalam rumah.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan menerobos api panas merah menyala itu. Warga yang lain terkejut, tapi tidak bisa mencegahnya. Orang itu segera hilang di dalam rumah yang hampir ambruk itu.
Beberapa detik berlalu. Semua menunggu dengan cemas nasib pemuda nekat dan anak kecil di dalam rumah itu.
“Krak!” Terdengar suara papan yang terbakar patah. Seorang lelaki keluar dari rumah sambil menggendong seorang anak berusia dua tahunan. Pemuda itu berlari dengan cepat dan rebah di rerumputan. Anak itu selamat, tapi lelaki yang menolongnya terluka parah di wajah dan tubuhnya.
Begitulah ceritanya.
Banyak cerita pendek yang saya baca saat kecil dulu. Tapi, cerita ini yang tak pernah saya lupakan.

Posted in Kutipan | Leave a comment

​Paket Do-da-idi

Untuk meningkatkan kualitas hidup bayi di Aceh, gubernur baru nanti perlu memberi kado pada setiap bayi yang lahir. Kita sebut saja ia paket “Do-da-idi”. Isinya: kupon makanan tambahan hingga lima tahun, pakaian, selimut, dan mainan. Kotak (box) Dodaidi bisa menjadi tempat tidur bayi.
:-)

ilustrasi:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sendok

​Seorang lelaki memasuki sebuah rumah makan. Setelah semangkuk sop pesanannya diletakkan di meja, ia melihat sebentar, lalu memanggil pelayan.

+ Ada apa, Pak?

– Coba rasa sop ini.

+ Mengapa, Pak? Apa terlalu asin?

– Cicipi saja dulu.

+ Apa terlalu panas?

– Sudah, dirasa saja.

+ Apa sudah dingin?

– Ayo, cepat cicipi sop ini!
Pelayan mendekati sop itu.

+ Mana sendoknya?

– Aha!
(Eddy Murphy, 1988).

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Mandat Rakyat vs Penunjukan

Sudah semestinya aturan tentang Pj. Gubernur/Bupati/Walikota ditinjau ulang. Alasannya adalah kekuasaan atau kewenangan kepala daerah diberikan rakyat melalui pemilu langsung. Jadi, penjabat yang ditunjuk menggantikan kepala daerah tidak sepatutnya menggenggam kekuasaan yang setara dengan pejabat hasil pilihan rakyat.

Yang lebih masuk akal adalah masa jabatan seorang kepala daerah berakhir saat kepala daerah baru hasil pemilu membaca sumpah pelantikannya. Beberapa hari batas periode lima tahun terlewati tak menjadi soal dibandingkan memberi kekuasaan selama enam bulan kepada birokrat yang ditunjuk menteri (untuk Pj. Gubernur) atau gubernur (untuk Pj. Bupati/Walikota).

Aturan lain yang selaras adalah jika kepala daerah berhalangan tetap, maka ia diganti oleh wakilnya. Saat wakil yang menggantikan itu berhalangan tetap, Ketua DPRD menjadi kepala daerah, dan selanjutnya DPRD memilih ketua baru. Begitu seterusnya.

Jadi, tidak ada kekosongan jabatan kepala pemerintahan daerah dan tidak ada kepala pemerintahan yang ditunjuk dari orang yang bukan hasil pemilu.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Tiga Barometer untuk Aceh

​Calon-calon Gubernur Aceh cukup menggunakan tiga barometer untuk lima tahun ke depan, yaitu

  1. Basic Human Needs (sembako, air bersih, perumahan, ketertiban dan keamanan, dsb.).
  2. Foundations of Wellbeing (pendidikan dasar, keterbukaan informasi publik, kesehatan, dan lingkungan hidup yg terjaga, dsb.); dan
  3. Opportunity (mendapat pelayanan publik yg sama, hak bekerja di pemerintahan/swasta dg seleksi yg adil, fasilitasi akses utk menyampaikan keluhan, bantuan beasiswa utk pendidikan tinggi, dsb.).
Posted in Cang Panah | Leave a comment

Public First

Di rumah sakit, kredo yang dipegang tenaga medis adalah “patient safety first” atau “patient first”. Keselamatan pasien adalah yang utama. Segala ego profesi, baik ners, apoteker, maupun dokter, luruh di hadapan pasien. Sepatutnya, dalam layanan publik yang lebih luas, kredo serupa mestilah menancap dalam sanubari penyelenggara negara, baik lokal maupun nasional.

Kemaren, koran memberitakan lagi tentang pemindahlokasian warga di Jakarta. Tentu, selalu ada yang pro dan ada yang kontra. Apalagi memasuki masa pilkada, konflik pemanfaatan ruang ini semakin hangat dibicarakan. Tapi, seperti di singgung di atas, hasrat politik pragmatis kita haruslah luruh di depan kepentingan warga. Opini dan dukungan kita mestilah dalam lingkup kredo “public first.”

Di Aceh, orang-orang bertanya-tanya tentang dana otsus yang jumlah totalnya sebanding dengan biaya membangun tiga pencakar langit tertinggi di dunia seperti di Dubai. Adakah dana itu mampu memantik kesejahteraan orang banyak? Adakah kredo “public first” hadir dalam jiwa calon-calon peserta pilkada 2017? Sepatutnya, hasrat politik pragmatis kita selari dengan kepentingan publik.

Ingatlah kawan, “Public First!”

Posted in Opini | Leave a comment