Bungaku

​Suara kencang lonceng sekolah memecahkan keheningan pagi itu. Anak-anak yang diantar orang tuanya turun dari kendaraan dengan tergesa. Mereka tidak ingin dibariskan di depan kantor kepala sekolah. Soalnya, yang terlambat akan menjadi “pasukan kebersihan.”

“Cepat, Yah! Udah terlambat, nih!” Adi memberi aba-aba kepada ayahnya. Mereka menaiki motor butut berwarna merah keluaran tahun 1980-an. Tapi, bukan itu penyebab Adi bakal terlambat.

“Makanya, jangan bergadang melulu,” ujar ayahnya sambil membantu Adi turun dari motor.

Ini kali ketiga Adi menjadi anggota “pasukan kebersihan”. Bersama belasan teman-temannya yang lain, ia harus membersihkan halaman dan merawat tanaman di pekarangan sekolah.

“Mmm..bunga berwarna merah ini sudah layu. Kucabut saja,” gumam Adi. Tapi, matanya terpikat bunga lain sejenis yang mekar dengan indahnya tepat di samping bunga yang layu itu. Ia mengurungkan niat mencabutnya.

“Baiklah, aku akan merawatmu agar mekar seperti tetanggamu.” ujar Adi ke arah bunga layu itu.

Keesokan hari, Adi diantar ayahnya tepat waktu. Ia segera bergabung dengan teman-temannya menuju kelas. Tapi, ia ingat sesuatu.

“Bunga merah layu itu!” Adi menoleh ke arah pekarangan.

“Adi, ayo masuk! Jangan berdiri di pintu, Bu Wati memanggilnya dari dalam kelas.

“Ah, aku tidak bisa merawatmu hari ini, kawan,” gumam Adi sedih.

Pagi berikutnya, Adi tiba lima menit sebelum batas waktu masuk sekolah. Tapi, ia tidak langsung menuju gerbang. Ia berdiri saja di dekatnya.

“Ting..teng…ting…teng!” suara kencang lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak yang baru tiba berlarian menuju gerbang. Adi masih berdiri di tempatnya.

Beberapa saat kemudian, Adi melangkah menuju barisan depan kantor kepala sekolah. Ia menoleh ke arah pekarangan, tepat ke bunga merah yang layu itu.***
#cerpen

Posted in Sastra | Leave a comment

Pilpres AS (Belum) Usai

Berbeda dengan kita di Indonesia, rakyat Amerika Serikat tidak memilih langsung presidennya. Pemilu Presiden AS diselenggarakan untuk memilih 538 orang wakil yang akan duduk dalam lembaga pemilihan presiden yang dinamai Electoral College (EC). Merekalah yang pada tanggal 19 Desember 2016 (hari Senin pertama setelah hari Rabu kedua dalam bulan Desember tahun pemilu) nanti bersidang untuk memilih presiden.

Menurut Konstitusi AS, EC berwenang memilih siapapun dari calon resmi presiden yang diajukan partai. Ya, Hillary dapat dipilih menjadi presiden walau hasil pilpres kemarin menempatkan 306 orang (56,88%) dari Partai Republik di EC. Apalagi, capres Demokrat itu memang lebih banyak dipilih oleh rakyat secara nasional (popular vote).

Konstitusi AS mengatur pula dua kemungkinan saat terjadi perubahan hasil pilpres akibat perubahan pilihan oleh anggota EC (faithless elector). Pertama, jika tidak ada pasangan pilihan EC yang mendapat suara terbanyak (seri), maka DPR yang akan memilih presiden dan Senat yang memilih wapres. Kedua, jika satu saja anggota DPR atau Senator menolak keputusan EC saat Sidang Umum Kongres (kali ini jatuh pada tanggal 6 Januari 2017), maka perubahan pilihan satu atau beberapa anggota EC itu diabaikan. Penjabat “Secretary of State” negara bagian asal anggota EC tersebut yang kemudian memilih pasangan calon.

Sistem “check and balance” yang berlapis dlm tata negara AS memungkinkan Presiden terpilih bukan yang berkampanye kemaren. Jika pemilihan diambil alih Kongres, calon baru bisa dimunculkan.

Dari pengalaman 57 kali pilpres sejak AS berdiri, kemungkinan di atas sulit terjadi karena biasanya keputusan anggota EC sama dengan partainya. Hanya sedikit yang berani berubah pikiran. Kini, sebanyak 29 negara bagian mewajibkan calon wakil mereka di EC menandatangani pernyataan (Certificate of Vote) untuk memilih pasangan tertentu. Karena itulah, pemenang pilpres AS dapat diketahui dari perolehan kursi di EC. Dengan kursi mayoritas yang dimiliki partainya, Trump yang kontroversial itu bisa dipastikan akan menjadi Presiden AS ke-45.

Umumnya, hasil pemilihan Presiden AS melalui EC sama dengan “popular vote”. Tapi, ini kali keempat terjadi perbedaan. Dari sebab itu, sejak 2006 diberlakukan aturan National Popular Vote (NPV) di beberapa negara bagian tanpa perlu mengamandemen Konstitusi. NPV mengatur agar pilihan wakil suatu negara bagian di EC seiya-sekata dengan pilihan rakyat secara nasional. Hingga 2016, baru 11 negara bagian yang mengadopsi ketentuan ini dengan total 165 kursi di EC. Diperlukan minimal 105 kursi lagi agar “popular vote” automatis menjadi penentu pemenang pilpres.

Di atas semua itu, dengan mengingat bahwa EC dirancang para pendiri negara untuk memastikan Presiden AS terpilih adalah yang benar-benar layak dan mampu melindungi Konstitusi, akankah kali ini mereka mengubah pilihannya?

Berita terkait:

Hasil Pilpres AS.

Ada dugaan kecurangan Pilpres, Obama perintahkan investigasi.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sirih & Apa

Kisah ini saya dengar dari ibu saya dari temannya di pasar.
Di kampung saya, ada seorang nenek penjual ranub (sirih) di pinggir jalan raya lintas provinsi. Ia punya anak lelaki yang biasa dipanggil Si Rih (dari nama Arif?). Suatu ketika, seorang bapak menghentikan mobilnya di depan lapak nenek itu. Kelihatannya pria itu sedang melakukan perjalanan jauh.
+ Ada sirih?

– Si Rih? Hana jih. Ka jiwo u rumoh siat (Bahasa Aceh, artinya “Si Rih? Tidak ada. Ia pulang ke rumah sebentar”).

+ Apa?

– Apa-apa jih ka jiwo (apa = paman, “Pamannya juga ikut pulang”).

+ ?!?!?!

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Lelaki Berparut

Saya teringat kepada cerita tentang lelaki yang berparut di wajahnya. Saya tidak ingat di mana membacanya. Entah di buku pelajaran bahasa di MIN dulu, atau di majalah Ananda, atau di majalah Bobo. 

Ceritanya inspiratif bagi saya. Begini ringkasannya.
Seorang kakek hidup sendirian di sebuah gubuk. Wajah kakek itu mengerikan. Ada parut di wajahnya. Bagian tubuh lainnya juga ada bekas luka, tapi sering tertutup baju dan celananya. Walau miskin dan buruk rupa, orang kampung menghormatinya. Ada kisah di balik parutnya itu.
Begini kisahnya.
Suatu ketika, saat malam yang pekat, kampung itu tiba-tiba heboh. Sebuah rumah terbakar hebat. 
Seorang ibu, diapit suaminya, bersimpuh di luar rumahnya yang terbakar sambil berteriak histeris, “Anakku! Anakku! Tolong selamatkan anakku!”
Orang-orang berusaha memadamkan api yang semakin berkobar. Tapi, tak ada yang berani membantu menyelamatkan anak ibu tadi yang masih terperangkap di dalam rumah.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan menerobos api panas merah menyala itu. Warga yang lain terkejut, tapi tidak bisa mencegahnya. Orang itu segera hilang di dalam rumah yang hampir ambruk itu.
Beberapa detik berlalu. Semua menunggu dengan cemas nasib pemuda nekat dan anak kecil di dalam rumah itu.
“Krak!” Terdengar suara papan yang terbakar patah. Seorang lelaki keluar dari rumah sambil menggendong seorang anak berusia dua tahunan. Pemuda itu berlari dengan cepat dan rebah di rerumputan. Anak itu selamat, tapi lelaki yang menolongnya terluka parah di wajah dan tubuhnya.
Begitulah ceritanya.
Banyak cerita pendek yang saya baca saat kecil dulu. Tapi, cerita ini yang tak pernah saya lupakan.

Posted in Kutipan | Leave a comment

​Paket Do-da-idi

Untuk meningkatkan kualitas hidup bayi di Aceh, gubernur baru nanti perlu memberi kado pada setiap bayi yang lahir. Kita sebut saja ia paket “Do-da-idi”. Isinya: kupon makanan tambahan hingga lima tahun, pakaian, selimut, dan mainan. Kotak (box) Dodaidi bisa menjadi tempat tidur bayi.
:-)

ilustrasi:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sendok

​Seorang lelaki memasuki sebuah rumah makan. Setelah semangkuk sop pesanannya diletakkan di meja, ia melihat sebentar, lalu memanggil pelayan.

+ Ada apa, Pak?

– Coba rasa sop ini.

+ Mengapa, Pak? Apa terlalu asin?

– Cicipi saja dulu.

+ Apa terlalu panas?

– Sudah, dirasa saja.

+ Apa sudah dingin?

– Ayo, cepat cicipi sop ini!
Pelayan mendekati sop itu.

+ Mana sendoknya?

– Aha!
(Eddy Murphy, 1988).

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Mandat Rakyat vs Penunjukan

Sudah semestinya aturan tentang Pj. Gubernur/Bupati/Walikota ditinjau ulang. Alasannya adalah kekuasaan atau kewenangan kepala daerah diberikan rakyat melalui pemilu langsung. Jadi, penjabat yang ditunjuk menggantikan kepala daerah tidak sepatutnya menggenggam kekuasaan yang setara dengan pejabat hasil pilihan rakyat.

Yang lebih masuk akal adalah masa jabatan seorang kepala daerah berakhir saat kepala daerah baru hasil pemilu membaca sumpah pelantikannya. Beberapa hari batas periode lima tahun terlewati tak menjadi soal dibandingkan memberi kekuasaan selama enam bulan kepada birokrat yang ditunjuk menteri (untuk Pj. Gubernur) atau gubernur (untuk Pj. Bupati/Walikota).

Aturan lain yang selaras adalah jika kepala daerah berhalangan tetap, maka ia diganti oleh wakilnya. Saat wakil yang menggantikan itu berhalangan tetap, Ketua DPRD menjadi kepala daerah, dan selanjutnya DPRD memilih ketua baru. Begitu seterusnya.

Jadi, tidak ada kekosongan jabatan kepala pemerintahan daerah dan tidak ada kepala pemerintahan yang ditunjuk dari orang yang bukan hasil pemilu.

Posted in Cang Panah | Leave a comment