Dinamisasi Tiongkok

Sidang Umum Kongres Rakyat Nasional Tiongkok dimulai kemaren. Rencananya, mereka akan mengubah konstitusi mengikuti perkembangan terkini dan harapan masa depan Negeri Atas Angin itu.

Secara khusus, hal yang paling disorot media barat adalah tentang rencana perubahan masa jabatan Presiden Tiongkok dari maksimal dua priode saja menjadi tak terbatas. Ini membuat dunia internasional khawatir akan masa depan demokrasi negara berpenduduk 1,4 milyar jiwa itu. Soalnya, satu orang menduduki tiga puncak kekuasaan secara bersamaan: pemerintahan sipil, militer, dan partai berkuasa tunggal. Tak heran, secara informal presiden di sana disebut “Paramount Leader”.

Namun demikian, amandemen konstitusi Tiongkok tahun 2018 tidak hanya soal masa jabatan presiden. Tiga ribu anggota parlemen dari Partai Komunis dan 18 partai/golongan lain bersepakat bahwa pemberantasan korupsi amat penting bagi kemajuan negerinya. Karena itu, Sidang Umum kali ini juga akan menaikkan derajat institusi antirasuah (semacam KPK) lebih tinggi dengan memasukkannya dalam konstitusi. Alhasil, presiden sekalipun bisa dipidana jika korup.

Secara umum, Tiongkok memanfaatkan sidang parlemennya kali ini untuk menjawab kebutuhan masa depannya dengan tetap menerapkan mazhab ekonomi campuran. Sistem yang disebut “ekonomi pasar sosialis” ini menggabungkan “invisible hand” pasar bebas dan “visible hand” negara. Walau dianggap berhasil memajukan Tiongkok, perbaikan sistem secara keseluruhan terus dilakukan.

Dalam prakteknya, ekonomi Tiongkok digerakkan oleh “3-in-1”: pemerintah pusat, daerah, dan swasta. Pusat membuat rencana strategis jangka panjang/menengah dan menjaga stabilitas politik. Adapun daerah-daerah saling bersaing dalam upaya menarik minat dunia usaha melalui deregulasi, pemanfaatan lahan, dan pajak yang kompetitif. Sedangkan swasta menjadi penggerak ekonomi yang sesungguhnya.

Perkembangan dunia yang berubah cepat mengharuskan Tiongkok bergerak dinamis pula. Ini adalah konsekuensi logis dari filosofi harmoni dan keseimbangan yang sudah dianutnya ribuan tahun. Amandemen konstitusi yang kelima pada Maret ini menunjukkan kedinamisan negeri itu menuju masa depan.

Advertisements
Posted in Opini | Leave a comment

Awal dan Akhir

Jika kita melihat cahaya bintang di langit, bisa jadi kita sedang melihat masa lalu. Cahaya matahari, misalnya, adalah cahaya delapan menit yang lalu yang dipancarkannya. Dengan kata lain, dibutuhkan delapan menit bagi cahaya matahari untuk sampai di Bumi.

Seberapa cepat cahaya bergerak? Bayangkan saja Anda menaiki wahana berkecepatan cahaya untuk mengelilingi Bumi. Cukup satu detik terbang, Anda sudah mengelilinginya 7,5 kali.

Matahari, Bumi, Bulan, Mars, dan planet lain berada dalam satu himpunan benda-benda langit yang disebut Galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy). Gugusan bintang ini berbentuk pipih seperti cakram dengan diameter 100 ribu tahun cahaya. Jadi, dibutuhkan waktu sebesar itu untuk menjelajahinya dari tepi ke tepi dengan kecepatan cahaya.

Galaksi tetangga kita bernama Andromeda. Jaraknya dari Bima Sakti adalah 2,5 juta tahun cahaya. Boleh jadi, jika Anda melihat satu titik cahaya di langit, itu adalah kerlip bintang dari 2,5 juta tahun yang lalu.

Bintang yang tampak kini dan amat jauh jaraknya dari Bumi mungkin sudah hancur dan hilang dari ruang angkasa. Maksudnya, jika Anda berada di lokasi bintang itu dalam sekedip mata saat ini, Anda mungkin hanya melihat ruang kosong, sepi, dan gelap di sana. Katakanlah, salah-satu bintang di Andromeda telah hancur 500 ribu tahun yang lalu, maka sisa cahaya terakhirnya akan terus tampak di bumi hingga 2 juta tahun lagi.

Salah-satu teori pembentukan alam semesta adalah Teori Dentuman Besar (the Big Bang Theory). Menurut perkiraan ahli, dentuman terjadi 13,8 milyar tahun yang lalu. Sejak itu, materi menyebar semakin luas dan jauh ke segala penjuru ruang seiring waktu. Dalam perkembangannya, lahirlah planet, bintang, dan galaksi tadi.

Dengan informasi seperti di atas, mari kita berandai-andai secara awam. Jika sebuah granat dilempar ke udara dan meledak, maka granat itu akan terburai dan hilang dari pandangan hanya dalam beberapa milidetik saja. Meledak, menyebar, lalu hilang. Jika urutan itu berlaku untuk Big Bang di alam semesta (cosmos), maka sesungguhnya kiamat sudah, sedang, dan akan terjadi sejak dentuman 13,8 milyar tahun lalu.

Mungkin saja saat Anda membaca ini, ada galaksi yang lebih dekat dengan sumber dentuman besar dan berjarak 99 juta tahun cahaya dari Bumi sedang meledak dan kemudian lenyap. Bintang-bintang itu telah menemui kiamatnya hari ini. Bumi dan sisa alam semesta lain tinggal menunggu waktunya.

Kerlap-kerlip bintang dari masa lalu menuntun kita ke masa depan. Cahaya-cahaya itu menerangi rasa ingin tahu kita tentang awal dan akhir jagat raya. Boleh jadi, Big Bang adalah awal dan akhir alam semesta sekaligus.

Posted in Geografi | Leave a comment

U Muda

Bak uroe tarek lage nyoe tutong
Palenglah mangat taplah u muda
Bek tuwo sagai sirop cap patong
Saboh glah mantong pih ka meumada

Posted in Sastra | Leave a comment

Anggaran Tanpa Deadlock

RAPBD harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, RKPD, KUA dan PPAS, serta RPJMD periode yang berjalan (UU 17/2003).

Jika RAPBD tak disetujui DPRD atau Mendagri, maka kepala daerah menetapkan Perkada. Pagunya maksimal sebesar APBD tahun lalu (UU 23/2014). Program/kegiatan yang dianggarkan tetap berpatron pada RPJMD periode yang berjalan.

RPJMD bukan saja berdasar kesepakatan politik dan janji kampanye, tapi juga memperhatikan kajian teknokrat, peraturan yg lebih tinggi, dan aspirasi masyarakat.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Mewarnai Masa Lalu

Pose orang tempo doeloe saat dipotret selalu enak dilihat.

Foto hitam-putih orang Aceh ini adalah koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (Museum Kebudayaan Dunia), Belanda ( http://collectie.wereldculturen.nl/Default.aspx?ccid=6286&lang= )

Agar lebih hidup, saya menggunakan aplikasi di colorize-it.com untuk mewarnainya.

Posted in Geografi | Leave a comment

Emoh

Di masa-masa awal tinggal di Jogja, saya menghadiri ceramah di masjid dekat kos. Ceramah disampaikan dalam dwibahasa, Indonesia dan Jawa. Salah-satu isi ceramah yang saya ingat adalah soal kenakalan anak-anak.

“Anak-anak zaman sekarang sudah kebanyakan minum susu sapi,” ucap sang penceramah, “makanya, kalau diminta belajar, jawabnya ’emmoooh’, disuruh ngaji, ’emmooooh’….”

Kami tertawa lepas.

*emoh=ogah=tidak mau.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

TV untuk Anak

Stasiun tv perlu menyumbang sekian persen keuntungan dan waktu siarannya untuk acara pendidikan dan hiburan anak yang berkualitas. Dana ini akan menyokong rumah-rumah produksi membuat acara yang bagus dan selalu tayang tanpa perlu takut dibatalkan karena rating rendah.

Posted in Cang Panah | Leave a comment