Isra’ Mi’raj

di tiap isra’
kuperhatikan
peranku bagi
duniaku
kosong nilainya

di tiap mi’raj
kuperhatikan
sujudku bagi
akhiratku
hampa terasa

maka di tiap
isra’ dan mi’raj
cukuplah
kutimbang
amal dan imanku
yang tak seberapa itu
dalam sisa waktu
dunia ini
sampai hayat
menggapai
akhirat

Posted in Al-Furqan, Sastra | Leave a comment

usai itu

dan jika kemenangan
sudah berbinar di mata
pujilah Ia semata
atas karunia untuk semua

dan jika yang didamba
sudah jelas tertera
mintalah ampun segera
atas khilaf pada sesama

usai itu,
lakukanlah yang diucapkan
ucapkanlah yang dilakukan

semua dari-Nya
kembali pada-Nya

Posted in Sastra | Leave a comment

ajari aku

manakala
kulafalkan
ihdinas shirathal mustaqiim
kubuka pintu
akal budiku
hati yakinku
agar kupaham
cara merengkuh
sayang-Mu

dan manakala
kulafalkan tanya
apakah ini, bagaimanakah itu
kubuka pintu
akal budiku
hati yakinku
agar kupaham
cara menyebar
sayang-Nya

Posted in Sastra | Leave a comment

Pengelolaan & Pengusahaan KEKAL

Setelah Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2017 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe (KEKAL) diterbitkan, sepertinya muncul silang pendapat soal pengelolaannya dalam beberapa pemberitaan. Yang sering disebut adalah bahwa yang berkuasa penuh terhadap semua kegiatan dalam KEKAL adalah perusahaan pengelolanya. Tapi, apa benar begitu? Apa sebenarnya pengelolaan KEK itu? Apa bisnis yang direncanakan di KEKAL?

Pengelolaan KEKAL

Mari kita mulai pemahaman soal pengelolaan KEKAL dengan memahami terlebih dahulu mekanisme pengusulan dan pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sesuai UU 39/2009.

Jika sehamparan lahan (min. 500 Ha) hendak dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), maka pemerintah pusat (kementerian/lembaga), pemrov, pemkab/kota, atau badan usaha dapat mengusulkannya ke Dewan Nasional KEK. Sebagai pengusul, badan usaha ini harus sehat keuangannya selama tiga tahun berturut-turut.

Pengelolaan KEK terdiri dari dua bidang kerja, yaitu perizinan dan pengelolaan fisik kawasan. Kedua bidang ini tunduk di bawah kendali Dewan Kawasan yang dipimpin Gubernur.

Urusan perizinan berada di tangan pemerintah daerah melalui lembaga Administrator yang dibentuk Dewan Kawasan. Instansi ini yang memberi izin dan mengendalikan semua kegiatan usaha dalam kawasan.

Urusan pengelolaan fisik kawasan dikerjakan oleh badan pengelola (manajer kawasan) dengan lingkup pekerjaan, jangka waktu, standar kinerja pelayanan, dan sanksi tertentu. Lingkup kerja badan pengelola antara lain adalah menyediakan kapling untuk investor (tenant), menyalurkan listrik, mengelola limbah dan sampah, menyediakan air bersih, dan melakukan pemeliharaan infrastruktur dalam kawasan.

Apabila pemerintah yang mengusulkan KEK, maka badan pengelolanya harus dilelang. Sedangkan jika badan usaha yang menjadi pengusulnya, maka ia dapat ditunjuk langsung sebagai pengelola KEK.

Jadi, pengelolaan KEK telah mempertimbangkan prinsip otonomi daerah dalam hal perizinan dan pengendalian, serta prinsip good corporate governance bagi badan pengelola.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami tentang pengelolaan KEKAL sebagai berikut.

Pertama, Dewan Kawasan terdiri dari Gubernur Aceh sebagai ketua, serta Walikota Lhokseumawe dan Bupati Aceh Utara sebagai anggota. Dewan Kawasan ini membentuk Administrator untuk melaksanakan urusan perizinan dan pengendalian semua kegiatan KEKAL.

Kedua, konsorsium yang terdiri dari PT. Pertamina, PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Pelindo I, dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) bertindak sebagai pengusul. Karena itu, mereka dapat membentuk perusahaan patungan untuk menjadi badan pengelola KEKAL. Badan pengelola ini tunduk pada kebijakan Dewan Kawasan.

Pengusahaan KEKAL

Setelah KEKAL terbentuk, berbagai kegiatan bisnis terbuka untuk dikembangkan di kawasan yang berada dalam wilayah administrasi Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara ini. Diharapkan, akan terjadi multiplier effect terhadap kegiatan perekonomian di daerah sekitar.

Kegiatan bisnis di KEKAL terdiri dari berbagai sektor yang secara spasial ditempatkan dalam beberapa zona, yaitu Zona Pengolahan Ekspor, Zona Logistik, Zona Industri, Zona Energi, dan Zona Pariwisata. Dari sini konsorsium merancang pengusahaan KEKAL di masa mendatang.

Bisnis pertama yang terbuka untuk badan usaha pengusul KEK adalah pengelolaan kawasan. Untuk itu, konsorsium tiga BUMN dan satu BUMD yang tersebut di atas perlu membentuk badan pengelola kawasan. PDPA dapat memiliki saham mayoritas di dalamnya. Perusahaan baru ini yang akan melayani kebutuhan harian perusahaan lain (tenant) yang berinvestasi di KEKAL. Pengelolaan KEKAL yang profesional dapat memberi kenyamanan tenant dan 40 ribu tenaga kerja yang diperkirakan akan terserap di sana.

Bisnis selanjutnya yang berpeluang dilakukan anggota konsorsium di KEKAL adalah sesuai dengan usaha utama (core business) masing-masing perusahaan, baik yang berlangsung saat ini (existing project) maupun rencana usaha baru (potential project). PT. Pertamina akan menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendukung dalam rangka mengembangkan industri sektor energi (minyak dan gas), yaitu regasifikasi LNG, LNG hub/trading, LPG hub/trading, dan mini LNG Plant (PLTG) dengan pengembangan pembangkit listrik yang ramah lingkungan (clean energy solution provider).

Adapun PT. PIM, bekerjasama dengan PT. AAF dan PT. Pupuk Indonesia Group, akan mengembangkan kluster industri petrokimia yang ramah lingkungan. Sembilan pabrik baru di areal PT. PIM dan PT. AAF (Dalam Liquidasi) akan dibangun, di antaranya pabrik NPK, pupuk ZA, ammonium sulfat, asam sulfat, asam posfat, dan purified gypsum.

Sementara itu, PT. Pelindo I akan mengembangkan logistik terpadu untuk mendukung kebutuhan industri migas, petrokimia, dan agroindustri dengan meningkatkan infrastruktur pelabuhan dan dermaga berstandar internasional.

Sedangkan PDPA akan mengembangkan agroindustri untuk mengolah hasil-hasil pertanian, perikanan, dan perkebunan. Dari 2.622,48 Ha luas total kawasan, sekitar 270 Ha di antaranya disiapkan untuk sektor ini. Agroindustrilah yang menjadi pembeda antara bisnis dalam kawasan petro dollar Lhokseumawe era 1970 s.d. 1990-an dengan KEKAL. Usaha ini diharapkan memberi kontribusi dalam peningkatan nilai tambah bagi pelaku agrobisnis di Aceh.

Peluang bisnis lain yang ditawarkan di KEKAL adalah industri pengolahan yang selaras dengan bisnis anggota konsorsium. Perusahaan-perusahaan lokal dan asing dapat menjadi penyewa lahan (tenant) dan membuka pabrik di sana. Ini berbarengan dengan revitalisasi PT. KKA yang memproduksi kertas semen dan listrik untuk PLN. PLN sendiri juga menjadi salah-satu tenant dengan membangun pembangkit listrik berdaya 184 MW dan 250 MW.

Guna memenuhi kebutuhan seluruh aktifitas industri di KEKAL, sumber pasokan bahan bakunya (hinterland) nanti tidak saja dari Aceh sendiri, tapi juga dari daerah dan negara lain (global value chain). Tentu, ini memerlukan konektifitas yang baik dengan dukungan transportasi multimoda.

Selain bisnis yang disebutkan di atas, KEKAL juga memiliki zona pariwisata di sekitar Pelabuhan Krueng Geukuh. Peluang bisnis kuliner, wisata air, dan atraksi (amusement park) terbuka untuk dikembangkan di sana.

Diproyeksikan bahwa kegiatan ekonomi multisektor yang berkelanjutan di dalam dan luar KEKAL akan meningkatkan PAD dan PDRB Aceh, terutama untuk Lhokseumawe dan Aceh Utara.***

Literatur:

Posted in Opini | Leave a comment

PP KEKAL Perlu Diubah?

Ada berita ttg munculnya usulan untuk mengubah PP 5/2017 tentang KEK Arun Lhokseumawe (KEKAL) agar posisi tawar pemda meningkat.

Apa PP 5/2017 perlu diubah?

Jawaban pendek:
Tidak.

Jawaban panjang:
Semua PP tentang KEK hanya memuat nama KEK, luas, lokasi, dan zonasinya. Aturan ttg pembangunan dan pengelolaannya mengikuti UU KEK dan turunannya. Jadi, PP KEKAL tidak perlu diubah kecuali ada perubahan keempat hal tersebut.

Selain itu, pengusulan oleh pemerintah (kementerian/pemprov/pemkab) tidak serta-merta membuatnya bebas menunjuk badan usaha pembangunan dan pengelolaan KEKAL. Ada aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang harus ditaati, sehingga pekerjaan ini harus dilelang. Jika dilelang, BUMD memiliki peluang lebih kecil dibanding perusahaan lain untuk menjadi badan pengelola.

Padahal, dengan PP 5/2017 yang saat ini berlaku, Gubernur Aceh, Bupati Aceh Utara, dan Walikota Lhokseumawe yang duduk dalam Dewan Kawasan KEKAL dapat:

  • membatasi jangka waktu dan bidang kerja badan pengelola yg dibentuk konsorsium;
  • mendukung BUMD yg ada dalam konsorsium untuk meningkatkan kepemilikan saham pada badan pengelola itu sesuai kemampuan daerah;
  • memilih badan pengelola lain (melalui proses pelelangan) jika jangka waktu kerjanya usai;
  • mengatur perizinan dan mengendalikan semua usaha dalam kawasan.

Lagi pula, kalau pengusulan hendak diubah dari badan usaha (konsorsium) ke pemprov, maka PP 5/2017 kemungkinan perlu dibatalkan dulu. Lalu, proses pengusulan terpaksa diulang dari awal.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak perlu mengubah PP atau mengubah pengusul KEKAL agar pemda lebih punya posisi tawar di sana. You already have the power. Use it wisely.

Posted in Geografi | Leave a comment

Mengubah Haluan

Kapten Angkatan Laut AS, David Marquet, mendapat tugas menahkodai Kapal Selam Santa Fe. Kapal perang bersenjata nuklir ini berteknologi lawas dan termasuk paling rendah prestasinya dibanding armada yang lain. Kapten sebelumnya telah mengundurkan diri. Entahlah, apakah ini tugas buangan bagi Marquet atau cuma rotasi biasa.

Pada suatu sesi latihan, Kapt. Marquet memerintahkan Letnan bawahannya mengubah daya kendali nuklir ke angka tertentu. Letnan segera memerintahkan Kopral melakukannya.

“Siap, laksanakan!” ucap Kopral. Namun, tidak ada perubahan pada layar monitor.

“Kenapa tidak ada perubahan?”
“Siap Kapten! Tidak tersedia angka yang diminta pada sistem kapal ini, Pak,” jawab Kopral.
“Kamu tahu hal ini sejak awal, Letnan?
“Tahu, Kapten!”
“Lalu, kenapa kamu perintahkan juga?”
“Karena Kapten memerintahkannya.”

Marquet tercenung. Ia tahu, militer bekerja seperti ini. Semua kru kapal bergerak atas perintahnya. Tidak ada yang keliru. Tapi, kejadian tadi tidak masuk akal dan sangat berbahaya dalam satu pertempuran.

Marquet lalu membuat kebijakan baru: setiap kru Kapal Santa Fe dapat langsung memutuskan aksinya sesuai bidang tugasnya dengan syarat aman dan tepat untuk dilakukan. Mereka tidak lagi meminta izin pada kapten, tapi cukup menyampaikan apa yang akan dilakukannya.denan syarat aman dan benar . Misalnya, kru mesin bisa langsung mengganti oli mesin kapal jika menurut data teknis memang sudah layak diganti. Tentu, Letnan dan Kopral tadi sudah bisa memberi informasi yang benar kepada Kapten jika ada sebuah misi.

Kebijakan Kapt. Marquet benar-benar baru. Rantai komando begini tidak diajarkan di akademi AL. Ia mengubah haluan. Namun, akibatnya adalah bahwa setiap kru memiliki rasa tanggung jawab terhadap kapal. Ini membuat mereka berpikir, bukan hanya menjadi wayang.

Alhasil, setelah 12 bulan beroperasi tanpa mengganti satu pun personilnya, Kapal Selam Sante Fe meraih predikat terbaik satuan armada AS. Bukan hanya untuk tahun itu, tapi terbaik sepanjang sejarah AL AS.

Simak ilustrasi kepemimpinan ala David Marquet berikut.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Cok Silop

Cok silop terdiri dari kata “cok” (ambil) dan “silop” (sandal). Idiom Aceh ini bermakna “melarikan diri; mundur; atau walk out”.

Penyanyi lokal, Bergek, ikut mempopulerkan istilah cok silop lewat lagu komedinya yang bertajuk “Cok Silop” walau dalam pengertian harfiah, yakni mengambil sandal untuk bepergian.

Cok silop kerap menjadi exit strategy para intelektual manakala ruang aktualisasinya terhambat situasi sosial politik di kampung halamannya. Belajar di luar negeri atau daerah lain kadang menjadi pilihan.

Belakangan, #coksilop menjadi trending topic di kalangan politikus lokal. Namanya politikus, jadi ya gitu, deh!

Cok silop boleh saja, kalau ada perlunya. Pergi beberapa lama untuk meraih ilmu, menata diri, mencari pengalaman, atau memperbaiki taraf hidup adalah contoh alasan cok silop yang positif.

Di sisi lain, janganlah sampai cok silop jika tiada artinya. Lari dari tanggung jawab, tak peduli lagi pada kepentingan bersama, berputus asa, atau menyerah kalah pada kejahiliyahan adalah contoh alasan cok silop yang negatif.

Apapun alasannya, jangan sampai cok silop orang lain.

Posted in Cang Panah | Leave a comment