Layanan Peta Publik

​Setidaknya, ada empat menu yang perlu disediakan di website pemerintah yang melayani peta publik.

Pertama, peta interaktif. Peta ini menggunakan aplikasi web GIS. Pengunjung dapat memilih tema infomasi yang ingin ditampilkan. Biasanya, informasi ini ditumpangsusunkan (overlay) dengan data dasar, seperti peta topografi atau citra satelit.

Kedua, peta dalam format PDF. Instansi yang melayani peta mendesain peta tematik siap pakai yang didistribusikan secara elektronik (daring). Pengunjung tinggal menggunduhnya, dan jika perlu, dapat mencetaknya sendiri.

Ketiga, data GIS. Data dalam format mentah ini (shapefile) dapat digunakan oleh para ahli, mahasiswa, atau konsultan untuk melakukan analisis lanjutan yang tidak tersedia dalam peta interaktif dan PDF.

Terakhir, peta cetak (hardcopy). Pengunjung dapat memesan peta yang diinginkan dengan membayar retribusi. Peta dapat dikirim via pos ke alamat pemesan atau diambil langsung di kantor layanan.

Layanan lain tentu terbuka untuk diberikan sedemikian sehingga publik merasakan manfaat peta untuk perencanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan di tempat tinggalnya.

Contoh:

Layanan peta di Kota Georgetown, Texas.

Posted in Geografi | Leave a comment

​Waktu untuk Cerita

Dari dunia sinetron diberitakan bahwa Netflix membuat gaya baru dalam bercerita. Penyampaian cerita tidak lagi sepenggal-sepenggal atau bersambung dalam banyak seri, tapi utuh dalam satu film.

Jika biasanya satu film serial berdurasi 25, 45, atau 90 menit, maka Netflix membuatnya menjadi tiga, 10, hingga 60 jam sesuai dengan kebutuhan hingga cerita tamat. Film “Strange Things” (2016) misalnya, berdurasi sekitar delapan jam. Tentu, teknis penayangannya dibatasi perjam atau kurang dari itu. Serupa (dengan sinetron biasa), tapi tak sama.

Gaya Netflix ini membuat kualitas tontonan terjaga. Sinetron tidak dipanjang-panjangkan untuk menggaet pariwara, atau dituturkan secara terburu-buru karena slot tayang terbatas.

Sebenarnya, ini bukan hal baru. TVRI dulu sudah memulainya dengan gaya bercerita a la sinetron “Siti Nurbaya” atau “Sengsara Membawa Nikmat” (berdurasi lima jam).

Jadi, wahai para sineas dan produser, berilah waktu untuk sebuah cerita. Tak kurang dan tak lebih.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

​Siaran Digital

Era digital sepertinya akan merambah ke radio. Setelah AM dan FM, dunia perlu bersiap menerima sinyal DAB (Digital Audio Broadcasting) yang memiliki kualitas suara yang lebih jernih. Di tahun 2017, Norwegia berencana menghapus sinyal FM sama-sekali dari udaranya dan menggantinya dengan DAB.

Sebelumnya, beberapa negara telah memulai berpindah dari siaran analog televisi ke Digital Video Broadcasting (DVB). Indonesia sudah memasuki era digital televisi ini. Direncanakan, semua stasiun televisi tanah air akan mengudara secara digital pada tahun 2018. Saat ini di Banda Aceh, siaran empat saluran TVRI sudah menyebar lewat teknologi baru ini dan dapat ditangkap antena yang bertanda “DVB”.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Tiga Biang

​Saya meyakini bahwa korupsi dengan segala macam turunannya membuat Aceh miskin.

Saya meyakini bahwa tanpa meritokrasi, Aceh akan sangat lambat berbenah, tertinggal ribuan langkah dari daerah lain.

Saya meyakini bahwa tanpa niat untuk kemajuan bersama, maka kemajuan bersama itu takkan ada.
Saya berharap semua cagub Aceh memiliki keyakinan yang sama seperti itu. Baru kemudian kita bicara program kerja.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Kembali Pada-Mu

​Aku hidup
untuk keempat kalinya

Gempa sungguh
Aku bersimpuh
Hidupku yang pertama usai

Air bergemuruh
Aku berpeluh
Hidupku yang kedua usai

Jalanan riuh
Keretaku luluh
Hidupku yang ketiga usai

Aku hidup
untuk keempat kalinya

Buat apa?
Agar pongah?
Agar bertingkah?
Agar gagah?
Agar tengadah?
Agar bertuah?

Aku hidup
untuk keempat kalinya

Agar aku kembali
ke jalan Allah

Posted in Sastra | Leave a comment

Bungaku

​Suara kencang lonceng sekolah memecahkan keheningan pagi itu. Anak-anak yang diantar orang tuanya turun dari kendaraan dengan tergesa. Mereka tidak ingin dibariskan di depan kantor kepala sekolah. Soalnya, yang terlambat akan menjadi “pasukan kebersihan.”

“Cepat, Yah! Udah terlambat, nih!” Adi memberi aba-aba kepada ayahnya. Mereka menaiki motor butut berwarna merah keluaran tahun 1980-an. Tapi, bukan itu penyebab Adi bakal terlambat.

“Makanya, jangan bergadang melulu,” ujar ayahnya sambil membantu Adi turun dari motor.

Ini kali ketiga Adi menjadi anggota “pasukan kebersihan”. Bersama belasan teman-temannya yang lain, ia harus membersihkan halaman dan merawat tanaman di pekarangan sekolah.

“Mmm..bunga berwarna merah ini sudah layu. Kucabut saja,” gumam Adi. Tapi, matanya terpikat bunga lain sejenis yang mekar dengan indahnya tepat di samping bunga yang layu itu. Ia mengurungkan niat mencabutnya.

“Baiklah, aku akan merawatmu agar mekar seperti tetanggamu.” ujar Adi ke arah bunga layu itu.

Keesokan hari, Adi diantar ayahnya tepat waktu. Ia segera bergabung dengan teman-temannya menuju kelas. Tapi, ia ingat sesuatu.

“Bunga merah layu itu!” Adi menoleh ke arah pekarangan.

“Adi, ayo masuk! Jangan berdiri di pintu, Bu Wati memanggilnya dari dalam kelas.

“Ah, aku tidak bisa merawatmu hari ini, kawan,” gumam Adi sedih.

Pagi berikutnya, Adi tiba lima menit sebelum batas waktu masuk sekolah. Tapi, ia tidak langsung menuju gerbang. Ia berdiri saja di dekatnya.

“Ting..teng…ting…teng!” suara kencang lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak yang baru tiba berlarian menuju gerbang. Adi masih berdiri di tempatnya.

Beberapa saat kemudian, Adi melangkah menuju barisan depan kantor kepala sekolah. Ia menoleh ke arah pekarangan, tepat ke bunga merah yang layu itu.***
#cerpen

Posted in Sastra | Leave a comment

Pilpres AS (Belum) Usai

Berbeda dengan kita di Indonesia, rakyat Amerika Serikat tidak memilih langsung presidennya. Pemilu Presiden AS diselenggarakan untuk memilih 538 orang wakil yang akan duduk dalam lembaga pemilihan presiden yang dinamai Electoral College (EC). Merekalah yang pada tanggal 19 Desember 2016 (hari Senin pertama setelah hari Rabu kedua dalam bulan Desember tahun pemilu) nanti bersidang untuk memilih presiden.

Menurut Konstitusi AS, EC berwenang memilih siapapun dari calon resmi presiden yang diajukan partai. Ya, Hillary dapat dipilih menjadi presiden walau hasil pilpres kemarin menempatkan 306 orang (56,88%) dari Partai Republik di EC. Apalagi, capres Demokrat itu memang lebih banyak dipilih oleh rakyat secara nasional (popular vote).

Konstitusi AS mengatur pula dua kemungkinan saat terjadi perubahan hasil pilpres akibat perubahan pilihan oleh anggota EC (faithless elector). Pertama, jika tidak ada pasangan pilihan EC yang mendapat suara terbanyak (seri), maka DPR yang akan memilih presiden dan Senat yang memilih wapres. Kedua, jika satu saja anggota DPR atau Senator menolak keputusan EC saat Sidang Umum Kongres (kali ini jatuh pada tanggal 6 Januari 2017), maka perubahan pilihan satu atau beberapa anggota EC itu diabaikan. Penjabat “Secretary of State” negara bagian asal anggota EC tersebut yang kemudian memilih pasangan calon.

Sistem “check and balance” yang berlapis dlm tata negara AS memungkinkan Presiden terpilih bukan yang berkampanye kemaren. Jika pemilihan diambil alih Kongres, calon baru bisa dimunculkan.

Dari pengalaman 57 kali pilpres sejak AS berdiri, kemungkinan di atas sulit terjadi karena biasanya keputusan anggota EC sama dengan partainya. Hanya sedikit yang berani berubah pikiran. Kini, sebanyak 29 negara bagian mewajibkan calon wakil mereka di EC menandatangani pernyataan (Certificate of Vote) untuk memilih pasangan tertentu. Karena itulah, pemenang pilpres AS dapat diketahui dari perolehan kursi di EC. Dengan kursi mayoritas yang dimiliki partainya, Trump yang kontroversial itu bisa dipastikan akan menjadi Presiden AS ke-45.

Umumnya, hasil pemilihan Presiden AS melalui EC sama dengan “popular vote”. Tapi, ini kali keempat terjadi perbedaan. Dari sebab itu, sejak 2006 diberlakukan aturan National Popular Vote (NPV) di beberapa negara bagian tanpa perlu mengamandemen Konstitusi. NPV mengatur agar pilihan wakil suatu negara bagian di EC seiya-sekata dengan pilihan rakyat secara nasional. Hingga 2016, baru 11 negara bagian yang mengadopsi ketentuan ini dengan total 165 kursi di EC. Diperlukan minimal 105 kursi lagi agar “popular vote” automatis menjadi penentu pemenang pilpres.

Di atas semua itu, dengan mengingat bahwa EC dirancang para pendiri negara untuk memastikan Presiden AS terpilih adalah yang benar-benar layak dan mampu melindungi Konstitusi, akankah kali ini mereka mengubah pilihannya?

Berita terkait:

Hasil Pilpres AS.

Posted in Cang Panah | Leave a comment