Being Universal


Tadi malam kami menonton film terbaru Jackie Chan dan Jet Li, The Forbidden Kingdom. Tidak ada yang luar biasa tentang filmnya, kecuali bahwa baru kali ini dua anuek-muda (jagoan) kungfu Hongkong itu bermain bersama dalam satu film. Selebihnya adalah humor, kungfu, imajinasi, petuah, dan suasana bioskop. Saya akan bercerita tentang yang terakhir ini.

Bioskop yang kami kunjungi adalah satu di antara dua bioskop di Brazos County, Texas. Sepengetahuan saya, semua film yang diputar adalah terbitan Hollywood. Tidak ada film-film mancanegara. Memang, warga Amerika sangat ‘cinta produksi dalam negeri’ — untuk tidak mengatakan egocentric. Pantas saja kami tidak curiga akan kehabisan kursi untuk menikmati duel Jackie Chan dan Jet Li. Film tersebut memang produksi Lionsgate, tapi siapa tahu “terlalu Asia”. Namun, dugaan meleset! Kursi penuh dan kami harus menunggu hingga waktu tayang berikutnya.

Entah mengapa, saya lebih merasa menjadi bagian dari puak Asia kala itu di tengah-tengah penonton lain yang umumnya berkulit putih. Saya yang berasal dari Peusangan, tiba-tiba tidak saja sedang mewakili Aceh atau Indonesia, tapi melebar menjadi anggota dari rumpun Asia. Yang lebih menarik, ketika para penonton tertawa mendengar beragam banyolan Jackie Chan, saya merasa mereka yang berkulit putih dan kami yang Mongoloid menemukan satu frekwensi yang sama. Sense of humor ini menjadi salah-satu penanda bahwa kita sama sebagai manusia dan bahwa peradaban timur dan barat telah berjumpa dalam salah satu titik-saling-memahami (mutual understanding point) setelah sebelumnya dicurigai akan menuju kepada clash of civilizations.

Saling memahami tentu tidak hanya diukur melalui kelucuan yang dirasakan bersama, ada banyak hal lain yang bisa digunakan. Tapi, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jika kita bisa mati-matian membela diri kita, keluarga kita, suku kita, bangsa kita, dan ras kita, maka mengapa kita tidak berdiri dan membela bumi kita sebagai satu kampung global; dan lagi, mengapa tidak sekalian saja kita membela semua yang hidup!

This entry was posted in Opini and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Being Universal

  1. Ferdy says:

    mas, bagus sekali pendekatannya, menarik benang bertema universal dari sebuah tontonan bioskop. well done, saya suka.

  2. danial says:

    Sebuah refleksi kesemestaan hidup (universalitas kehidupan). satu hal yang eksotik, di ruang bioskop yang saya yakin lebih kecil dari alam semesta ini, kita bisa memperluas cakrawala, memahami alam semesta. Satu titik awal menyelami pencipta alam, hijrah dari alam kepada pencipta alam. Belajar tasawuf, USA adalah salah satu tempat yang baik. Arif sudah merefleksikannya dengan sangat baik. Jarang orang mendapatkan tuntunan, justeru dari sebuah tontonan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s