Cultural Shock!


Desember 2007 yang lalu, saya dan kawan-kawan mengikuti tes Surat Izin Mengemudi (SIM) negara bagian Texas, AS. Tesnya ada 2 tahap: teori dan praktek mengemudi. Tahap pertama mudah, karena pertanyaannya (yang dijawab dengan layar sentuh/touch screen) memang sesuai dengan teori yang ada dalam buku panduan SIM Texas. Nah, yang agak sulit (easy yet difficult) adalah tes mengemudi di jalan.

Bagi kita yang berasal dari Indonesia, ngebut (speeding) dan ketidakpedulian terhadap rambu-rambu lalu-lintas adalah ‘kebudayaan’ kita. Sehingga, mengikuti tes SIM dengan baik dan benar adalah “kebudayaan” asing yang sama-sekali baru; dan itu membuat kami benar-benar merasakan “cultural shock”.

Saya termasuk yang sangat “shock” gara-gara harus mengikuti tes praktek mengemudi sebanyak 3 kali. Segala teori dan latihan telah saya jalani, namun selalu tidak lulus dalam 2 kali tes pertama. Menurut petugas tes dari Texas Department of Public Safety itu, kesalahan pada tes pertama adalah speeding 45 mil/jam; kecepatan ini melampaui limit 40 mil/jam pada suatu persimpangan. Sedang pada tes kedua, kesalahan saya adalah tidak berhenti dengan sempurna pada tanda ‘stop’.

Dengan berbekal kebudayaan tradisional, saya merasa jengkel dan menganggap mereka –yang katanya sudah postmodern— mencari-cari kesalahan. Masak beda sedikit (5 mil/jam) jadi persoalan. Lalu, kapan saya tidak berhenti pada tanda ‘stop’? Akh, mereka keliru!

Akan tetapi, menuding orang lain sebagai penyebab kegagalan kita adalah tanda bahwa kita menggunakan insting ketimbang akal sehat. Karena jika akal sehat yang bekerja, tentu sayalah biang keladinya. Setelah mengingat-ingat, akhirnya saya sadar bahwa ada satu tanda ‘stop’ di suatu persimpangan yang tidak saya perhatikan. Ini ketahuan karena jalur yang dilalui untuk tes memang itu-itu saja sehingga kita bisa mengingat rambu-rambu yang ada di situ.

Jadi, ada 2 pelajaran penting kali ini:

1. Tertib berlalu-lintas ternyata dimulai dari pemberian SIM dengan cara yang valid.

2. Terus-menerus percaya bahwa orang lainlah yang keliru atas kegagalan kita, membuat kita kehabisan waktu untuk memperbaiki diri.

Saya akhirnya mendapatkan SIM yang sekaligus juga sebagai KTP Texas. Jadi, satu kartu untuk dua fungsi.

This entry was posted in Cang Panah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Cultural Shock!

  1. Lukman says:

    ya emank sih, harus dimulai dari diri kita sendiri

  2. miftahuda says:

    Bos boleh dong tulisan ini dimuat di HARIAN ACEH dalam rubrik CANG PANAH. Biar bisa juga dibaca rakyat aceh. Koran ini ada rubrik Cang Panah di hal. 1. Lihat di http://harian-aceh.com.

  3. khazanaharham says:

    Silahkan….semua tulisan di sini bebas disadur dengan menyebut penulis atau sumbernya.
    Sukses!

  4. Saweu Syedara di Gampong College Station….:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s