Kesepakatan Lausanne


Pada tanggal 24 Juli 1923, Inggris, Perancis, Italia, Jepang, Yunani, Rumania, Yugoslavia, dan Turki menandatangani kesepakatan di Lausanne, Swiss. Kesepakatan Lausanne (Treaty of Lausanne) ini adalah titik awal pendirian Republik Turki sebagai salah-satu hasil akhir Perang Dunia Pertama, di mana Jerman, Austria, Hungaria, Kekhalifahan Turki-Usmani, dan Bulgaria (Central Powers) berperang melawan Kekaisaran Inggris, Perancis, Kekaisaran Rusia, dan sekutunya (Entente Powers/Allies).

Sebelum Kesepakatan Lausanne, telah terjadi peristiwa penting yaitu penguasaan Istanbul, ibu kota Turki-Usmani, oleh tentara Inggris dan Perancis pada tanggal 13 November 1918. Penguasaan ini menyebabkan kekuasaan Khalifah melemah. Apalagi ternyata Inggris, Prancis, dan Italia telah berupaya memecah wilayah kekhalifahan sejak awal 1915. Ditambah lagi dengan pemberontakan di wilayah Arab (Arab Revolt) pada tahun 1916-1918 dengan bantuan Inggris dan diperuncing oleh persoalan antara pemerintah pusat Turki-Usmani dengan warga non-Turki (Arab, Yunani, Armenia, Albania, Yahudi, Bulgaria, Serbia, dan Vlach). Kondisi ini mengharuskan Khalifah membuat perjanjian damai dengan Sekutu dalam bentuk Kesepakatan Sèvres (Treaty of Sèvres) pada tanggal 10 Agustus 1920.  Namun, perjanjian ini merugikan Turki-Usmani karena Anatolia (wilayah Turki saat ini) dan parlemen Turki-Usmani tunduk di bawah bayang-bayang pemerintahan Kristen dan menjadikan Khalifah layaknya boneka Sekutu.

Sebagai bentuk penolakan Kesepakatan Sèvres dan untuk menjaga penguasaan wilayah utama Turki, muncullah perlawanan Pergerakan Nasional Turki terhadap Inggris dan sekutunya dalam Perang Kemerdekaan Turki (Turkish Independent War). Perang ini diakhiri dengan Kesepakatan Lausanne yang mengharuskan tentara Inggris dan Perancis keluar dari Istanbul pada tanggal 23 September 1923. Di masa inilah muncul Majelis Nasional Turki dan Turki modern sebagaimana yang dikenal saat ini.

Terlepas dari suasana politik saat itu dan pengangkatan khalifah Turki-Usmani atas dasar keturunan, para pendukung kekhalifahan menyayangkan keputusan Majelis Nasional Turki untuk membubarkan kekhalifahan (3 Maret 1924). Pembenahan sistem kekhalifahan dapat saja dilakukan ketika itu tanpa perlu latah membangun negara-bangsa (nation state) yang dianggap bertentangan dengan semangat Islam yang egaliter. Diyakini bahwa kekhalifahan adalah alat pemersatu umat Islam dunia dalam bentuk formal, baik pemimpin maupun geopolitiknya, tanpa disekat-sekat oleh etnisitas atau bangsa.

Dewasa ini, negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim bergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Organisasi ini belum begitu kuat ikatannya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Uni Eropa dalam membangun kekuatan baru perekonomian dunia, atau seperti NATO dalam menjalin kerjasama pertahanan. Di samping itu, ide-ide tentang satu pemerintahan dunia pun banyak dikaji sebagai cita-cita untuk menstabilkan perdamaian dunia.

[Disarikan dari: Wikipedia]

This entry was posted in Geografi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s