Hisab dan “rukyat” dengan Kstars


Dalam menyambut bulan puasa dan hari raya, penentuan awal dan akhir bulan Hijriyah sangat penting. Salah-satu penyebabnya adalah kaum muslimin diharamkan berpuasa pada 1 Syawal, hari pertama Idul Fitri.

Ada beberapa pendapat tentang penentuan awal bulan Hijriyah:

  • Sebagian besar ulama Arab Saudi berpendapat bahwa kalau bulan dan matahari telah bertemu (ijtimak) sebelum terbenam, berarti besoknya sudah masuk tanggal 1 bulan baru.
  • Di lain pihak, sebagian ulama Indonesia berpendapat bahwa jika ketinggian bulan minimal 2 derajat pada saat matahari tenggelam, maka besoknya baru dihitung tanggal satu.
  • Sebagian yang lain berpendapat bahwa mata harus dapat melihat hilal (bulan sabit/bulan baru); dan ini memerlukan ketinggian  bulan minimal 6 derajat atau bahkan ada yang berpendapat minimal 8 derajat (Rusmanto, 2007)

Terlepas dari berbagai patokan ulama, kita dapat menghitung dan “melihat”  sendiri posisi bulan dan matahari dengan bantuan salah-satu software astronomi, yaitu Kstars. Selain mengamati benda langit dari database yang ada, aplikasi ini dapat juga dihubungkan langsung dengan teropong bintang, sehingga benda-benda langit yang ditangkap teropong dapat langsung dikenali nama dan koordinatnya. Dengan kata lain, Kstart adalah peta digital ruang angkasa dengan titik observasi berada di bumi.

Sekarang, mari kita perhatikan posisi bulan dan matahari di tiga tempat: Jakarta (Indonesia), Jeddah (Arab Saudi), dan Houston (AS) pada tanggal 29 dan 30 September 2008

Alat hitung: Kstars (dijalankan dalam sistem operasi Linux).

1. Lokasi pengamatan I: Jakarta, Indonesia

  • Jakarta, 30 September 2008.
  • Matahari terbenam pada pukul 17.47 (waktu setempat).
    Bulan/hilal terbenam pada pukul 18.30.
    Pada saat matahari tenggelam, ketinggian hilal lebih besar dari 6 derajat. Jika mengikuti salah-satu pendapat di atas, maka berarti keesokannya, yaitu 1 Oktober 2008, sudah masuk Syawal. Namun, apakah ini 1 Syawal atau 2 Syawal? Karena itu, kita cek satu hari sebelumnya.

  • Jakarta, 29 September 2008.
  • Matahari terbenam pada pukul 17.47.
    Bulan terbenam pada pukul 17.44.
    Berarti keesokannya, yaitu 30 September 2008, belum masuk bulan Syawal karena hilal lebih dahulu tenggelam daripada matahari.

2. Lokasi pengamatan II: Jeddah, Arab Saudi

  • Jeddah, 30 September 2008
  • Matahari terbenam pada 18.12 (waktu setempat).
    Bulan terbenam pada 18.41.
    Pada saat matahari tenggelam, ketinggian hilal adalah lebih besar dari 5 derajat. Jika mengikuti salah-satu pendapat di atas, maka berarti keesokannya, yaitu 1 Oktober 2008, sudah masuk Syawal. Namun, seperti di Jakarta, apakah ini 1 Syawal atau 2 Syawal? Karena itu, kita cek satu hari sebelumnya.

  • Jeddah, 29 September 2008
  • Matahari terbenam pada 18.13.
    Bulan terbenam pada 18.06.
    Berarti keesokannya, yaitu 30 September, belum masuk Syawal karena hilal lebih dahulu tenggelam dari matahari.

3. Lokasi pengamatan III: Houston, AS

  • Houston, 30 September 2008.
  • Matahari terbenam pada pukul 19.07 (waktu setempat).
    Bulan terbenam pada pukul 19.42.
    Pada saat matahari tenggelam, ketinggian hilal adalah sekitar 6 derajat. Jika mengikuti salah-satu pendapat di atas, maka berarti keesokannya, yaitu 1 Oktober 2008, sudah masuk Syawal. Namun, apakah ini 1 Syawal atau 2 Syawal? Seperti kedua kota di atas, kita cek satu hari sebelumnya.

  • Houston, 29 September 2008.
  • Matahari terbenam pada pukul 19.09 (waktu setempat).
    Bulan pun terbenam pada pukul 19.09.
    Bulan dan matahari telah bertemu (ijtimak) sebelum tenggelam, sehingga jika mengikuti ulama Arab Saudi, maka keesokannya, yaitu 30 September 2008, sudah masuk bulan Syawal.

Begitulah. Ini tentu bukan informasi resmi penetapan awal Idul Fitri. Namun, setidaknya kita yang awam dapat juga menghitung dan melihat sendiri awal bulan Hijriyah serta memahami bagaimana penentuannya dilakukan. Mudah-mudahan ini membuat kita lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan penetapan hari raya.

Selamat Idul Fitri!

This entry was posted in Geografi, Open Source and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hisab dan “rukyat” dengan Kstars

  1. moon says:

    Berdasarkan informasi dari ustadz Arif, dapat saya interpretasikan sebagai berikut:

    1. Aliran Hisab (Wujudul Hilal): 1 Syawal dapat dipastikan Besok Rabu.
    2. Aliran Rukyatul Hilal: 1 Syawal sangat dimungkinkan jatuh pada hari Rabu juga, kecuali nanti sore udara mendung or langit kurang cerah sehingga menutupi hilal, tapi kayaknya udara cerah rah…

    Kita doakan aja semoga tar sore hilal terlihat.. sebab kalau lebaran Kamis…… wah urusan kuliah bisa kacau…

    Terimakasih infonya Bos Arif….

    ++++++++++
    Wah, terimakasih Pak Dosen. Ini memang mata kuliah yang ente ajarkan ya…
    Kalo gitu, udah bisa dong shalat Id besok :-)

  2. alley says:

    paaaaaaaaaaaaaaaakk..kapan bali lagi ke aceh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s