Penanggulangan Pengangguran Pasca Rehab-Rekon


Oleh Aulia Sofyan *)

Pemenuhan nafkah hidup masyarakat Aceh akhir-akhir ini sudah mulai memprihatinkan. Itu ditandai dengan peningkatan jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja karena proyek rehab-rekon baik yang ada di BRR maupun di NGO-NGO berakhir.

Pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada menjadi beban keluarga dan masyarakat, sebagai sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang. Berbagai kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan dituangkan dalam berbagai program pembangunan sektoral, regional, dan khusus, baik secara langsung maupun tidak langsung, dirancang untuk turut memecahkan tiga masalah utama pembangunan, yakni pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, dan kemiskinan (Kartasasmita, 1996:243).

Jumlah NGO baik internasional maupun nasional dan local yang beroperasi di Aceh setelah terjadinya musibah gempa dan tsunami adalah 766 buah baik yang berjumlah pegawai kecil, sedang maupun berjumlah pegawai besar seperti organisasi yang bernaung di bawah PBB (sumber: UN IMS, 20 Juli 2005) namun hingga pertengahan Juli 2008 ini jumlah NGO asing sudah drastis berkurang hingga mencapai kurang dari 100 buah dan hal ini akan mencapai puncaknya di akhir 2008 bersamaan dengan akan berakhirnya operasi BRR di Aceh (Tim Terpadu BRR, 2008). Kerisauan para pekerja dan pengamat sosial di Aceh menjadi sangat beralasan. Karenanya, pemerintah daerah harus segera mengambil langkah-langkah strategis dalam menyikapinya. Pemerintah daerah harus mempersiapkan rencana yang matang yang akan dapat merespon masalah krusial ini.

Bencana smong (tsunami) telah menyebabkan kerugian sekitar AS$ 1,2 miliar pada sektor-sektor produktif. Lebih dari setengahnya dialami sektor perikanan. Sisanya dialami oleh sektor perkebunan dan manufaktur. Program penyediaan lapangan kerja (cash-for-work), yang didanai oleh banyak negara donor dan LSM, telah memainkan peran yang penting dalam menyediakan jaring pengaman dan menggerakkan kembali perekonomian. UNDP telah menyediakan lapangan kerja tetap untuk kurang lebih 35.000 orang pengungsi dan program-program lain yang diluncurkan oleh LSM-LSM yang telah memberikan pekerjaan untuk jangka waktu yang lebih pendek. Program-program tersebut sekarang ini sudah tidak ada lagi, andaipun ada sudah sangat sedikit karena kondisi masyarakat dianggap sudah jauh lebih baik.

Selama ini tenaga kerja begitu banyak dibutuhkan untuk proyek-proyek rehab-rekon sampai didatangkan dari luar Aceh, akan tetapi pada akhirnya ledakan tersebut akan mereda seiring dengan berakhirnya proyek-proyek rehab-rekon. Jumlah pekerjaannya akan segera berkurang jauh. Pekerja-pekerja dari luar daerah sudah mulai pulang. Harga-harga sewa rumah, sewa mobil dan biaya hidup lainnya akan kembali bergerak ke arah normal menyesuaikan dengan tingkat penghasilan.

Strategi penanggulangan

Kondisi ketenagakerjaan sebelum bencana menimpa Aceh sebenarnya juga masih belum menggembirakan apalagi karena konflik yang berkepanjangan yang telah menyebabkan kondisi perekonomian dan ketenagakarjaan lesu. Kondisi keamanan menjadi isu dan prioritas utama saat itu. Kondisi semacam ini juga dialami oleh sebagian besar propinsi-propinsi lain di wilayah Indonesia lainnya namun faktor konflik menjadi alasan utama sektor ekonomi dan tenaga kerja di Aceh lalu.

Sebagai akibat dari kondisi keamanan yang tidak menjamin pada saat itu, maka masyarakat yang berkebun, berladang bahkan bagi pegawai negeri jadi sulit, dan hasilnya roda perekonomian masyarakat terseok-seok dan penyerapan tenaga kerja di sektor-sektor swasta relatif rendah. Akibatnya banyak pemuda-pemuda Aceh baik yang mempunyai pendidikan yang cukup maupun yang pas-pasan keluar daerah mencari pekerjaan di negeri orang seperti ke Batam, Medan atau Jakarta bahkan ke luar negeri seperti Malaysia dan Australia.

Strategi yang tepat dan baik sangat diperlukan untuk menghadapi masalah yang bakal timbul di Aceh setelah berakhirnya operasional NGO-NGO, negara-negara donor dan BRR di Aceh. Strategi-strategi itu dapat dijalankan Gubernur adalah seperti Penciptaan proyek-proyek padat karya. Strategi popular yang sudah sering dilakukan pemerintah adalah program padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Salah satu upaya pemerintah Aceh untuk mengatasinya, dengan memperbaiki dan membuka ruas jalan baru yang bernilai ekonomis, baik antar kecamatan maupun antarkabupaten. Terutama jaringan jalan yang menghubungkan pusat produksi dengan daerah pemasaran. Untuk memajukan transportasi, Pemerintah Aceh harus menaruh perhatian besar pada pembangunan infrastruktur jalan-jalan di pedalaman Aceh. Proyek-proyek itu harus menyerap tenaga kerja yang besar dan melibatkan warga local. Dengan begitu proyek tersebut dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Strategi lain, dengan refocusing program dan anggaran untuk penciptaan lapangan kerja di tingkat kabupaten/kota. Masing-masing kabupaten/kota menyiapkan rencana aksi yang cepat dan tepat bagi penanganan masalah pengangguran ini sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerahnya dengan jalan merubah rencana-rencana yang tidak strategis yang tidak menyerap tenaga kerja massal kepada rencana strategis yang dapat menyerap tenaga kerja massal.

Dapat juga diterapkan dengan pelaksanaan strategi penekanan pada program yang dapat memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan, yang dapat membentuk pasar tenaga kerja dan yang dapat melatih tenaga kerja agar dapat mendirikan dan atau memperoleh pekerjaan. Adapun sasaran yang akan dicapai pada kegiatan prioritas ini adalah terselenggaranya pelatihan sebanyak mungkin yang dibutuhkan pencari kerja dan terbentuknya pusat layanan informasi tenaga kerja di tiap kabupaten/kota yang mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, perlu memfokuskan pengembangan usaha mandiri, usaha kecil dan industri rumah tangga. Hal ini perlu didukung Pemda dengan penciptaan sistem pendanaan yang sangat sederhana, yaitu dengan sistem modal bergulir (revolving fund) dengan tingkat bunga yang sangat rendah atau tanpa bunga. Fungsi Koperasi perlu ditingkatkan untuk menampung dan kemudian memasarkan hasil-hasil usaha mandiri dan usaha kecil tersebut.

Disnaker berperan sebagai leading sektor teknis dalam penanganan masalah pengangguran dan tenaga kerja. Selain itu, Bappeda selaku badan perencanaan pembangunan yang bersifat makro sangat ditunggu masyarakat dan harus segera berbuat; mengambil peran utama dan berdiskusi dengan gubernur dan pemangku kepentingan penting lainnya dalam rangka menghadapai masalah penganguran ini.

Perencanaan penanggulangan masalah tenaga kerja adalah tugas Disnaker dan Bappeda untuk memformulasikan secepatnya guna penentuan kebijakan Gubernur ke depan. Keberhasilan perencanaan dan penanganan masalah pengangguran ini sangat bergantung kepada peranan kedua institusi itu dan dukungan dari masyarakatnya. Keduanya harus mampu menciptakan sinergi. Tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah daerah tidak akan dapat mencapai hasil secara optimal. Penanganan pengangguran yang tidak tepat sasaran hanya akan melahirkan program-program baru yang kurang berarti bagi masyarakat. Sebaliknya, tanpa peran yang optimal dari pemerintah daerah, perencanaan penanganan masalah pengangguran ini akan berjalan secara tidak terarah, yang pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan baru.

Disnaker perlu mengambil langkah-langkah strategis dengan memasukkan program-program yang dapat menyerap tenaga kerja massal ke dalam rencana pembangunan 2009 yang sedang digodok. Ke depan, Disnaker harus mengambil inisiasi menyiapkan tenaga-tenaga yang cakap di berbagai bidang yang akan dibutuhkan oleh para user seperti investor dan pelaksana proyek lainnya di Aceh.

*) Penulis adalah Alumni Program Doktor Perencanaan Pembangunan pada School of Geography Planning and Architecture University of Queensland Australia

Dimuat di Serambi Indonesia, 08/10/2008

This entry was posted in Bin M.A. Jangka. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s