Going to school


Saat kecil, saya diantar Bapak ke Taman Kanak-Kanak (TK). Biasanya jika pulang, langsung ke tempat kerja Bapak di kota kecamatan. Pulangnya siang seusai dhuhur. Kadang, Bapak ada tugas ke kota kabupaten dan saya diajak serta. Asyiknya, di perjalanan kami sering singgah di warung untuk makan siang, dan ini adalah suatu kemewahan ketika itu. Pulangnya bisa sore hari.

Saat di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), dari kelas satu sampai dua saya masih diantar. Kali ini, sekolah dasar itu dekat dengan tempat Mak mengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN, dibaca “m-sen”). Pulang sekolah, saya mampir di MTsN itu. Yang paling asyik di sana adalah dapat kue dan teh (yang disediakan untuk para guru) jatah Mak. Menginjak kelas tiga MIN, barulah saya dibelikan sepeda.

Pergi dan pulang sekolah naik sepeda berlangsung sampai SMP. Tentu saja, tidak ada lagi acara singgah di tempat kerja Bapak atau Mak.

Saat SMA, saya mengendarai sepeda motor ke sekolah. Kali ini lokasi sekolahnya di kota provinsi. Sebenarnya, saat itu adalah masa terjadinya perubahan tren alat transportasi di kalangan anak SMA di sana; dari bersepeda menjadi bersepeda motor.

img_8605Seusai menamatkan 12 tahun masa belajar pendidikan dasar dan menengah, saya melanjutkan kuliah di bekas ibu kota negara di pulau seberang. Kotanya teduh dan nyaman untuk tempat belajar. Di sana, tren bersepeda masih kental ketika itu. Jadilah saya mahasiswa yang kembali bersepeda ke kampus. Saya sempat tiga kali membeli sepeda, satu bekas dan dua baru. Sayangnya, yang baru itu keduanya hilang dicuri orang. Nah, perubahan datang juga di kota itu; tren sepeda digantikan dengan sepeda motor. Saya juga terkena imbasnya. Sampai akhir kuliah saya berwara-wiri dengan sebuah sepeda motor bekas –yang merek dan tipenya persis sama dengan saat SMA– ke manapun hendak pergi.

img_8604

Sekarang, kuliah tahap kedua. Agaknya, saya tidak boleh jauh dari sepeda. Di kota kecil di benua lain yang berjarak waktu 12 jam dari kampung halaman, saya bersepeda lagi ke kampus. Tapi bukan itu saja. Yang paling menarik –dan ini tidak pernah terjadi sejak saya mulai mengenal bangku sekolah di TK kota kecamatan itu– adalah saya dapat mengikuti semua aktifitas kampus (belajar di kelas/laboratorium) dengan memakai sandal jepit!

This entry was posted in Cang Panah and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Going to school

  1. Citra Rahman says:

    Gowes for life! Hehe…tetap terus bersepeda ya bos…

    wah wah..kampus mana tu kok bisa pake sandal jepit? macam kampus kami aja???
    heheh…salam kenal….

  2. hack87 says:

    Biasa lah bang pake sandal jepit, nama juga mahasiswa baik aktivis atau bukan udah hal yang lumrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s