Daftar Pemilih


Salah-satu masalah penting dalam proses pemilihan umum di Indonesia adalah pendaftaran pemilih. Setidaknya, fungsi pendaftaran pemilih adalah untuk memastikan pasokan logistik pemilu cukup untuk tempat pemungutan suara (TPS) bersangkutan. Masalahnya, tidak selalu semua warga suatu kampung mendaftarkan dirinya untuk ikut memilih. Banyak warga yang memiliki hak untuk memilih tidak bisa menggunakan haknya pada hari H karena namanya tidak tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Ada dua hal yang terkait dengan penggunaan hak memilih: kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga sebagai bukti identitas diri; dan tinta. KTP adalah bukti kewarganegaraan Indonesia. Kepemilikan KTP ganda yang jamak terjadi di Indonesia mungkin bermasalah pada pemililhan DPD dan DPRD Provinsi/Kab/Kota. Tapi untuk DPR-RI, seorang warga negara Indonesia (WNI) berhak memilih wakilnya menurut tempat ia berada. WNI di luar negeri, misalnya, hanya memilih calon legislatif (caleg) DPR-RI dari daerah pemilihan (dapil) DKI Pusat, tak peduli KTP WNI itu dari provinsi lain. Hal yang kedua adalah penggunaan tinta seusai memilih. Tinta di jari memastikan orang sudah memilih, tak peduli ia punya KTP tunggal atau ganda. Ini merupakan usaha untuk mengurangi kecurangan oleh pemilih.

Terkait dengan logistik pemilu, pihak desa/kecamatan dapat melaporkan jumlah penduduk usia 17+ untuk memberi tambahan pasokan logistik. Jadi, panitia pemilihan tidak perlu khawatir dengan kekurangan kertas suara akibat adanya pemilih baru yang langsung datang ke TPS padahal namanya tak terdaftar di DPT. Untuk memilih, pemilih baru ini tinggal menunjukkan dokumen yang sama seperti saat pendaftaran pemilih. Bukan seperti yang terjadi selama ini di mana warga kecewa karena hak pilihnya diabaikan tanpa alternatif selain harus terdaftar di DPT. Mestinya, seorang mahasiswa asal Bengkulu di UGM, misalnya, tetap dapat memilih caleg DPR-RI dapil Jogja dengan menunjukkan KTP Bengkulu.

Memang masalah pemilu tidak hanya persoalan pendataan penduduk. Ada masalah proyek, politik dll. yang bermain sehingga menyebabkan sesuatu yang sederhana menjadi rumit.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s