Militer Membaca Bencana


Organisasi apa yang paling sigap, lengkap, solid, dan memiliki tugas khusus dalam suatu negara? Jawabannya adalah militer. Tugas tradisionalnya adalah mempertahankan kedaulatan negara. Karena itu, militer memiliki kemampuan mengerahkan personel dan perlengkapannya untuk melakukan misi perang (combat missions) dalam segala kesempatan dengan taruhan nyawa sekalipun. Lalu, apakah militer dapat digunakan untuk membantu menangani bencana? Jawabannya tentu bisa, namun tergantung dari kemauan pemerintah suatu negara dalam membekali militernya untuk melakukan misi bukan perang (non-combat missions) yang juga untuk keselamatan negara.

Saat gempa Sichuan tahun 2008, Tentara Pembebasan Rakyat Cina mengirimkan bantuan segera ke daerah bencana. Helikopter militer dikerahkan untuk mengirimkan makanan, obat-obatan, dan tenda bagi korban  gempa. Hal yang sama dilakukan pula oleh serdadu Amerika Serikat saat terjadi bencana di dalam negerinya, seperti Hurricane Katrina tahun 2005. Bahkan, bagi pemerintah AS, non-combat missions atau humanitarian works menjadi ‘trade mark’ baru dalam memanfaatkan militernya di luar negeri, seperti saat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Walaupun disinyalir kalau misi non-perang ini adalah bagian dari strategi baru politik AS selain perang. Di lain pihak, bencana angin puyuh Nargis di Myanmar tidak disikapi dengan baik oleh junta militernya. Mereka tidak memiliki kemampuan (atau kemauan?) yang memadai untuk mengerahkan energi perangnya untuk membantu korban. Yang lebih menyedihkan, bantuan luar negeri pun ditolak dengan alasan politis yang kental.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki ruang yang cukup penting dalam membantu negara menghadapi masa-masa sulit, tak terkecuali saat bencana alam. Sering terlihat personil TNI membantu evakuasi korban dari reruntuhan bangunan. Namun, sepertinya hanya baru optimal di kawasan perkotaan. Di Padang Sago, Pariaman, organisasi sipil Muhammadiyah malah lebih dulu tiba di sana setelah media massa melaporkan kondisi daerah perbukitan ini akibat gempa pada 30 September lalu. Padahal, kita sudah punya pengalaman saat gempa bumi dan tsunami di Aceh, di mana Satkorlak bencana dikomandoi oleh militer agar lebih efektif bergerak. Bahkan, International Ocean Wave 2009 (IOWave ’09) yang akan dilaksanakan di Aceh pada tanggal 14 Oktober 2009 memberi peran komando pelaksana lapangan bagi militer bersama kepolisian. Ini menjadi entry point bagi pemerintah untuk lebih mempermanenkan fungsi baru militer dalam menangani bencana dan memasukkan lebih banyak kurikulum non-combat missions di akademi militer kita.

Gempa Sumatra merupakan bencana kesekian kalinya yang terjadi dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Usaha pemerintah untuk memperbaiki manajemen bencana (emergency management) perlu terus didukung. Kekeliruan yang ada saat ini adalah bahwa undang-undang tentang penanggulangan bencana masih membebankan tanggung jawab pada pemerintah setempat jika bencana terjadi. Padahal, sangat besar kemungkinan korban jatuh di pihak aparatur daerah setempat sehingga melumpuhkan layanan publik. Peran militer dan juga pemerintah di daerah-daerah tetangga lokasi bencana adalah utama dan sudah semestinya mereka yang pertama bertanggung jawab mengirimkan bantuan.

.

.

.

++++++++++++++++++++++++++++

Berikut ini adalah informasi dari milis teman yang diteruskan ke email saya pada 03 Oktober 2009.

Dari: Sigit Pramono

Hari Ini Delapan Pesawat dari Halim Menuju Padang

Delapan pesawat Hercules hari ini terbang dari Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Sumatra Barat. Pesawat-pesawat tersebut mengangkut logistik bantuan bagi korban gempa. Beberapa pesawat melakukan penerbangan langsung dai Halim, tadi ada juga sebagian lain dari kota lain, seperti Malang (Abdul Rachman saleh) dan Bandung Husein Sastranegara. Bahkan ada satu pesawat pengangkut bantuan kemanusiaan dari Australia.

Logistik yang diangkut berupa bahan makan, obat-obatan, alat kesehatan, alat komunikasi, selimut, tenda, sampai mobil untuk mendukung mobilitas di lokasi gempa. Pengangkutan logistik bekerjasama dengan Departemen Sosial dan Departemen Kesehatan.

Selain lohgistik, pesawat-pesawat tersebut juga mengangkut personel, terutama para sukarelawan, baik dari sipil maupun militer. Hampir seluruh pesawat tersebut melakukan penerbangan kembali ke Halim pada hari itu juga. Pada Jumat (2 Oktober), misalnya, masih ada pesawat yang datang dari Padang sekitar pukul 02.00 dinihari.

[jurnalisme] Prosedur Pengiriman Bantuan ke Padang via Halim PK
From:
dandhy dwi laksono <deenda1_at_yahoo_com>

Prosedur Pengiriman Bantuan dan Relawan dari Halim PK

Bagi kawan-kawan (organisasi dll) yang ingin menerbangkan bantuan atau relawan ke Padang, Sumatera Barat, melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusumah, berikut ini adalah prosedurnya:

KETENTUAN UMUM:
1. Bantuan yang diutamakan diterbangkan adalah yang mendukung fase tanggap darurat seperti obat-obatan, bahan makanan, genset, ambulan, dan alat-alat kerja lainnya.

2. Semua lalu-lintas bantuan dan orang dikoordinasikan di bawah Posko Terpadu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Halim Perdanakusumah.

3. Ada tiga pintu prosedur untuk mengirim barang/orang: (A). Departemen Sosial, (B) Departemen Kesehatan), dan (C) TNI AU (Lanud Halim PK).

4. Tujuan penerbangan adalah Bandara Minangkabau dan Tabing (TNI AU), Padang, tergantung pada kepadatan lalu lintas bandara setempat.

CONTACT PERSON:
5. Silahkan menghubungi nomor telepon posko untuk melaporkan rencana organisasi Anda (jumlah dan jenis barang, jumlah orang, jadwal, pengangkutan dll). Nomor telepon posko (umum) adalah 021-8019777. Telepon ini 24 jam dijaga oleh prajurit piket TNI AU.

6. Adapun nomor-nomor kontak 3 pintu adalah sebagai berikut: (1) Departemen Kesehatan – Firza Hendra (0812 88959533), (2) Departemen Sosial – Endhy Suwarna 0857 11441172, (3) TNI AU Halim PK – Letkol Nyoman, Kepala Seksi Angkutan (0815 13771992.

7. Bila ada masalah atau pengiriman dalam jumlah sangat besar dan persoalannya kompleks, silahkan hubungi langsung Ketua Koordinator BNPB – Yolak Dalimunthe (0818 06034110) atau Lanud Halim PK, Kolonel Djoko S (0815 8899202). Bila kurang mempan, silahkan langsung ke Danlanud Marsekal Madya Boy Syahrir 0813 10007440. Ada juga perwakilan Mabes TNI di Posko Terpadu (bila ada masalah menyangkut lintas angkatan: Kolonel Hermansyah 0812 8644639).

8. Bagi organisasi asing, bila ingin mengangkut atau mendatangkan barang dari luar negeri, silahkan koordinasi dengan perwakilan Bea Cukai di posko terpadu Halim PK: Sdr Denny (0812 8015251).

INFORMASI TEKNIS
9. Setiap hari rata-rata ada 4 (empat) pesawat Hercules yang terbang ke Padang. Beberapa di antaranya milik Amerika dan Australia. Dengan empat pesawat, bandara Halim PK bisa melayani kira-kira 8 trip (pulang pergi Jakarta-Padang)

10. Kapasitas setiap Hercules rata-rata 13,5 ton sekali terbang. Jumlah orang dan barang yang diangkut berdasarkan assessment posko akan tingkat urgensinya.

11. Sistem pengangkutan first in first out berdasarkan prioritas jenis barang.

12. Bila ingin mengangkut kendaraan (ambulan dll), harus mengosongkan tangki BBM saat boarding.

13. Jadwal terbang paling pagi jam 06.00 WIB dan malam hari kira-kira jam 21.00 WIB. Jadwal bisa berubah.

Silahkan di-update sebagai open content berdasarkan pengalaman dan informasi lain yang kawan-kawan miliki. Bila ada kesalahan atau ketidakakuratan atas posting ini, silahkan ditambahkan atau diberikan koreksi. Bila ada hal-hal lain, akan diupdate kemudian. Agar accountable, setiap informasi mohon menyertakan identitas diri seperlunya.

Mohon ikut menyebarluaskan informasi ini…

Dandhy-Asep- Wandi
relawan

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s