At work


Saya akan bercerita singkat tentang pekerjaan, atau tepatnya atmosfir lingkungan pekerjaan.

Adalah wajar jika kerangka berfikir seseorang terbaharui oleh pengalaman di ruang (space), tempat (place), lokasi (location), dan lingkungan (environment) baru. Sebagai seorang pegawai pemerintah yang baru pulang belajar di luar negeri, tentu perlu menyesuaikan diri dengan habitat semula. Ada yang berubah di lingkungan kerja, tapi agaknya yang sebenarnya berubah adalah cara pandang saya terhadap lingkungan sekitar.

Setelah berinteraksi dengan rekan-rekan lama dan baru di kantor selama tiga bulan belakangan, saya menemukan beberapa hal:

  1. Saya mendapati rekan-rekan saya berpengalaman, cerdas, dan kreatif.
  2. Kerja sama (team work) lemah atau bahkan tidak ada.

Hampir semua pegawai yang muda-muda berusaha menyampaikan ide-ide perubahan yang cukup bagus untuk perbaikan kinerja pemerintah berdasarkan pengalaman dan kapasitas keilmuannya.  Masuk akal jika mereka ingin agar ide-idenya didengar dan dihargai; tapi masalahnya adalah mereka tak mau mendengar ide orang lain dan saling menyalahkan. Mereka kerap mendominasi pembicaraan dan berulang menyampaikan hal-hal yang baik untuk dirinya, namun jelek untuk kinerja orang lain. Ini mungkin yang menyebabkan kerja sama dalam suatu tim tak pernah benar-benar terjadi. Celakanya, mereka tidak ‘ngeh’ bahwa penyebab dari ketidakkompakan ini adalah mereka sendiri.

Agaknya kontribusi saya yang pertama untuk negara setelah belajar di luar negeri adalah mendengarkan karena salah-satu kebutuhan rekan-rekan di pemerintahan adalah penghargaan batiniah, bukan melulu kenaikan gaji. Dengan mendengarkan mereka, kebutuhan itu bisa terpenuhi. Saya kerap menggunakan kata-kata seperti: “Bagus”; “Ide yang menarik”; “Bagaimana maksudnya?”; “Ya”; “Saya kurang paham tentang itu, mohon dijelaskan”, dan seterusnya. Bahkan tidak jarang dalam suatu kesempatan berdialog, saya hanya merespon singkat-singkat seperti itu.

Ternyata, kinerja buruk aparatur pemerintah adalah masalah kebudayaan atau seni berinteraksi sosial; bukan masalah kapasitas keilmuan akademis dan pengalaman. Mereka berpendidikan tinggi, tapi tidak tahu bekerja dalam tim dengan berbagai disiplin ilmu lain. Mereka berpengalaman dalam bidangnya, tapi ini menyebabkan resistensi terhadap kritikan/saran atau ide-ide baru dari yang lain.

Jadi, marilah bekerja dalam tim dengan saling menghargai dan mendengarkan ide-ide orang lain dengan minat yang tinggi.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

One Response to At work

  1. andiyuniar says:

    Gimana kabarnya? Mengabdi di bidang apa sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s