Merasa


Apa yang Anda harapkan ketika banyak anak bangsa belajar ke luar negeri? Tentu jawaban sederhananya adalah agar ilmu mereka bisa diaplikasikan di Indonesia ketika mereka pulang. Tapi bagaimana?

Menjadi salah-satu dari sedikit orang yang berkesempatan mengecap pendidikan luar negeri adalah suatu anugerah. Selama dua tahun di Texas A&M University, Amerika Serikat, saya penasaran terhadap kemajuan yang dicapai negara adidaya itu. Pernah suatu pagi di apartemen saya membaca artikel tentang Romawi dan Kekhalifahan Turki Usmani di Wikipedia. Lalu, sambil melihat ke arah luar melalui jendela kamar, saya mulai membayangkan dua ribu atau seribu tahun yang lalu ketika orang-orang dari berbagai penjuru negeri belajar atau berdagang ke Roma atau ke Konstantinopel. Seperti itulah agaknya saya, merasakan berada di wilayah kekaisaran dunia.

Merasa, bukan berfikir, adalah hal yang tepat untuk mulai mengenal negeri-negeri baru yang kita kunjungi. Merasakan atmosfir kehidupan alam dan masyarakatnya. Merasakan bagaimana mengikuti tiga kali driving test untuk mendapatkan SIM; merasakan nikmatnya air keran yang bisa langsung diminum; merasakan nikmatnya berkendara di jalan yang mulus dan lalu-lintas yang tertib; merasakan nikmatnya seseorang menahan pintu agar tetap terbuka untuk saya saat memasuki mall; merasakan nikmatnya berbelanja tanpa merasa khawatir salah beli atau ditipu karena konsumen dapat mengembalikan (return) barang yang sudah dibeli dengan mendapat uang kembali secara penuh; merasakan sapaan akrab dari seorang anggota dewan kota College Station saat menghadiri sidang di balai kota; merasakan dihargai sama seperti warga negara Amerika lainnya (kecuali tidak bisa ikut pemilu); dan seterusnya.

Perasaan itulah yang agaknya akan lebih memudahkan saya dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman di negeri sendiri. Teknik atau cara bisa berbeda, tapi menghadirkan perasaan yang sama kepada masyarakat kita adalah barometer keberhasilan lulusan luar negeri dalam mengabdikan dirinya. Sebagai contoh, untuk menghadirkan jalan yang berkualitas dan lebar (freeway) membutuhkan dana yang tidak sedikit, belum tentu kita mampu merealisasikannya dalam waktu dekat. Tapi saya yakin, rasa senang masyarakat kita akan sama derajatnya dengan pengguna jalan di Amerika manakala jalan kecil yang direncanakan dibuat atau dirawat dengan baik sesuai standar, bukan asal jadi. Begitu pula dengan perlindungan konsumen. Mungkin kita tidak bisa mengembalikan barang yang sudah dibeli, tapi bahwa konsumen memiliki informasi yang benar dan dilindungi oleh hukum dalam suatu transaksi adalah keniscayaan.

Demikianlah. Kita tidak bisa begitu saja menerapkan apa yang ada di negeri orang (copy-paste) untuk negeri sendiri karena tiap tempat memiliki adat, sejarah, dan kemampuannya sendiri-sendiri. Yang perlu kita pastikan adalah bahwa rasa nyaman dan nikmat hadir di tengah kehidupan masyarakat kita.

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s