Mengapa bertengkar?


Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

[They await but a single cry, which will overtake them while they contend.]

Yasin: 49

Seorang kawan menyampaikan bahwa dalam dua hari ini ia melakukan kontemplasi di rumahnya. Ia merenungkan apa yang sebenarnya terjadi saat ini di dunia, Indonesia, Aceh, lingkungan pekerjaan dan pada dirinya sendiri. Ia menyimpulkan bahwa manusia saat ini sedang gemar bertengkar.

Kita memperdebatkan banyak hal. Untuk satu masalah saja kita memiliki pandangan yang berbeda dan bahkan bertentangan. Kasus Bank Century misalnya, ada yang mendukung dan ada yang menentang kebijakan pemerintah ketika itu. Argumennya pun sama-sama kuat. Kawan saya itu menyebut pula contoh lain. Di suatu pelabuhan Indonesia bagian timur, syahbandarnya melarang kapal-kapal berlayar karena cuaca yang buruk. Namun, para calon penumpang tidak senang dengan keputusan kepala pelabuhan itu. Mereka berdalih bahwa hidup-mati itu bukan urusan syahbandar, jadi biarkan saja mereka berlayar. Padahal, selama ini kecelakaan pelayaran selalu ditimpakan pada syahbandar. Dilarang salah, tidak dilarang juga salah. Aneh.

Kawan saya juga berkata bahwa pertengkaran ini terjadi karena kita tidak satu visi (not on the same page). Sekelompok pegawai negara memikirkan bagaimana cara agar rakyat bisa hidup tenang dalam suatu bangsa yang adil dan makmur; sedangkan yang lain malah sibuk menyusun rencana agar setiap uang pembangunan dapat masuk sebanyak-banyaknya dalam kantong sendiri. Yang satu bekerja untuk public service, sedang yang lain untuk dirinya sendiri.

Kondisi saat ini mengingatkan kita pada kabar dari langit seperti tersebut di awal. Kiamat, menurut Allah SWT., terjadi saat manusia sedang bertengkar. Artinya pertengkaran adalah suatu tanda kemerosotan moral, peradaban, dan bahkan keimanan. Kemerosotan ini yang menjadi salah-satu sebab dunia ini sudah tak perlu dipertahankan sehingga saatnya digulung dan pengadilan Yang Maha Adil akan segera digelar.

Kiamat kubra (besar) mungkin tidak sedang terjadi, tapi tabiat kita mengarah kepada kiamat shughra (kecil) berupa hancurnya sendi-sendi bangsa. Pertengkaran ini memberi sinyal bahwa keegoisan kita untuk benar sendiri dan gemar menyalahkan orang lain serta kebal kritikan akan membawa kepada kehancuran saja. Jelaslah bahwa pertengkaran ini melemahkan kita. Wallahu’a’lam.

This entry was posted in Al-Furqan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s