Nico Vink: Belajar di Aceh


Kompas.com menurunkan artikel bertajuk “Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh” yang ditulis oleh Nico Vink (lahir di Surabaya  tahun 1928).  Ia pernah tinggal di Aceh semasih kecil. Seorang pengemudi kapal Java-China-Japan Lijn, drs. ekonomi (Amsterdam 1954), ekonomi lalu lintas (Bergen/Noorwegen), KLM (Asia), biro iklan Nijgh/Rotterdam dan KVH/Amsterdam, dosen HEAO (Den Haag), disertasi Macht en Kultuur in Marketing (Tilburg, 1986), dosen Fakultas Obyek Indutrial/Teknik Universitas Delft, dosen tamu di Kopenhagen, Trondheim dan Oslo, Lódz/Polen, Tokaj/Japan, AGSIM (Phoenix USA), penulis buku Verbannen uit Indie (1936-1945) Walburg Pers Zutphen, 2007.

Tulisan Vink berbahasa Belanda, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasti Tarekat. Berikut ini adalah kutipan-kutipan menarik dari tulisan Vink yang oleh Kompas disajikan dalam beberapa bagian itu.

  • “…Tetapi orang Aceh yang bertelanjang kaki menilainya tidak demikian. Di mata mereka, Belanda terperosok dalam perangkap Teuku Umar. Janda Teuku Umar, Cut Nya Dien, juga mempunyai semangat berjuang yang berkobar. Dengarlah bagaimana beliau mengimbau agar rakyat Aceh berjuang melawan penjajah, ”Rakyatku, orang-orang Aceh, ingatlah ini, jangan pernah lupakan! Mereka menentang Allah dan membakar Mesjid Raya (di Kutaraja)! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kafir Belanda!! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata.”….”
  • “…Berbagai lagu rakyat Belanda menunjukkan bagaimana pada saat terjadinya Perang Aceh kita melihat diri kita sendiri sebagai penjajah Belanda yang beradab dan Aceh yang barbar, serta bagaimana beruntungnya saat itu bagi Aceh karena kita ingin ’menciptakan perdamaian’ di sana….”
  • “…Tetapi murid sekolah sebenarnya tidak belajar bagaimana Belanda selama bertahun-tahun menjadi bagian dari petualangan keserakahan, bersaing dan berseteru dengan sesama negara Eropa lain untuk mencari keuntungan dan kekayaan di belahan dunia lain yang jauh dan belum dikenal. Orang Belanda yang baik harus mencari keuntungan, bukan dengan jalan kebaikan tetapi dengan menimbulkan banyak kerusakan. Maka Aceh pun menjadi korban dari keserakahan itu….”
  • “…Maka dalam sekejap berubahlah gambaran tentang negara Belanda yang beradab yang bukan melancarkan perang melainkan pasifikasi dan mengembalikan ketenangan serta menegakkan peraturan, menjadi negara Belanda yang berkhianat, tidak dapat dipercaya, terbius oleh opium dan seks. Tiba-tiba orang-orang Belanda bukan pahlawan lagi melainkan para pembunuh massal….”
  • “…Di makam ini mereka juga melihat nama-nama asal Ambon, Menado dan Jawa yang menjadi bukti betapa kreatifnya Belanda untuk saling mengadu domba orang Indonesia antara satu dengan lainnya. Sementara Jawa sudah beberapa ratus tahun menjadi jajahan Belanda, maka Aceh setelah 70 tahun berperang sebenarnya belum benar-benar berhasil dikuasai oleh Belanda….”
  • “…Begitu banyak monumen bertema Perang Dunia Kedua  namun  monumen Perang Aceh sampai sekarang nyaris tidak mendapat perhatian. Tampaknya ada kecenderungan kuat bahwa kecintaan kita pada kemerdekaan hanya berlaku untuk diri kita sendiri. Orang lain selalu salah dan harus merasa malu jika mereka mengancam dan merebut kemerdekaan kita, tetapi jika kita merampas kemerdekaan orang lain (misalnya rakyat Aceh), maka kita dengan sendirinya segera menerapkan standar keadilan yang berbeda atau kita mengalihkan perhatian ke arah lain….”
  • “…Kita juga seharusnya bersikap jelas dan tidak terlambat menyadari bahwa kita masih bisa belajar banyak dari Perang Aceh. Belajar untuk tidak tergesa-gesa dan melakukan persiapan yang baik sebelum memulai perang. Belajar untuk memeriksa kebenaran dari berita yang kita terima (Irak hingga Aceh!) Ancaman yang muncul tidak harus selalu diselesaikan melalui perang (Aceh yang di seberang lautan hingga bajak laut Somalia)….”
  • “…Bahwa orang lain juga mempunyai hak kemerdekaan yang sama dengan kita. Bahwa kita, orang Belanda, menggunakan standar keadilan ganda dalam usaha untuk menguasai dan menjajah bangsa lain sebagaimana halnya musuh dan lawan-lawan kita (Belanda melawan Aceh tahun 1873 hingga Nazi-Jerman melawan Belanda tahun 1940)-(31)….”
  • “…Sekarang akhir ’Periode Pemerintahan Beatrix’ semakin mendekat, maka saya ingin menyerukan hal ini pada Sang Ratu: Ratu, akan sangat indah sekali jika kita bisa berbaik kembali dengan rakyat Aceh, yang sudah berperang dengan kita begitu lama di masa lalu. Pada tahun 1873 kita mengumandangkan perang pada Aceh. Tetapi perdamaian dengan Aceh tidak pernah tercapai. Tidak pernah. Kini tiba waktunya untuk menyatakan penyesalan kepada Aceh. Permintaan maaf sejujur-jujurnya dari hati yang terdalam. Ingatan akan Perang Aceh sama sekali belum mati.”
This entry was posted in Kutipan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Nico Vink: Belajar di Aceh

  1. waroeng says:

    tulisan yang sangat menarik tentang aceh
    __

  2. Raja tampök says:

    Yah..A good statement from young dutch.. Itu khan bagus merasa bersalah dan ada perasaan menyesal. 70 tahun orang tua kami membela Islam dan kedaulatan negeri ini..Alhamdulillah Belanda kalah dengan sangat menyakitkan pada tahun 1942,,semoga generasi akan datang bisa mengambil pelajaran dari semua ini..Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s