Evakuasi




Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab, “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. {An-Nisa’: 97-99}

[(As for) those whom the angels cause to die while they are unjust to themselves, (the angels) will say What were you doing? They will say We were weak in the earth (They will) say: Was not Allah’s earth spacious, so that you could have migrated therein? So these it is whose refuge is hell and it is an evil resort. Except the weak from among the men and the women and the children who have not the means, nor can they find a way (to escape); So these, it may be that Allah will pardon them. And Allah is ever Pardoning, Forgiving. {An-Nisa’: 97-99}]

Bencana alam agaknya masih terus berlangsung di berbagai belahan dunia. Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan ketentuan-Nya, hidup dan mati bukanlah masalah jika mengikuti segala tuntunan melalui Rasul-Nya. Jika ia mendapat kegembiraan, maka ia bersyukur; sebaliknya jika mendapat musibah, maka ia bersabar.

Ayat-ayat di atas menjelaskan tentang apa yang terjadi dalam sejarah hijrah kaum muslimin dari Makkah ke Madinah. Ternyata ada di antara mereka yang tidak berhijrah dan terbunuh oleh kaum musyrikin. Sayangnya, kematian mereka menurut Allah bukan termasuk syahid, melainkan kezaliman.

Jika kita menganalogikan peristiwa hijrah itu dengan cerita seputar proses evakuasi dalam suatu musibah bencana alam di sekitar kita, maka dapat ditemui sebahagian dari masyarakat yang menolak melakukan evakuasi atau relokasi karena berbagai alasan.

  1. Bagi yang tidak melakukan evakuasi karena ingin mati di kampung halamannya atau karena akan terlindungi dari musibah oleh sebab-sebab yang tidak masuk akal atau selain tuntunan Allah dan Rasul-Nya, maka kita mengkhawatirkan mereka termasuk orang yang menzalimi diri mereka sendiri.
  2. Bagi yang ingin melakukan evakuasi tapi tidak mampu, khawatir kepada harta-bendanya atau ketidakpastian hidup di tempat pengungsian, maka menjadi tanggungjawab pemerintah untuk membantu melakukan evakuasi, memastikan tempat penampungan layak huni, dan mendukung kelangsungan hidup mereka di tempat baru. Begitu pula para ulama yang perlu lebih berperan dalam menjelaskan pada masyarakat di daerah rawan bencana tentang keluasan reseki Allah di bumi-Nya dan bagaimana seharusnya kita bersikap menghadapi ujian ini.

Mudah-mudahan kita lebih siap menghadapi bencana di kemudian hari sejak dari tahap mitigation, preparedness, response, hingga recovery.

This entry was posted in Al-Furqan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s