Quo vadis PSSI


Dalam dunia organisasi, pemerintahan, atau manajemen, terdapat dua hal yang saling bertaut:institusional design dan behavioral performance. Struktur yang bagus perlu dibuat untuk memenuhi segala kebutuhan organisasi dalam menjalankan misi guna meraih visinya. Di sisi lain, orang-orang yang bekerja dalam struktur itulah yang akan mewarnai organisasinya. Jika pada institusional design orang bisa bercerita kekuatan dan kelemahannya langsung saat melihat AD/ART organisasi, maka behavioral performance hanya dapat dilihat seiring berjalannya suatu kepengurusan.

PSSI dapat dilihat dari dua sisi yang disebutkan di atas. Anda bisa menyesuaikan AD/ART PSSI dengan standar internasional yang ditetapkan FIFA, namun itu tidak menjamin PSSI menjadi organisasi modern jika para pengurusnya bermental korup, mengelola secara autokrasi ketimbang meritokrasi, dan semakin kehilangan kepercayaan publik pencinta bola.  Begitu pula, walaupun AD/ART menegaskan bahwa PSSI adalah organisasi independen, tapi dalam perilakunya ternyata pimpinan sebuah partai politik bisa mengintervensi keputusan pengurus karena Ketua PSSI adalah anggota partai itu.

Seusai laga final semalam, kita harus lebih menaruh perhatian pada SISTEM persepakbolaan nasional. Melihat berbagai sisi yang menguatkan dan melemahkan prestasi kita dan bukan hanya sepenggal-sepenggal. Menyalah-nyalahkan bukan tujuan kita, tapi tidak mengakui kesalahan dan tidak meminta maaf juga bukan teladan kita. Agaknya, PSSI perlu belajar dariFirman untuk yang terakhir itu.

 

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s