Memimpin Aceh dengan E-leadership


Arif Arham

Acehinstitute.org, 22 Agustus 2011

Pemilihan umum kepala daerah (pemilu-kada) akan berlangsung di Aceh. Oleh sebab itu, masyarakat sudah bisa mempersiapkan dirinya untuk secara serius menggunakan amanah ini, yaitu memilih pemimpin secara langsung dengan pertimbangan yang matang. Jika salah memilih, maka yang rugi adalah kita juga. Memang, sudah banyak kriteria kepemimpinan ideal yang bisa dijadikan pertimbangan. Namun, kali ini penulis menawarkan tambahan kriteria baru bagi para calon kepala daerah di Aceh ke depan, yaitu memiliki kemampuan e-leadership.

E-leadership adalah suatu istilah yang menyandingkan “e” sebagai simbol bagi hal-hal yang berkaitan dengan elektronik, internet, atau dunia digital dengan “leadership” (kepemimpinan) yang bermakna kemampuan seseorang untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Kasali, 2008). Bahkan menurut Alan Keith (pengusaha suskes di Amerika), kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk menfasilitasi (dari kata to facilitate yang berarti membuat sesuatu menjadi mudah) atau menggiatkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Jadi, dalam konteks ini, e-leadership dapat secara bebas diartikan sebagai kepemimpinan yang memanfaatkan teknologi informatika untuk menggerakkan pembangunan daerah guna mencapai kesejahteraan bersama.

E-leadership menjadi penting untuk dimasukkan dalam keriteria kepemimpinan Aceh ke depan karena teknologi informatika sudah berkembang luas. Hal ini seiring dengan pesatnya penetrasi teknologi seluler yang tidak hanya dipakai untuk telepon dan pesan pendek (SMS); namun, juga layanan data (internet). Bahkan, saat ini sudah ada pusat layanan internet di tiap kecamatan (PLIK) yang merupakan program nasional penyediaan internet bagi masyarakat pedesaan. Artinya, sudah saatnya teknologi ini dimanfaatkan dalam dunia birokrasi untuk melayani masyarakat.

Kepemimpinan gaya baru seperti e-leadership akan mengubah cara pemimpin pilihan rakyat dan birokrasi bekerja. Mereka akan menggunakan teknologi informatika sebagai “pena”, “stempel”, dan “kurir” baru. Ini dapat ditandai, di antaranya, dengan penggunaan e-procurement, e-paper, e-planning, dan e-library.

E-procurement

Hal pertama yang menandai e-leadership dapat dikatakan hadir di Aceh adalah e-procurement. Ini adalah bagian e-leadership yang sangat penting karena pelelangan (procurement) barang/jasa adalah momok bagi pembangunan di Indonesia selama ini. Di sinilah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) mendapatkan lahar suburnya. Karena itu, memperbaiki sistem pelelangan adalah keniscayaan, dan pelelangan secara elektronik atau e-procurement adalah jawabannya.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai fasilitator e-procurement nasional telah berusaha untuk membantu kesiapan tender elektronik ini secara nasional. Sayangnya, walaupun Perpres 54 tahun 2010 mengamanahkan pelaksanaan e-procurement harus sudah dimulai sejak Januari 2012, persiapan ke arah itu masih sangat lambat di Aceh. Menurut catatan LKPP, hingga Juli 2011, e-procurement baru berjalan di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Utara.

Alasan klise bagi keterlambatan implementasi e-procurement adalah bahwa sistem itu hanya akan mematikan pengusaha/kontraktor lokal. Padahal, di Banda Aceh misalnya, ada perusahaan-perusahaan lokal yang dulunya tidak pernah menang dalam tender secara konvensional justru menang ketika e-procurement diterapkan. Sehingga, boleh jadi alasan yang sebenarnya adalah ketidakmauan para kepala daerah belaka karena e-procurement mempersulit peluang kongkalingkong birokrat, politisi, dan kontraktor.

E-paper

Sejalan dengan diperkenalkannya e-procurement secara masif ke seluruh nusantara, sistem birokrasi pun ikut berubah, mendukung kepemimpinan bergaya e-leadership. Birokrasi mulai bekerja dengan e-paper atau paperless (tidak menggunakan kertas). Kegiatan surat-menyurat dengan e-mail (surat elektronik) mulai menggantikan mesin ketik, faksimili, fotokopi, dan mesin cetak (printer). Akibat langsungnya adalah anggaran alat tulis kantor (ATK) yang selama ini menggerus jatah belanja publik akan berangsur-angsur berkurang.

Lalu, bagaimana dengan keabsahan e-mail? Jangan lupa, kita telah memiliki UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjamin bahwa setiap transaksi elektronik memiliki kekuatan hukum yang sama dengan surat yang ditandatangani dan distempel basah. Dalam proses e-procurement, misalnya, hampir semua proses pengesahan dokumen lelang dilakukan secara elektronik menggunakan tandatangan digital sesuai undang-undang tersebut.

Hal lain yang menarik adalah e-paper sangat mendukung visi Aceh selama ini, yaitu menjaga hutan untuk kehidupan. Namun, e-leadership bukanlah kepemimpinan yang hanya mendorong penjagaan hutan karena dibayar sponsor dari negara maju; tapi yang lebih penting adalah menggiatkan birokrat untuk bekerja dengan sesedikit mungkin menggunakan kertas hasil olahan kayu.

E-planning

Selain e-procurement dan e-paper, para bupati, walikota dan gubernur di Aceh ke depan mestilah orang yang menerapkan e-planning yang ditandai dengan pelibatan masyarakat seluas mungkin dalam membantu perencanaan.

Dalam e-planning, masalah publik yang memerlukan kajian ilmiah atau yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dipublikasikan dalam website pemerintah. Untuk mendapatkan solusi sebagai landasan kebijakan, dilakukan riset (dengan melibatkan akademisi/peneliti) atau public inquiry (meminta masukan masyarakat). Semua pendapat akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, dan bahkan ibu rumah tangga terbuka untuk dibaca publik secara online. Alhasil, kebijakan yang diambil pemerintah tidak akan jauh berbeda dengan aspirasi masyarakat.

E-planning dapat pula diikuti dengan e-monitoring dan e-reporting. Ini terbantu oleh jaringan selular yang luas dan maraknya telepon selular (ponsel) yang dilengkapi kamera dan Global Positioning System (GPS). Para pemimpin di Aceh yang memiliki kapasitas e-leadership dapat menggunakan perkembangan ini untuk, misalnya, memantau realisasi pembangunan infrastruktur secara langsung (realtime) dari stafnya, lengkap dengan foto dan koordinat lokasi di peta.

E-library

Hal lain yang menandai munculnya e-leadership di Aceh adalah jika dokumen pembangunan, sejak dari perencanaan hingga evaluasi, dapat dengan mudah diakses publik menggunakan teknologi informatika. Inilah yang disebut sebagai e-library, yang dalam konteks ini berarti suatu pustaka maya yang berisi data publik sesuai dengan UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik untuk diakses masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, di masa mendatang kemampuan mengakses e-library perlu dijadikan sebagai prasyarat pencalonan kepala daerah. Lihatlah misalnya, kemampuan membaca Al-Quran yang diujikan sebenarnya baru sebatas mengukur kemampuan para bakal calon itu dalam “melafalkan” tulisan arab. Padahal, sebagai ulee balang pelaksanaan syariat Islam, pemimpin kita membutuhkan pemahaman ajaran Islam sedalam dan seluas-luasnya. Dengan e-library, para pemimpin Aceh akan secara mudah mendapatkan kajian isi Al-Quran, hadist, dan fatwa-fatwa ulama karena sangat banyak buku digital (e-book) yang dapat diunduh secara cuma-cuma. Singkatnya, kemampuan menggunakan e-library inilah yang mestinya juga diujikan saat tes membaca Al-Quran. Si bakal calon, misalnya, dapat diajukan satu masalah, dan ia mencari jawabannya menurut Islam dari e-library.

Akhirnya, adalah tanggung jawab para intelektual dan jurnalis sejati untuk mendampingi para calon pemilih dengan pendidikan politik yang baik. Hanya dengan begitu pemimpin yang berkualitas memenangkan hati rakyat. Mudah-mudahan, akan hadir pemimpin-pemimpin Aceh seperti itu lengkap dengan kemampuan e-leadership karena begitulah tuntutan zaman. Mereka diharapkan dapat menggerakkan seluruh aneuk nanggroe melakukan perubahan dengan bekerja secara cerdas. Jika kita telah melakukan perubahan seperti itu pada diri kita, maka giliran Allah menentukan perbaikan nasib Aceh ke depan.

Arif Arham

-anggota Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Aceh.

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s