Wawancara dg Aneka Jepang



Beberapa waktu yang lalu, Majalah Aneka Jepang terbitan Kedubes Jepang di Jakarta mewawancarai kami terkait kegiatan “ASEAN Youth Caravan of Goodwill”. Wawancara ini dimuat pada edisi 334 tahun 2011.

1. Bagaimana Anda dapat terpilih menjadi peserta ASEAN Youth Caravan of Goodwill dan apa alasan Anda mengikuti program ini?
Saya merupakan survivor bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh tahun 2004. Saya mendapatkan informasi dari milis para penerima beasiswa Fulbright dari Aceh (program pemberian beasiswa bagi daerah yang terkena tsunami di Indonesia). Kemudian saya mendaftar dan mengirimkan CV. Alasan saya mengikuti program ini adalah karena saya ingin membalas kebaikan para relawan yang pernah membantu Aceh. Saya pernah berobat di klinik darurat yang dibangun relawan Jepang awal tahun 2005 di Banda Aceh. Saya bisa merasakan betapa berat musibah itu dan sekaligus betapa senang jika ada yang datang membantu. Ini mungkin yang saya maksud dengan human bond / ikatan kemanusiaan.

2. Kegiatan apa saja yang Anda lakukan selama berada di Jepang?
Mengunjungi lokasi gempa dan tsunami di Provinsi Miyagi; melakukan pembersihan lumpur di salah-satu gedung di Ishinomaki; juga bersama teman-teman menghibur penduduk setempat dengan kegiatan masak dan menari/menyanyi.

3. Hal apa yang mengejutkan Anda saat berada di Jepang?
Saya tiba di Miyagi sekitar tiga bulan pasca bencana, dan saya masih melihat proses pembersihan daerah yang terkena dampak bencana masih belum selesai. Bagi saya, untuk ukuran Jepang proses itu sangat lambat. Namun, menurut penjelasan pemandu, proses yang lambat ini disebabkan oleh pemilahan benda metalik dan non-metalik yang membutuhkan ketelitian dan waktu. Saya melihat semangat untuk menjaga lingkungan hidup tetap diutamakan dibandingkan hanya menunjukkan kepada media bahwa daerah bencana telah dibersihkan. Lagi pula, pekerjaan lain seperti pemindahan penduduk ke daerah yang aman juga terus dilakukan.

4. Bagaimana kesan Anda saat mengunjungi wilayah yang tertimpa bencana gempa?
Saya mencium lagi bau khas lumpur seperti yang tercium saat membersihkan rumah kami di Banda Aceh enam tahun lalu. Ingatan saya melayang ke masa-masa sulit tahun 2005 yang lalu. Saya bersyukur bisa ikut membantu semampu saya sebagaimana masyarakat Jepang datang ke Aceh membantu kami dahulu.

5. Pengalaman apa yang paling mengesankan selama kunjungan ini?
Jepang sebagai negara dan sebagai bagian dari kebudayaan besar dunia memberi pelajaran penting dalam hal menghadapi masa-masa sulit. Walaupun segala ilmu pengetahuan dan teknologi kebencanaan telah dikuasai, namun kebutuhan human bond tak dapat tergantikan. Karena itu, saya sangat senang melihat wajah-wajah penduduk setempat yang ramah dan terharu melihat kedatangan kami. Mereka mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Saya menemukan bahwa di balik kecerdasan, kesantunan, dan kekuatan dalam dirinya, orang Jepang juga memiliki rasa berterima kasih yang tinggi.

6. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda Indonesia sepulang dari Jepang?
Kita harus belajar dari Jepang, tetapi bukan hanya teknologinya, melainkan juga semangat pantang menyerah, tekun, kreatif, melakukan yang terbaik, disiplin, ramah, bersahabat, dan yang lebih penting pandai berterima kasih.

This entry was posted in Kegiatan. Bookmark the permalink.

One Response to Wawancara dg Aneka Jepang

  1. Calvin says:

    Pengalaman yang cukup berharga bagi setiap peserta ASEAN Youth Caravan of Goodwill : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s