Investasi Pendidikan di Aceh


Dunia investasi di Aceh menghadapi tantangan yang tidak ringan pasca konflik dan bencana alam. Hasil kajian World Bank pada tahun 2009, misalnya, menyimpulkan bahwa kekurangan listrik dan pungutan liar menjadi hal yang menghambat investasi di Aceh. Walau masalah infrastruktur atau kepastian hukum sudah mulai dibenahi, tantangan investasi yang lebih besar sebenarnya ada pada pola pikir umum yang menganggap bahwa investasi hanya berkaitan dengan usaha pertambangan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pabrik, dan perdagangan. Padahal, pendidikan adalah juga obyek investasi yang tak kalah menguntungkan.

Investasi pendidikan setidaknya memiliki dua dimensi. Pertama, meningkatkan kapasitas pribadi dengan mengikuti berbagai program jenjang pendidikan untuk kebutuhan hidup di masa depan. Kedua, menanamkan modal dalam pembangunan dan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan. Kedua dimensi ini sesungguhnya saling berkaitan karena kebutuhan seseorang akan pendidikan mengharuskan tersedianya layanan pendidikan, baik oleh institusi swasta maupun negeri.

Investasi di bidang sumberdaya alam memang menarik dan sesuai dengan kondisi alam Aceh. Tapi, belajar dari negara lain dan berkaca dari konflik Aceh puluhan tahun, investasi di bidang ini berpeluang dijangkiti “resource curse”, yaitu kondisi di mana kekayaan sumberdaya alam Aceh tidak memberi kontribusi positif pada perbaikan kualitas hidup masyarakatnya. Ini dikuatkan oleh data BPS tahun 2008 yang menyimpulkan bahwa Aceh adalah provinsi termiskin ke-7 di Indonesia. Karena itu, Aceh perlu membuka diri untuk melihat peluang investasi pendidikan di masa datang.

Berbeda dengan investasi di bidang sumberdaya alam, investasi pendidikan tidak terikat pada posisi strategis secara geografis dan tidak pula pada kekayaan alam. Investasi pendidikan dapat dibuat atau diciptakan. Modalnya adalah kemauan dan ikhtiar untuk melakukannya. Kemauan ini dapat dilihat di Aceh sejak anggaran pendidikan dalam APBA meningkat hingga 20%. Saat ini, salah-satu indikator kinerjanya yang dapat diukur adalah jumlah penerima beasiswa dalam dan luar negeri yang terus meningkat. Artinya, sekarang Aceh layak memiliki harapan masa depan di mana kita tidak perlu lagi mengandalkan kondisi alam sebagai kekuatan peningkatan kesejahteraan. Kekuatan baru Aceh ke depan adalah kualitas manusianya yang meningkat dan membuka diri untuk melakukan diversifikasi investasi di segala sektor yang bermanfaat bagi kehidupan.

Selain beasiswa, perlu diciptakan program lain untuk memanfaatkan dana pendidikan dari APBA. Cerita baucar (voucher) buku di Malaysia sebagaimana dikisahkan Sukma Hayati Zaini ZA (Serambi, 24/02) patut menjadi contoh insentif bagi dunia pendidikan Aceh. Selain itu, penghargaan pada prestasi pendidikan perlu diberikan karena, sebagaimana yang terlihat dari reportase Serambi tentang prestasi pelajar dan institusi pendidikan, masyarakat Aceh memang senang bersekolah dan berprestasi. Yang paling penting, program apapun yang dibuat perlu didukung oleh wakil rakyat dengan menelurkan qanun yang pro investasi pendidikan.

Mendukung investasi pendidikan berarti menjaga diri dari kebangkrutan karena investasi ini memiliki peluang yang lebih besar untuk terus aktif dalam jangka panjang dibanding investasi pada sumberdaya alam atau industri. Kota Buffalo di Amerika Serikat dapat menjadi contoh. Kota ini awalnya adalah kota industri dan pelabuhan serta kota wisata dunia karena memiliki Air Terjun Niagara. Lalu, sebuah universitas negeri didirikan di sana. Ketika persaingan perdagangan antarnegara meningkat dan upah buruh di AS naik, aktifitas pabrik di Buffalo terpaksa dipindah ke negara-negara berkembang. Apa yang tertinggal di Buffalo? Pabrik-pabrik yang menjadi besi tua, kawasan wisata Niagara, dan University of New York at Buffalo. Perdagangan dan jasa tumbuh subur guna memenuhi kebutuhan mahasiswa dan pelancong yang ada di sana. Institusi pendidikan berkualitas ini telah menggantikan pabrik-pabrik itu dan menjadi tulang punggung baru penggerak perekonomian kawasan sekitar.

Pengalaman Buffalo dan tempat-tempat lain yang bernasib sama mestinya dapat dijadikan cermin untuk melihat bahwa investasi pendidikan dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di Aceh, kita dapat mengambil Bireuen sebagai contoh. Kabupaten ini memiliki usaha di bidang perikanan, pertanian, perkebunan, dan bahkan suatu kawasan perindustrian sudah pula disiapkan dalam rancangan tata ruangnya. Namun, jika Anda bertanya pada orang-orang yang pernah tinggal di Bireuen, “Apa yang menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Bireuen?” Jawabannya adalah pendidikan dan perdagangan/jasa. Di bidang pendidikan, Universitas Al-Muslim Peusangan menjadi aktor penting yang memperkuat ruh pendidikan daerah ini sehingga melahirkan banyak institusi sejenis di kemudian hari. Inilah yang semestinya menjadi kekuatan Bireuen; berfokus pada investasi di bidang pendidikan dengan menyediakan iklim yang kondusif bagi pendidik, penuntut ilmu, dan penanam modal di bidang pendidikan. Sebagaimana Buffalo, perdagangan dan jasa akan mengiringinya.

Pembukaan institusi pendidikan baru merupakan salah-satu indikator meningkatnya investasi pendidikan. Pemerintah atau swasta dapat melakukannya dengan dukungan masyarakat. Untuk ini, kita bisa belajar dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan masyarakat Blangkejeren, Gayo Lues. Di daerah hulu ini sedang dikembangkan suatu institusi pendidikan tinggi. Meminjam istilah yang biasa dipakai di AS, seperti “University of New York at Buffalo”, akan hadir semacam ”Universitas Syiah Kuala di Blangkejeren”. Sistem dan pendanaan kampus ini menyatu dengan Unsyiah di Darussalam sebagai perguruan tinggi negeri. Yang menarik, cabang Unsyiah ini memiliki program studi yang sesuai dengan potensi kawasan setempat, seperti bidang agrobisnis, ekowisata dan kehutanan. Yang tak kalah penting, dukungan masyarakat dalam penyediaan lahan kampus patut diacungi jempol.

Model investasi Unsyiah di Blangkejeren telah mempercepat penetrasi pendidikan di daerah-daerah dengan tetap menjaga kualitas pendidikan. Bukan tidak mungkin, cabang-cabang universitas luar negeri pun dapat dibangun dengan model ini. Texas A&M University at Qatar, misalnya, adalah cabang universitas negeri koboi itu di Timur-Tengah. Institusi ini dibangun atas kerjasama universitas tersebut dengan suatu yayasan setempat. Siapa tahu, jika ada swasta atau yayasan di Aceh yang mau berinvestasi, pada suatu ketika akan lahir “Texas A&M University at Aceh”. Dengan investasi ini, Aceh masa depan akan menjadi pusat keunggulan (center of excellence) yang akan melayani mahasiswa dari berbagai negara untuk mendapatkan pendidikan berkelas internasional di bidang perdamaian, politik, keislaman, kebencanaan, teknologi, dan lain-lain.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

One Response to Investasi Pendidikan di Aceh

  1. Sukma Hayati says:

    Terima Kasih informasi tentang Baucar buku menjadi Inspirasi bagi kita semua. Semoga pemerintah mau berbuat lebih demi pendidikan di Aceh :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s