Pertanggunganjawab


Tok…tok… Pimpinan Sidang menenangkan para anggota dewan yang mulai riuh. Pasalnya, tamu yang ditunggu tak kunjung tiba. Sudah 30 menit acara molor dari yang dijadwalkan.

“Ini penghinaan pada Dewan, Pimpinan!” Teriak satu orang wakil rakyat.

“Ya, kami tidak mau diwakilkan oleh Wakil Bupati atau para kepala dinas. Ia harus hadir sendiri dan menyampaikan pertanggungjawabannya sebagai pimpinan kabupaten ini!” Seorang lagi menimpali dengan tegas.

Pimpinan sidang berusaha menenangkan. “Ya, kita sudah upayakan menghubungi ajudannya. Dari informasi yang kami terima, Bupati akan segera ke sini.”

“Pimpinan, kita beri waktu 10 menit lagi. Jika Bupati tak hadir, kita bubar!” usul seorang wakil rakyat yang duduk paling belakang. Semua mengamininya.

Dua menit sebelum batas waktu yang diberikan tiba, seorang lelaki kurus, berkumis tipis, berambut lurus, memasuki ruangan sidang dengan tenang dan mantap. Ia adalah sang tamu yang ditunggu itu. Pimpinan langsung mempersilahkannya duduk dan mulai membuka kembali sidang yang sempat tertunda itu.

“Saudara Bupati, kami merasa kecewa dengan keterlambatan ini,” Pimpinan Sidang membuka keheningan. “Ini teladan yang buruk bagi kita semua. Penonton televisi di rumah melihat sidang ini dan tentu ikut kecewa kepada Saudara.”

Bupati duduk dengan mata memandang ke seluruh ruangan. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Bibirnya ia kulum seakan memahami situasi yang dirasakan para wakil rakyat itu.

Pimpinan Sidang lalu melanjutkan, “Untuk mempersingkat waktu, kami persilahkan Saudara Bupati untuk menyampaikan Laporan Pertanggungjawabannya sebagai Bupati selama lima tahun ini.”

Para wakil rakyat yang pada hari itu hadir dengan berdasi itu mulai riuh lagi, menumpahkan kekecewaannya pada rekan di sampingnya.

Sang Bupati menaiki podium.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” sang Bupati membuka pidato terakhir dalam masa jabatannya itu.” Seusai memuji Allah dan bershalawat pada Nabi, ia berkata dengan tenang, “Saudara-saudara anggota dewan yang terhormat, mohon maaf atas keterlambatan sa….”

“Sudah! Langsung saja dibacakan laporan pertanggungjawabannya. Tak perlu basa-basi!” potong seorang anggota dewan yang berpeci hitam berukiran emas dengan gemasnya. Yang lain mengiyakan.

“Baiklah,” lanjut Bupati, “permohonan maaf saya ini berkaitan erat dengan isi laporan pertanggungjawaban saya.” Ruang sidang mulai tenang dan menyimak apa yang hendak dikatakan Bupati.

“Tadi pagi saya sudah masuk ke dalam mobil dinas jam 07.30 dengan tujuan gedung dewan perwakilan rakyat ini. Rencananya, saya bisa tiba di sini lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan beramah-tamah dengan para pimpinan dewan.” Bupati mulai bercerita dan agaknya melupakan konsep laporan pertanggungjawaban yang dipegangnya.

“Sopir saya, Pak Sabar,” ia melanjutkan, “seorang yang tangkas dalam menjalankan profesinya selama saya menjadi Bupati. Namun, pagi ini, saat keluar dari pintu pagar rumah, ia tak dapat mengelak dari seorang pengendara motor yang berjalan cepat. Kami ditabraknya!”

“Ya, kami paham kalau begitu, Saudara Bupati,” Pimpinan Sidang berusaha mengingatkan Bupati untuk segera membaca laporan pertanggungjawabannya.

Sang Bupati mengangguk, namun ia tetap melanjutkan ceritanya. “Sebagaimana saya katakan tadi, ini sangat berkaitan dengan isi laporan saya. Izinkan saya melanjutkan, Pimpinan Sidang.”

“Mohon dipersingkat,” timpal Pimpinan Sidang lagi.

“Saya segera turun seusai ditabrak. Ya, ia memang menabrak kami, padahal jika ia berjalan lebih pelan tentu ia dapat melihat mobil kami dan dapat mengontrol kendaraannya.” Bupati meyakinkan bahwa itu bukan kesalahan Pak Sabar.

“Pengendara itu jatuh dan wajahnya dipenuhi darah. Di tengah keterkejutan dan rasa marah saya, tiba-tiba ada suara kecil dari samping saya. Seorang anak terduduk tak jauh dari sepeda motor itu. Karena panik, saya tak sempat memperhatikan kalau bapak itu membonceng seseorang.” Bupati bercerita dengan mengggerak-gerakkan tangannya sebagaimana kebiasaannya jika ia sedang berpidato.

“Anak itu berusaha bangkit dan tampaknya tak mengalami luka. Ia lalu berkata pada saya: “Pak, maafkan Ayah saya karena menabrak Bapak. Ia lagi buru-buru karena takut saya terlambat sekolah,” lanjut Bupati itu mengutip si anak penabrak mobil dinasnya.

Sejenak Sang Bupati menghentikan ceritanya. Ia menghela napas dan melanjutkan. “Saya tertegun mendengarkan perkataan anak berseragam SMP itu. Saya hampir lupa mengangkat ayahnya yang terjatuh jika Pak Sabar tidak segera mencoba meraih tangannya yang terkulai. Lalu, kami segera membawanya ke rumah sakit.”

“Saya bisa saja melanjutkan perjalanan ke sini, tapi saya tak tega meninggalkan anak kecil itu di ruang tunggu sendirian. Ia, yang masih muda, terlambat sekolah, meminta maaf atas kesalahan ayahnya yang ngebut dan menabrak kami pagi ini. Ya, saya menemaninya dan bercakap-cakap dengannya sambil meyakinkan dia bahwa saya telah memaafkan ayahnya.” para anggota dewan serius menyimak cerita sang Bupati sambil mengira-ngira ke mana hubungannya dengan laporan pertanggungjawabannya.

“Kami di situ hingga seorang perawat datang dan mengabarkan bahwa ayahnya tidak mengalami luka serius dan sudah membaik.” Bupati mengakhiri ceritanya.

“Saudara-saudara sekalian, agaknya itulah prestasi saya selama lima tahun ini.” Bupati menyimpulkan.

Sebelum lepas keheranan para anggota yang terhormat itu, Sang Bupati melanjutkan. “Saya pikir karakter anak-anak kita adalah yang terpenting bagi masa depan daerah kita. Anak kecil yang ayahnya menabrak kami tadi pagi adalah mutiara kita. Meminta maaf secara ksatria adalah karakter yang teramat susah kita temui dalam kehidupan kita dewasa ini. Saya yakin, banyak anak-anak lain yang seperti dia di daerah kita. Hemat saya, inilah prestasi terbesar kami selama memimpin kabupaten tercinta ini, yaitu membentuk karakter manusia yang adi luhung,” ungkap Bupati dengan yakin.

“Jika para anggota dewan ingin mengetahui prestasi di bidang infrastruktur dan pelayanan jasa di berbagai sektor pembangunan fisik, maka itu sudah tertera dalam laporan saya setiap tahun dan di website pemerintah kabupaten. Saya tak perlu membaca lagi di sini.” Bupati menutup map yang berisi laporannya.

“Meminta maaf dan jujur adalah modal kita untuk membangun di masa depan, dan saya merasa senang menemukan bibitnya pagi ini. Wassalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.” ujarnya menutup pidato singkat di pagi itu.

Plok..plok..plok….satu demi satu para anggota dewan bertepuk tangan dan berdiri menyikapi pidato pertanggungjawaban Bupati. Sambil berjalan ke tempat duduknya, sang Bupati menyalami Pimpinan Sidang satu persatu dengan erat. Tampak bulir bening di matanya tanda kesuksesan.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s