Ketika Dahlan Iskan Bertamu ke M.A. Jangka


Tulisan ini subjektif karena menyangkut orang tua kami, M.A. Jangka (Pak MA). Namun, ini dinukilkan sebagai ingatan pada teladan yang baik dari orang tua kepada anak-anaknya.

Dahlan Iskan (Pak DI), Menteri BUMN saat ini, akan berkunjung ke Universitas Al-Muslim Peusangan di Matangglumpang Dua, Kabupaten Bireuen, pada tanggal 1 September 2012. Menurut Serambi (31/08/2012), ia akan memberi kuliah umum dan mengunjungi perkebunan perguruan tinggi itu yang didukung BUMN. Kuliah umum akan diberikan Pak DI di “Auditorium M.A. Jangka”. Karena itulah, judul postingan ini menggambarkan kunjungan menteri terkenal ini ke tempat Bapak kami sering beraktifitas dulunya.

Kehadiran Pak DI di ranah publik menjadi suatu fenomena tersendiri karena mengingatkan saya pada sosok Bapak. Ada kesamaan pada keduanya, yaitu mereka adalah “orang-orang gila” di masanya.

Pak MA adalah Camat Peusangan pertengahan tahun ’70-an hingga pertengahan ’80-an. Ia terkenal karena tiga hal: irigasi Pante Lhong, sekolah, dan kejujuran.

Untuk membuat irigasi pada saat itu bukanlah perkara mudah. Dana terbatas adalah salah-satunya. Namun, bersama para keuchik (kepala desa), Pak Camat MA merencanakan satu hal gila: gotong-royong bergantian antar-kampung untuk membangun bendungan Pante Lhong. Saya berumur empat tahun ketika proyek massal ini dimulai. Menurut Ibu, setiap kampung memiliki jadwal masing-masing untuk aktif berperan membantu pembangunan bendungan. Bahkan, beberapa sekolah menegah atas juga menyempatkan anak didiknya untuk ikut turut bergotong royong di Pante Lhong.

Beberapa bulan lalu, seorang petugas pencatat listrik PLN datang ke rumah di Banda Aceh. Ia bertanya, “Ini rumah Camat MA?” Ia tak mengenaliku, mungkin ia pikir saya penyewa rumah Pak MA. Soalnya, postur tubuh Bapak dan saya berbeda. Ia kurus sedangkan saya gemuk dan lebih mirip Ibu.

“Saya dari Pante Gajah, Matangglumpang Dua, ingat betul sama pembangunan bendungan Pante Lhong.” ia mulai bercerita sambil membuka kamera sakunya untuk memotret angka meteran listrik.

“Pak MA adalah orang yang begini…,” ia berkata begitu sambil mengacungkan ibu jari. Saya bertanya, “Maksudnya?”

“Pak MA itu pejabat yang tak main tunjuk sana-tunjuk sini kalau sedang bergotong royong. Ia langsung turun dalam parit mengangkat batu bersama masyarakatnya,” petugas itu bersemangat bercerita dan terus bekerja.

Ia kemudian beranjak ke rumah tetangga meninggalkan saya yang tertegun. Tertegun karena ada penduduk Peusangan yang masih ingat pada Camat MA dan momen gotong-royong massal itu.

Hal kedua yang terkenal dari Pak M.A adalah sekolah. Saat itu, yang direncanakannya adalah kehadiran sarana pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Maka, bersama teman-temanya ia mulai menghidupkan Yayasan Al-Muslim yang mengurus berdirinya Perguruan Tinggi Al-Muslim.

Usaha memperbanyak sekolah menengah juga besar. Ketika itu, setiap kecamatan hanya mendapat jatah satu SMA. Setiap SMA diberi nama sesuai nama kecamatan. Yang ada saat itu adalah “SMA Peusangan”. Namun, kebutuhan masyarakat melebihi daya tampung sekolah tingkat atas itu sehingga perlu ada SMA satu lagi. Cara yang dilakukan adalah dengan mengusahakan ketersediaan lahan untuk ruang belajarnya dan menghilangkan  kata “Peusangan” pada nama bakal SMA baru itu. Cara ini memberi peluang bagi dizinkannya pembangunan SMA kedua di kecamatan tersebut.

Selain irigasi Pante Lhong dan sekolah, yang saya ingat tentang Bapak adalah tentang kejujuran. Saya belum pernah mendengar hal ini hingga suatu ketika seorang teman di kantor yang juga tamatan sekolah camat (APDN) menuturkan bahwa Pak MA adalah salah-satu pejabat yang jujur di masanya. Memang, Ibu pernah bercerita bahwa ia berpesan sama Bapak agar hati-hati dengan pekerjaannya sebagai pejabat daerah. Jangan sampai Bapak membawa pulang harta yang tidak berhak untuk keluarga.

Akhlak dan akidah menjadi wejangan Bapak pada anak-anaknya setiap usai shalat berjamaah di rumah. Istri saya yang satu kampung dengan kami sering mendengar ceramah Bapak di meunasah atau masjid saat taraweh. Yang menarik, menurut isteri saya, ceramah Bapak enak didengar karena sederhana dan berisi. Menurutnya, Bapak pasti banyak membaca sehingga wawasannya luas. Ya, memang di rumah ada rak buku koleksi Bapak. Sebelum berceramah, biasanya Bapak membaca beberapa buku koleksinya. Kami biasanya mendapat materi ceramah lebih awal dari orang kampung. Sebabnya, saat magrib habis buka puasa, Bapak berceramah dulu ke anak-anaknya sebelum disampaikannya saat taraweh malam itu. Bagi saya, ceramah Bapak tidak hanya berisi, tapi juga penuh humor cerdas.

Kehadiran Pak DI di Al-Muslim sangat unik bagi saya. Seolah dua orang yang sewatak dan sikap pada akhirnya “bertemu”. Saya yakin, Pak DI akan memberikan kuliah yang mungkin juga akan diberikan Bapak saat hidup tentang ingat pada Allah, bekerja keras dan cerdas, kreatif, jujur, dan ikhlas membangun untuk masyarakat yang lebih sejahtera.

This entry was posted in Bin M.A. Jangka. Bookmark the permalink.

One Response to Ketika Dahlan Iskan Bertamu ke M.A. Jangka

  1. Pak MA memang mantap, geutem tren langsoeng u lapangan meunyoe gotong royong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s