Masbuq


Saat ini, saya sedang mengerjakan pekerjaan rutin kantor pemerintahan, yaitu menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Tapi, saya tidak hendak membahas topik “berat” tentang apa yang saban tahun diperbuat pemerintah itu. Saya hendak berkisah tentang Pak Azwar Abubakar. Ya, ia adalah “panglima” LAKIP saat ini karena posisinya sebagai Menteri Pendayagunaan Apartur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB). Singkatnya, saya mengerjakan LAKIP; kemudian ingat Pak Azwar; lalu, ingat kisah berikut ini.

Sebelum jadi Menteri PAN-RB, Pak Azwar adalah Wakil Gubernur Aceh yang kemudian menjadi Penjabat Gubernur. Saya saat itu bekerja sebagai staf biasa di Kantor Gubernur Aceh. Setiap waktu shalat, azan dikumandangkan di mushalla kantor. Para pegawai dan tamu yang berkunjung biasanya shalat berjamaah di sana. Menurut amatan saya ketika itu, Pak Azwar selalu menyempatkan diri ikut shalat berjamaah.

Di suatu ashar yang cerah, saya agak terlambat datang ke mushalla. Saya segera mengambil wudhu dan berdiri di saf paling belakang di sebelah kiri imam mengikuti rakaat pertama yang hampir kelar. Pada waktu rakaat keempat, tiba-tiba seseorang berdiri di sebelah kiri saya. Ia masbuq dan mungkin satu-satunya jamaah terakhir.

Shalat berakhir. Imam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri diikuti oleh makmum. Begitu saya menoleh ke kiri, orang yang masbuq tadi bangun melanjutkan rakaat yang tertinggal. Saya melihat orang berbadan besar dan tinggi itu. Saya terkejut. Wajahnya sangat terkenal. Ia adalah Wakil Gubernur Aceh, Azwar Abubakar! Sejenak saya tercenung sebelum akhirnya merubah posisi duduk bersila, menunggu hingga ia selesai shalat karena ingin bersalaman dengannya.

Kisah sore itu memiliki kesan tersendiri dan selalu saya ingat. Tiga gubernur/wakil gubernur pernah sekantor dengan saya. Hanya Pak Azwar yang rutin dan rajin ke mushalla. Ia kerap menjadi makmum saja dan akrab dengan jamaah lain. Kisah ini mungkin ada manfaatnya saat saya menyusun LAKIP seperti sekarang ini, yaitu semangat untuk memperbaiki kinerja sebagai bagian dari jamaah besar bangsa ini. Tak ada kata terlambat. Menjadi masbuq pun tak mengapa selama tak lepas dari dan untuk kepentingan jamaah/publik.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s