Perencanaan Pura-Pura


Apa yang membuat kita tetap tidak maju-maju? Salah-satu jawabnya adalah karena kita membuat perencanaan pura-pura (fake planning). Seolah-olah kita telah menggunakan alat modern, yaitu perencanaan pembangunan, dalam membangun daerah atau negara kita. Namun, yang sesungguhnya terjadi tidak demikian. Kita berpura-pura merencanakannya dengan detil, baik dalam tahapan, indikator, output, outcome, maupun anggarannya. Yang sebenarnya terjadi adalah kita membangun daerah secara spontanitas, pragmatis, dan reaktif untuk jangka sangat pendek.

Kuntowijoyo dalam salah-satu tulisannya pernah menyebut istilah pragmatisme-religius. Ia maksudkan itu sebagai melakukan sesuatu yang bermanfaat (menguntungkan) diri tapi tetap dengan memegang nilai-nilai moral. Tidak mengapa pragmatis, namun kemanfaatan yang diperoleh tidak menghalalkan segala cara. Tuntunan agama mestilah jaya dalam waktu yang bersamaan karena “semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan, dan kemanusiaan”.

Lihatlah dokumen perencanaan pembangunan daerah kita. RPJP, RPJM, Renstra, Roadmap, Blue Print, dan berbagai jenis lainnya yang begitu formal, kaku, lux, ditandatangani pejabat publik dan distempel. Apakah dokumen itu dipakai (living document), ataukah dicetak banyak dan lalu disimpan di lemari (sleeping document)? Apakah setiap orang akan mengacu ke dokumen-dokumen itu jika melihat listrik tak memiliki daya yang cukup; jalan-jalan masih becek; atau saat transportasi publik tak ada?

Apa yang dilakukan penduduk suatu desa di pelosok Aceh beberapa waktu lalu dengan memblokir jalan desanya karena tidak diaspal bertahun-tahun merupakan bukti bahwa dokumen perencanaan tidak memandu pemerintah dan rakyatnya dalam pembangunan. Tak ada yang tahu tahun depan apa yang dibangun, dua tahun lagi apa, dan dalam lima tahun akan jadi apa daerahnya. Mungkin ada tersebut dalam dokumen perencanaan yang serius dibuat, tapi lagi-lagi karena perencanaan pura-pura, implementasinya spontanitas, pragmatis, dan reaktif untuk jangka sangat pendek.

Masalah yang dialami masyarakat adalah nyata, bukan pura-pura. “Orang digerakkan oleh urusan yang nyata dan kesadaran akan nilai,” sebut Kuntowijoyo lagi. Kita harus berhenti dari kepura-puraan. Dana dan waktu kita terbatas. Bahkan karena itulah ilmu perencanaan lahir untuk mengelola sumberdaya yang terbatas itu. Jika dan hanya jika sumberdaya tak terbatas maka kita boleh berpura-pura atau bahkan tak membuat perencanaan. Selama syarat itu tidak terpenuhi, maka perencanaan yang benar, matang, dan serius diimplementasikan secara taat harus menjadi komitmen kita semua.

This entry was posted in Cang Panah, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s