Masjid Ramah Anak


Masjid Ramah Anak

Di College Station, kota pelajar negara bagian Texas, AS, berbagai bangsa hidup dan belajar bersama. Tak terkecuali kaum muslimin. Mereka berasal dari Timur-Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, dan tentu saja Asia Tenggara. Karena kebutuhan warga muslim, sejak tahun 1980-an dibangunlah masjid permanen di seputaran kampus. Masjid ini dapat menampung sekitar 500 jamaah. Di lantai atas, terdapat kantor, perpustakaan, ruang rapat yang biasa digunakan untuk berbuka puasa, dan ruang anak.

Pada umumnya, masjid di Amerika Serikat ramah dengan anak-anak. Setiap orang tua dapat dengan mudah membawa bayi dalam sebuah car-seat (tempat duduk bayi untuk diletakkan di mobil) ke dalam masjid, misalnya, lalu shalat berjamaah seperti yang lain. Sesekali sambil terus shalat, ayah si bayi mengayun-ayunkannya agar tenang. Selain itu, tersedia juga ruang anak tempat bermain bersama saat orang tua mereka shalat. Ruangnya disekat dengan kaca sehingga anak-anak dapat melihat aktifitas shalat berjamaah di bawahnya tanpa mengusik kekhusukan ibadah.

Hal berbeda saya temui di masjid-masjid di Aceh. Di sini, para pengurus masjid selalu memperingatkan agar orang tua menjaga anak-anaknya di masjid agar tidak membuat kegaduhan. Sepintas ini adalah peringatan yang biasa saja. Tapi, akibatnya adalah para orang tua akan sangat berhati-hati membawa anak-anaknya ke masjid. Bahkan, keputusan untuk tidak membawa anak-anak mereka ke masjid mungkin lebih sering diambil agar “tidak melanggar aturan masjid”. Pernah saya lihat beberapa anak kecil dijewer kupingnya karena tertawa-tawa sebelum iqamah. Belum lagi membawa bayi di tengah-tengah shaf shalat yang jarang sekali terlihat di masjid-masjid Aceh. Keributan memang dilarang di masjid, tapi “keributan” anak-anak apakah juga dilarang?

Jika kita membaca sirah nabawiyah (perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW), sangat sering kita disajikan cerita cucunda tersayang Nabi, Hasan dan Husin. Salah-satunya adalah kegemaran mereka saat kecil yaitu menaiki punggung nabi bermain kuda-kudaan saat beliau shalat. Tapi, Rasulullah tidak marah dan mengusir mereka dari tempat shalat, melainkan meneruskan shalat hingga selesai. Bahkan dalam satu cerita disebutkan bahwa beliau SAW memperlama sujudnya untuk memberi kesempatan cucundanya puas naik ke punggungnya yang sedang mengimami shalat.

Kami memiliki dua orang anak yang berumur empat dan dua tahun. Sesekali mereka juga naik ke punggung saya saaat sujud. Tentu saja, mereka tidak naik dengan diam-diam, tapi tertawa riang gembira membuat gaduh. Dugaan saya, begitulah kegembiraan Hasan dan Husin kecil saat naik ke punggung kakeknya. Karena itu, jika merunut pada kisah Hasan-Husin di atas, sepertinya “dilarang ribut di masjid” tidak berlaku bagi anak-anak.

Masjid adalah pusat aktifitas kaum muslimin. Kita tanpa sadar kerap menjadikan masjid hanya bagi orang-orang yang sudah baligh saja, bahkan cuma untuk orang-orang lanjut usia. Kecintaan akan masjid harus ditumbuhkan di segala usia. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan masjid sejak dari ayunan. Membawa mereka ke masjid dan membiarkan mereka larut dalam aktifitasnya saat orang tuanya sujud dan rukuk adalah cara yang paling tepat untuk mereka ketimbang menceramahi tentang masjid atau menunjukkan gambar masjid di majalah, apalagi sekedar memperkenalkan masjid lewat sinetron ramadhan yang juga tidak selalu ramah anak-anak.

Masjid di Aceh haruslah dikelola menjadi ramah anak-anak. Tak perlu marah jika anak-anak berlarian dan tertawa di masjid. Larangan ribut bukan untuk mereka. Lagi pula, manalagi cara yang paling baik memperkenalkan masjid bagi generasi muda Islam itu kalau bukan melalui kegembiraan berada di dalamnya. Kegembiraan ini akan terekam dalam alam bawah sadarnya. Anak-anak itu akan selalu ingat bahwa masjid adalah tempat yang menyenangkan; bukan tempat orang-orang yang menghardik, mencubit, atau menjewer mereka dengan marah untuk diam karena keriuhan mereka.

Saya khawatir, sepinya masjid-masjid dewasa ini disebabkan oleh perilaku kita yang tak ramah pada anak-anak. Jika ketidakramahan pada anak-anak ini telah berlangsung bergenerasi, maka mungkin saja banyak kaum muslimin sekarang yang lebih memilih tempat-tempat hiburan malam untuk mencari kegembiraan ketimbang ke masjid.

Bayangan masjid yang marah, haruslah diganti dengan masjid yang ramah. Mudahan-mudahan, jika anak-anak kita besar nanti, masjidlah tempat mereka beritikaf menenangkan diri dari kehidupan duniawi ini, bukan tempat yang lain.

Image | This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s