Internal Matter?


[audio http://www.everyayah.com/data/AbdulSamad_64kbps_QuranExplorer.Com/005032.mp3]

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isra’il, bahwa, barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. {Al-Maidah: 32}

[For this reason We prescribed for the Children of Israel that whoever kills a person, unless it be for man-slaughter or for mischief in the land, it is as though he had killed all men. And whoever saves a life, it is as though he had saved the lives of all men. And certainly Our messengers came to them with clear arguments, but even after that many of them commit excesses in the land. {The Food: 32}]

Pembunuhan lebih dari 500 demonstran di Mesir beberapa hari yang lalu serta kutukan dunia internasional terhadapnya menambah peristiwa anomali perdamaian dunia yang dicita-citakan penduduk bumi. Mengapa anomali? Karena masyarakat dunia tidak dapat menghentikan ketidakdamaian di Mesir dengan kekuatan (by force), melainkan hanya dengan lisan (by speech), lalu masih berpikir bahwa mereka telah berada di jalan yang lurus menciptakan perdamaian di seluruh dunia.

Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB) dibentuk seusai Perang Dunia II untuk melanggengkan dunia tanpa perang lagi. Namun, lembaga ini hanya bergigi pada saat konflik antar-bangsa, bukan internal bangsa (urusan dalam negeri). Itupun dengan pengaruh eksklusif lima anggota elit dalam Dewan Keamanan. Inilah sebenarnya yang membuat dunia tak pernah benar-benar damai karena telah terjadi (dan masih  akan sedang berlangsung) perubahan geografi, dari –saya menyebutnya dengan — reality geography phenomenon menjadi virtual geography phenomenon.

Reality geography mendasarkan pemisahan antar-masyarakat dunia pada batas-batas alam dan administrasi negara. Ini adalah pemahaman kuno yang dipakai PBB. Sedangkan virtual geography mengaburkan semua batas ruang dan waktu. Gerakan “Arab Spring”, misalnya, digerakkan oleh agitasi di dunia maya melalui Facebook, Youtube, dan Twitter yang menjangkau seluruh dunia dalam waktu yang bersamaan.

Memang, kedekatan geografi (dalam pengertian reality geography) membuat gerakan menjadi nyata dengan demonstrasi besar-besaran di titik konflik, misal Lapangan Tahrir, Kairo. Namun, laporan media pemberitaan, seperti Al-Jazeera, menjadikan informasi itu hadir di ruang-ruang keluarga penduduk bumi lain. Bahkan, permirsa Amerika Serikat (salah-satu anggota elit Dewan Keamanan PBB) menjadikan Al-Jazeera sebagai media utama sumber informasi Arab Spring ketimbang CNN atau media dalam negerinya. Alhasil, publik AS memiliki informasi yang tidak biasa dan tidak bias tentang apa yang terjadi di Arab dan kemudian menunggu apa posisi pemerintah mereka dalam konflik itu. Ini menjadikan gerakan publik di Arab memiliki invisible audience yang demikian nyata. Belum lagi jaringan gerakan ideologi politik semacam Ikhwanul Muslimin yang melintasi antar negara. Masalah di Mesir adalah juga masalah mereka yang di luar Mesir.

Al-Maidah 32 menukilkan tentang pengaruh penghilangan nyawa tanpa alasan yang benar. Tuhan menyatakan bahwa setiap nyawa itu penting (every one counts), dan karenanya jika ada penghilangan nyawa di manapun di planet ini, apalagi secara masif, itu menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat dunia. Tanggung jawab itu membesar seiring kecepatan dan keluasan informasi antar penghuni bumi yang menyebabkan kita semakin tahu (to be aware) apa yang terjadi di sekeliling kita.

Menempatkan masalah Mesir (dan negara-negara lain dengan konflik sejenis) hanya menjadi urusan dalam negerinya, justru mengangkangi prinsip perdamaian dunia itu sendiri. Sesungguhnya, alasan “internal matter” hanyalah tameng bagi penguasa-penguasa licik untuk meneruskan kejahatannya tanpa dihukum. Karena itu, PBB harus menghentikan ini by force.

This entry was posted in Al-Furqan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s