Tas


“Bagaimana, sudah masuk kau dalam grup itu?” Heri menghampiriku di kantin siang tadi.

“Ya, sudah,” aku menoleh ke arahnya tak peduli. Aku lebih menikmati pecel lele terenak di kota ini.

“Asik, bukan? Kau bisa belajar menulis dari mereka.” Ia melanjutkan sambil memesan nasi sekalian dengan nasi tambah. Nafsu bicaranya sepadan dengan makannya. “Tapi, mengapa kau tampak tak bersemangat?” Ia menyelidik.

“Aku kesal saja,” jawabku singkat sambil menghempaskan punggungku di kursi kayu itu, persis di pojok kantin. Ramai sekali jika tiba makan siang. Aku hampir tak dapat tempat. Ini memang kantin favorit.

Heri terkekeh dengan mulut penuh nasi. “Kesal bagaimana? Kau kan baru masuk grup belajar menulis itu, ya mestinya lihat-lihat dulu, baca-baca dulu. Kalau yang kau maksudkan tak ada tulisan bagus, nah, itulah grup buat belajar. Bukan grup penulis beken. Ah, ada-ada saja kau ini!” Heri terkekeh lagi. Kali ini lele yang tampak di mulutnya.

“Kau tahu, aku mengenal grup itu justru dari akun penulis beken. Aku suka gayanya,” kataku mulai menjelaskan. “Aku juga tak masalah dengan grup itu. Aku suka sekali.”

“Lalu?” Heri penasaran.

“Aku sebal saja pada penulis itu. Masak lagi enak-enak membaca kutipan-kutipan indah dan penuh makna dari buku-bukunya yang best seller, eh…tiba-tiba ia nawarin tas!” ***

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s