Tetua


“Kriiing..kriiing…,” telepon di sakuku berdering. Bunyi yang mirip deringan telepon jaman dulu ini berarti dari keluarga dekat. Segera aku rogoh saku celanaku.

“Assalamu’alaikum, apa kabar, Mar?” Suara di ujung sana menyapaku lembut. Suaranya tak asing. Ia cinta pertamaku.

“Wa’alikumsalam. Komar baik-baik saja, Mak,” jawabku santun.

“Ada kau baca surat kabar pagi ini?” Ibundaku langsung bertanya. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang telah terjadi kemaren atau tadi malam sehingga masuk koran.

“Mmm…belum, Mak. Komar belum baca koran. Memangnya ada apa?”

“Itu, lho. Masak sampai bermilyar-milyar uang digelontorkan untuk melantik tetua adat negeri kita. Emak tidak setuju. Uang sebanyak itu kok dibuang-buang untuk yang tidak perlu.” Oh, rupanya Ibunda mau mencurahkan kegeramannya terhadap rencana perhelatan adat di negeri kami itu. Berita lama tapi tetap hangat dibicarakan orang-orang. Aku tak begitu peduli.

“Ah, Mak, tak perlu dirisaukan. Biarlah begitu, yang penting negeri ini aman-aman saja dulu,” aku menanggapinya enteng. Layar laptop kecilku sudah memperlihatkan berita online tentang topik yang dibicarakan ibunda.

“Emak tetap tidak setuju,” ibunda menarik napas dalam. “Emak shalat dua rakaat tadi, memohon pada Allah agar rencana yang tak peka pada orang-orang miskin itu gagal!”

Aku terpana. Ibunda shalat sunnah khusus untuk menyampaikan hajatnya tentang ketidaksetujuannya pada pelantikan tetua adat yang berbiaya milyaran itu? Ah, apa tidak berlebihan?

“He…he…sepertinya Emak kesal sekali, ya?” Aku tertawa kecil menggodanya.

“Mendingan mereka belajar pada orang-orang baik, seperti orang yang punya sepatu cuma satu itu. Miskin, tapi ia bekerja keras. Ibu sudah membaca habis kisah masa kecilnya dengan sepatunya itu,” ia tak peduli pada tawaku, malah mencoba membandingkan tetua yang akan dilantik itu dengan seorang tokoh nasional yang gila kerja itu.

“Udah dulu ya, Mar,” ibunda menyelesaikan uneg-unegnya, “kau pulanglah hari raya ini, emak masak rendang kesukaanmu.”

“In sya Allah, Mak.”

“Wassalamu’alaikum,” ibunda menutup pembicaraan. Seusai aku balas salamnya, telepon pun ditutupnya. ***

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s