Fatamorgana


*Fatamorgana

Siang ini membuatku gerah. Awan seakan tak mau bergelayut di kota yang sudah penuh dengan mobil pribadi ini. Entah kemana transportasi umum yang katanya akan disediakan sejak hari ke-100 walikota baru itu. Ah, janji kampanye memang tinggal janji. Sesudah itu, urus diri sendiri.

Aku duduk di halte menunggu angkutan kota, kami memberinya sebutan “labi-labi”. Sebenarnya, itu adalah mobil angkutan barang yang dimodifikasi untuk penumpang. Ada dua kursi paralel ditambahkan di dalam baknya, dikelilingi dengan rangka baja, jendela, dan pintu masuk di belakangnya. Dalam lima tahun ini, labi-labi sudah mulai ditinggalkan berganti dengan sepeda motor yang menyemut di pagi, siang, dan sore hari. Hanya saat hujan motor-motor kreditan itu menyingkir.

Di samping kananku, seorang bapak separuh baya duduk menatap kosong. Ia bagai veteran perang yang selalu kalah dalam setiap pertempuran. Lengan baju panjangnya dilipat seperti Obama saat muncul di beberapa kampanye. Bedanya, ia kelihatan lesu dan sepertinya tak buru-buru. Terkaanku, ia mungkin bersedia menunggu labi-labi hingga larut malam di situ. Di kiriku, seorang anak sekolah menengah atas. Tasnya hitam dengan tempelan logo klub sepakbola negeri Inggris. Itu mungkin klub kesukaannya. Sepatunya hitam, dan mungkin sudah ia pakai sejak SMP karena ujungnya agak mengelupas dan hampir-hampir isinya mengintip ke luar. Memang, hanya orang-orang sederhana yang akan menunggu labi-labi. Tak terkecuali diriku.

Sambil asik memperhatikan sekelilingku, tiba-tiba mataku tertambat pada seseorang di seberang jalan. Ia menatapku tajam. Siapa orang ini, pikirku. Apa ia mengenalku di masa lalu? Mungkin aku berhutang padanya dan tak pernah membayar? Ah, tidak aku belum pernah bertemu dengan orang yang bertubuh jangkung, berambut panjang sebahu, menyandang tas panjang seperti senapan, dan bermata tajam seperti itu. Yang membuatku menelan ludah adalah saat ia beranjak menyeberang jalan dengan mata tetap tertuju ke arahku.

Ah, apakah aku harus lari? Aku betul-betul tak enak hati. Hampir aku mengadu pada veteran tadi, tapi serdadu yang kalah itu mungkin tak bisa membantu. Anak sekolah tadi? Ah, tubuhku lebih kekar daripadanya. Aku makan tiga kali sehari dan ia, sarapanpun mungkin tidak dilakoninya.

Tiga langkah lagi ia akan berdiri di hadapanku. Baiklah, jika ia mau cari perkara, akan kulayani.

“Maaf, Pak, saya mau lihat poster di belakang, kurang jelas dari jauh. Sepertinya ada konser musik tradisional malam ini,” ia tersenyum meminta permisi. Ujung gitar tersembul di belakangnya. ***

-Arif Arham

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s