Sang Penjaga: 1. Ledakan


Dua kapal perang Galastor melepas ikatan pengait terakhir dari kapal induk Grustar. Melesat membelah ruang hampa 2000 kilometer dari bumi. Semakin mengecil menuju satu koordinat di bawah sana. Namun, tiba-tiba keduanya meledak bahkan sebelum mencapai lapisan atmosfer pertama planet biru itu.

“Ada apa?!” Kapten Pickus terperangah. Ia tak percaya dua kapal tangguhnya yang telah berperang di berbagai galaksi pecah berkeping begitu saja. Di planet primitif ini mana mungkin ada serangan balasan yang sepadan dengan kekuatan Galastor, bangsa terkuat di jagat raya.

“Periksa log kondisi kapal, apa ada laporan kesalahan fungsinya!” Ia berteriak panik. “Segera panggil Zartor, ia harus memimpin penyelidikan ini!”

Orang yang disebut namanya muncul bergegas di hadapan sang kapten. Ia tinggi tegap, berkepala pelontos, berkumis tebal, dan segaris parut melintang di pipi kirinya. Zartor, jenis petarung dari bangsa Galastor, yang dikenal dengan Himney. Kekuatannya sepuluh kali lipat dari orang lain dari bangsa itu.

“Tidak mungkin!” Zartor menyergah tiba-tiba. “Seorang Himney di planet ini?!”

Semua awak di ruang kendali utama terkejut. Himney adalah jenis yang unik dari spesies Galastor yang menyerupai koloni semut, jenis petarung. Mereka terdiri dari berbagai tingkatan. Setiap tingkat yang lebih tinggi berkekuatan 50 kali lebih besar di banding di bawahnya. Satu lagi, Himney hanya ada di Galastor, planet yang jaraknya 3000 tahun cahaya dari galaksi ini.

Belum hilang keterkejutan para awak, Zator memekik lebih keras “Himney Primor!” Yang lain tambah terperangah. Himney Primor adalah jenis tertinggi petarung, yang terkuat. Masalahnya, mereka telah dianggap musnah karena bencana galaxy bertahun-tahun yang lalu, menurut waktu Galastor. Yang tersisa hanya Himney semacam Zator, Himney Urcha, jenis petarung terendah. Satu orang Himney Primor, sebanding dengan 150 orang Urcha!

“Tidak mungkin, ini di luar akal sehat. Mana ada Himney di jagat raya selain kami, 100 Urcha yang selamat,” Zator terpaku dengan mata terpejam, merasakan energi yang sangat kuat dari planet biru itu.

“Maksudmu, ada seorang Himney Primor di bawah sana? Apa ia yang menyerang dua kapal perang itu? Tapi, buat apa? Ini ‘kan kapal induk bangsa Galastor, ia pasti takkan melakukannya begitu saja.” Sang Kapten bertanya-tanya.

“Senjata primitif planet ini tak sepadan dengan kekuatan pertahanan kapal perang kita. Tapi, aku kurang yakin kalau ia menyerang dengan sengaja.” Zator masih mengindera jarak jauh energi itu. “Energinya tidak fokus, tapi mematikan.”

“Mungkin ia satu yang selamat dari bencana besar itu. Kita hanya perlu memperkenalkan diri dan menjelaskan rencana besar kita. Segera kirimkan pesan hormat padanya. Kalau perlu, kita minta agar ia langsung memimpin prajurit kita menguasai planet ini.” Kapten Pickus menyeringai.

“Kau lupa, Kapten,” Zator memotong, “Himney Primor tidak menguasai, mereka menjaga. Mereka punya kehormatan, dan kehormatan itu adalah menjaga harmoni alam semesta.” Zator menarik nafas dalam. “Ia justru akan menghentikan kita!” *

-Arif Arham

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s