Sang Penjaga: 2. Pengungsi


“Mol…Mol! Maulana, di mana kau?!” Lelaki setengah baya itu membuka garasi. Melongok ke dalamnya sebentar dan mendesah berat karena tak menemukan yang dicari. “Biasanya anak itu di sini,” gumamnya. “Tapi, apa ia di sana?” Matanya memandang ke arah utara, ke pantai.

Lelaki itu bergegas memacu mobilnya melewati jalanan kampung. Sehabis tsunami delapan tahun lalu, jalanan sekecil apapun teraspal dengan rapi di kampung pesisir itu. Dua puluh tahun sudah ia dan lelaki yang dipanggil Maulana itu berdiam di negeri ini.

Di pantai, ia tak melihat siapapun. Hanya ombak tenang yang naik turun bermain dengan pasir. Tiba-tiba ia melihat kabut putih beberapa meter dari tepi pantai. Sumbernya dari dalam air.

“Mol, apakah itu kau, Nak?” Lelaki itu berlari masuk ke air membiarkan celananya basah. Ia mengangkat seseorang dari dalamnya. “Mol, sadarlah!” Tubuh yang dikenalnya itu seperti baru mengalami tekanan yang berat. Badannya hangat. Segera lelaki itu membawa anak muda itu menepi dan membaringkannya di atas gumuk pasir kecil.

“Ini saatnya, anakku. Ini takdirmu. Jangan takut, engkau ‘kan membaik.” Kepala anak itu diusap-usapnya.

“Ada apa paman? Apa yang terjadi padaku?” Lelaki yang dipangil Maulana itu mulai siuman. “Aku…aku seperti tersedot ke langit, tapi tubuhku melawan, dan tiba-tiba aku..ah..melihat dua cahaya putih di atas sana.” Ia yang masih lemas menceritakan yang dialaminya barusan.

“Istirahatlah, jangan banyak berbicara dulu,” lelaki itu seakan tak peduli pada perkataan anak itu.

“Paman mengira aku mengigau? Tidak, Paman, aku bahkan sadar sejak dari tadi. Aku hanya lemah sedikit, tapi ingat betul pada dua cahaya putih di atas sana,” ia berusaha bangkit sambil menunjuk ke suatu titik di langit.

Lelaki yang dipanggil paman itu berlutut melepas anak itu yang sudah berdiri kokoh. Pandangan keduanya tertuju ke langit yang sama.

“Engkau baru saja menghancurkan dua pesawat tempur dari galaksi lain, Mol.” Lelaki itu menarik nafas. Ia sepertinya sangat tahu apa yang terjadi.

“Apa!?” Maulana memekik. “Pesawat? Galaksi? Apa yang terjadi Paman? Paman sepertinya tidak saja tahu tentang alien itu, bahkan Paman punya rahasia tentangku?” Rasa penasarannya memuncah. Ia memegang kedua bahu pamannya.

“Ya, aku punya rahasia. Kau, Maulana.”

“Aku? Maksud Paman?”

“Dua puluh tahun lalu menurut ukuran waktu bumi, aku dan kau tiba di negeri ini dari perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu.” Sang Paman mulai berkisah. “Kita alien, Maulana. Planet asal kita adalah Galastor. Sepanjang yang kami ketahui, kitalah bangsa terkuat di alam semesta. Namun, tak cukup kuat menghadapi bencana yang menimpa galaksi kita.” Lelaki itu menunduk.

“Apa yang terjadi? Apa aku memiliki ayah dan ibu?” Maulana terpana. Ia antara percaya dan tidak. Menjadi alien seperti di film-film yang ditontonnya dengan si Mail bukan perkara gampang untuk diterima. Jangan-jangan polisi angkasa semacam Gaban dan Sarivan benar-benar ada pikirnya. Luke Skywalker mungkin pernah ada di masa yang sangat jauh dan sangat lampau itu. Maulana tercenung. Kali ini ia benar-benar mengigau.

“Para Hymney Primor, Aktus, Lorimor, dan Urcha telah berusaha mempertahankan peradaban kita. Mereka adalah pejuang-pejuang tangguh. Primor yang terkuat. Mereka semua bahu-membahu menjadi perisai gelombang radiasi tak beraturan di angkasa Galastor ketika itu. Beberapa Hymney bertugas mengungsikan para koloni ke tempat yang aman. Aku, seorang Lorimor, memiliki tugas khusus dari seorang Primor, menjaga anaknya.” Lelaki itu memandang tajam kepada Maulana.

Ia melanjutkan, “Ayahmu, Maulana, adalah Primor itu. Bersama yang lain ia telah melaksanakan tugas mulianya melindungi Galastor, dengan nyawa mereka. Giliranku sebagai Himney menjagamu dengan nyawaku. Nak, kau adalah Primor terakhir.” *

-Arif Arham

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s