Demo


“Serbuuu….!” suara teriakan dari ujung kanan dekat toko besi itu membuat suasana siang yang panas ini semakin tak terkendali. Orang-orang sudah bergerombol sejak pagi. Mereka marah tak terima atas insiden kemarin malam.

Cerita simpang siur tentang seorang pedagang Tionghoa yang memukul seorang pemuda lokal terus beredar. Entah benar, entah tidak. Yang jelas, semakin banyak yang marah.

Pintu sebuah ruko digedor keras.
“Keluar!” seorang pria berkopiah berteriak kepada pemilik ruko keturunan Tionghoa yang mengurung diri dan keluarganya di dalam.

“Enyah kalian!” yang lain menimpali penuh amarah, “semua orang Cina harus pergi dari sini!”

Sejurus kemudian, beberapa orang berseragam khaki hadir di hadapan massa yang mulai tak sabar. Seorang dari mereka bersafari dan memakai lencana di dada kanannya. Ia Camat di situ.

“Tenang saudara, tenang!” Pak Camat menyeru sambil mengangkat dan menggerak-gerakkan kedua tangannya. Staf-stafnya yang berdiri di belakang kelihatan khawatir bakal terjadi yang tak diinginkan.

“Apanya yang tenang! Usir mereka semua!” lelaki berkopiah tadi balik menantang. Kayu di tangannya diangkat tinggi. Orang-orang mengiyakan lelaki itu.

“Yang salah tidak semua pedagang Cina. Hanya seorang saja. Ia sudah dibawa ke Polsek,” Pak Camat berusaha menjelaskan.

“Hari ini satu, besok lain lagi. Usir mereka!” protes kerumunan itu belum surut.

“Hanya yang salah yang dihukum!” lulusan sekolah camat yang kurus itu menaikkan suaranya, “pemilik ruko ini tidak tahu apa-apa. Siapa saja yang mengganggu pedagang Cina lain, maka saudara-saudara tidak saja melanggar hukum manusia, tapi juga hukum Allah!”

Massa mulai menurunkan keriuhannya. Orang-orang saling berbisik. Mereka mulai ragu akan demonstrasi ini. Satu-persatu kembali ke tempatnya. Perlahan jalanan itu kembali normal.

***

“Tok..tok..tok..!” pintu samping diketuk dari luar.

“Bapak!” adikku berteriak. Segera kami tinggalkan mobil-mobilan itu dan melompat berlomba meraih gagang pintu.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam!” balas kami serempak.

Ia segera duduk di kursi dekat pintu samping itu, menyandarkan punggungnya, dan lalu menjulurkan kedua kakinya. Dengan cekatan aku membuka sepatu dan kaus kakinya. Aku dapat kaki kanan, adikku yang kiri.

Lelaki kurus bersafari dengan lencana di dada kanannya itu mengusap-usap rambut kami. Aku dan adik cekikikan gembira.***

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s