Krisnina Maharani


Dua puluh satu tahun yg lalu, aku berkesempatan menghadiri suatu acara. Di situ ada pejabat2, salah-satunya Akbar Tanjung, seorang menteri.

Saat acara selesai, aku berdiri di antara tamu2 lain di koridor tempat acara berlangsung. Tiba-tiba, lewatlah rombongan menteri keluar aula. Segera aku bersiap-siap melihat lebih dekat Pak Akbar itu. Begitu ia melewati tempatku berdiri, aku julurkan tanganku di sela-sela badan orang2 yg berdiri di depanku. Aku ingin bersalaman dengannya. Tapi, aku kecewa, ia tak melihat tanganku. Pak Menteri melewati tanganku begitu saja dg bergegas.

Namun, tiba2 terdengar suara seorang wanita yang berjalan beberapa meter di belakang Akbar Tanjung.

“Pak! Pak! Ini ada yg mau salaman!”

Akbar Tanjung berhenti. Ia menoleh ke arah suara itu. Lalu, bergegas berbalik ke arah tanganku. Ia menyalamiku. Wanita tadi berdiri di sampingnya.

Ah, senangnya hatiku bersalaman dengan seorang menteri. Tapi, siapa wanita tadi yg berbaik hati memanggil Pak Menteri itu? Sepertinya itu istrinya.

Sejak itu, aku selalu mengingat kisah ini saat ada berita di mana nama Akbar Tanjung disebut. Apalagi saat pilpres kemaren. Aku tak melupakan ibu itu. Aku tak melupakan ketika ia memanggil suaminya untuk menyalamiku. Tapi, aku tak pernah tahu namanya.

Barusan aku mencari di internet dan menemukan nama istri mantan menteri itu: Krisnina Maharani.

Terima kasih, Bu, atas kerendahan hatinya.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s