Rambut


Sebenarnya, potongan rambutku tidak selalu seperti foto profil itu: potong pendek 1-3 cm. Model cepak ini mulai kumiliki saat ospek awal kuliah dulu. Sejak itu, beberapa kali aku meminta tukang cukur untuk “melanjutkan” gaya serdadu itu menghiasi kepalaku. Tentu, gaya “normal” yg klimis dan “sebeng”  (istilah kampungku utk model gaya Harmoko) kanan, sesekali tetap kupakai.

Tukang cukur langganan keluarga kami waktu aku kecil adalah Tgk. Raman. Kami tujuh bersaudara, dan enam lelaki di antaranya selalu menjadi “pasien”-nya.

Aku mengingat Tgk. Raman tidak saja karena ia tukang cukur langganan kami, tapi juga karena ia selalu menjadi tamu pertama di setiap Idul Fitri dan Idul Adha. Rumahnya memang satu jalan dengan rumah kami.  Ia selalu singgah bertamu sebelum menuju ke lapangan tempat shalat ied dilangsungkan. Semoga Allah melapangkan kuburnya.

Tgk. Raman tidak selalu menjadi tukang cukurku. Abangku adalah pencukur kedua. Ia seorang yg cekatan, mampu memperbaiki barang apa saja yg rusak di rumah. Nah, kali ini, ia ingin mencoba memangkas rambut. Akulah tikus percobaannya. Namun, untung tak dapat diraih, bala tak dapat ditolak. Ia mencukur rambutku hingga “lagee tikoh kap” (bergaya “gigitan tikus”), begitu ibuku menyebutnya. Walau aku tak merasakan kekecewaan apa2, ibuku segera meminta Tgk. Raman turun tangan. Ia merapikannya kembali dengan sisa-sisa rambut yang ada.

Sejak kejadian “gigitan tikus,” telah berlalu beberapa tukang cukur dalam hidupku. Satu yang masih kuingat adalah Jarjani Usman. Ia adalah teman kuliah di negeri orang beberapa tahun lalu. Selain pandai menulis, ternyata ia piawai merapikan rambut teman2nya. Aku berterimakasih kepadanya. Semoga dibalas kebaikannya itu oleh Allah.

Kembali ke isu tentang rambut pendek 1-3 cm. Saat kukecil, aku mencukur rambut dalam selang waktu 2-3 bulan. Jadi sudah sangat panjang menurut ukuran kerapian di sekolah. Yang menarik, aku berkesimpulan bahwa ada hubungan lurus antara panjang rambut dengan daya tangkap (berpikir).

Postulatku didasarkan pada bukti empiris ini: setiap rambutku sudah mulai memanjang, aku merasa lebih cerdas; sebaliknya, begitu turun dari kursi-cukur-yang-dipasang-papan-kayu-peninggi-dudukan untuk anak2 di rumah pangkas Tgk. Raman, aku merasa lebih “paneuk antena” (istilah kampungku untuk “telmi” [telat mikir], harfiahnya berarti pendek antena). Ya, fungsi rambut sama dengan antena, pikirku.

Lalu, mengapa sekarang aku berambut pendek 1-3 cm? Jawabnya adalah “kagak ribet, Bro!”

:-D

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s