Asam Sunti


Masa George Bush adalah masa yang sangat berat bagi pengguna bandara di AS. Pemeriksaannya super ketat. Seseorang bisa ditolak masuk negara itu tanpa penjelasan walau ia telah mengantongi visa.

Istriku menyusul ke Texas setelah beberapa lama aku di sana. Ia berangkat sendirian dengan rute Aceh-Jakarta-Singapura-Taiwan-Seattle-Houston.

Aku membekali istriku cara menjadi penumpang pesawat internasional yang baik dan benar dengan rinci via email dan telepon. Kamus elektronik ia bawa serta untuk bantuan komunikasi selama perjalanan. Maklum, bahasa Inggrisnya pas-pasan. Ia hanya piawai melafalkan beberapa kalimat sederhana, seperti “How are you?” atau “I love you.” :-p

Aku tidak khawatir walau istriku berjilbab. Yang aku khawatirkan adalah ia tersesat atau ketinggalan pesawat. Satu lagi, jangan sampai ia terlalu banyak mengisi kopernya atau membawa barang terlarang: rendang atau rempah-rempah masakan kampung.

Setelah perjalanan hampir 2 x 24 jam, akhirnya istriku tiba dengan selamat di bandara Seattle, pintu masuk internasional di barat laut AS. Tapi, ia tertahan di pemeriksaan karena kedapatan membawa “buah terlarang”: asam sunti.

Asam sunti (belimbing kering) adalah prasyarat agar masakan menjadi lezat dan pas di lidah Aceh. Walau lidah sudah sangat ingin asam sunti, aku sudah mengingatkan agar istriku tidak membawanya. Tapi, orang rumah telah “menyelundupkannya” dengan rapi. Mungkin terbawa tradisi kampung jika ada yang naik haji.

“Maaf, Bu, apa di dalam plastik ini?” seorang perempuan petugas keamanan bandara menyelidik serius.

“Ini buah,” istriku menjawab lugas.

“Buah? Ibu dari mana?”

“Indonesia.”

“Indonesia?”

“Mmmm..ya, Aceh,” istriku memperjelas asal-muasalnya.

“Aceh? Tsunami?!” petugas itu terlihat terkejut, “wah, bagaimana kabarnya di sana?” lanjutnya. Ia lalu mulai melupakan asam sunti yg hendak diperiksanya itu. Agaknya, ia mengetahui banyak perihal bencana itu dan ingin tahu kondisi terbaru Aceh pasca gempa dan smong (tsunami).

Beberapa saat kemudian, istriku dipersilahkan melewati pos keamanan tanpa pemeriksaan lain.

Asam sunti itu selamat.

***

Cerita model begini tentu banyak dialami orang lain dalam berbagai kisah. Dengannya, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa bencana gempa dan smong 2004 begitu besar gaungnya ke seluruh dunia. Simpati dari berbagai bangsa muncul seketika karena rasa kemanusiaan.

Hari-hari ini, orang mulai marah dengan pernyataan PM Abbott dari Australia yang mengungkit-ungkit bantuan tsunami untuk menyelamatkan dua warganya yang terbukti melanggar hukum dari eksekusi hukuman mati di Indonesia. Lalu, beberapa pihak melawannya dengan ancaman mengembalikan dana bantuan itu. Entahlah, apakah benar-benar berniat mengembalikannya atau hanya sebagai simbol protes.

Saran saya, abaikan saja Abbott dan tegakkan hukum. Kemudian, ingatlah orang-orang biasa seperti kita di Australia dan di belahan bumi lain yang merogoh koceknya satu-dua sen untuk membantu kita kala itu. Tegakah kita melukai hati mereka?

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s