Pos


​Saat kecil, aku adalah pengguna setia jasa pos. Berkirim kartu pos, kartu lebaran, surat, serta menerima telegram dan wesel adalah kegemaranku. Kode pos kampungku adalah 24261. Ada yang tidak mengenal satu atau dua item yang kusebutkan itu?
Semuanya bermula dari Bapak. Ia suka membaca. Salah-satu bacaannya adalah majalah-majalah keluaran ibu kota. Aku menikmati saja majalah bapak-bapak semacam Tempo itu. Aku suka desainnya, terutama reklame yang tampil di banyak halamannya.
Satu yang kuingat dari majalah langganan Bapak adalah kuis menebak logo perusahaan. Kalau tak salah, hadiahnya seperangkat alat-alat elektronik tunai. Ada logo Honda, Hitachi, dsb. Begitu mudah kuis itu sehingga segera kukirimkan jawabannya dengan kartu pos. Namun, hingga kini, tak jelas bagiku siapa pemenangnya.
O iya, ada yang lain yang kupelajari dari reklame di majalah, yaitu indikator kemajuan kota-kota di Indonesia. Maksudnya begini, setiap perusahaan biasanya menampilkan perwakilan/dealer mereka di seluruh Nusantara. Daftarnya ditaruh pada bagian bawah iklannya dengan huruf kecil-kecil. Nah, aku berkesimpulan, kota-kota yang tampil adalah kota yang relatif maju untuk bisnis. Sayang, jarang kulihat Banda Aceh tampil di dalamnya ketika itu.
Setelah beberapa lama, Bapak membelikan kami majalah anak-anak, Ananda. Aku senang sekali. Di sana ada cerpen, komik, kuis, dan bonus poster. Dari majalah ini aku pernah dapat satu kaos putih sebagai hadiah memenangkan kuis mingguannya. Dugaanku, Redaksi Ananda kasihan padaku yang saban pekan mengirim kartu pos dari ujung Sumatera sana dan tidak pernah menang. Jadi, dengan keharuan hati mereka memposkan hadiah itu ke sekolahku. Takkan kulupa saat guru-guru tersenyum melihatku gembira dengan kaos itu.
Saat belajar di Texas (77801), aku ke kantor pos juga. Aku tertegun agak lama di halamannya. Keharuan menyergapku karena sejak di kampung, di Banda Aceh (23123), di Jogja (55281), hingga di sini, kantor pos selalu kusambangi walau zaman berganti.
Di AS, setiap rumah memiliki kotak pos yang khas. Peran layanan pos amat dekat dengan warganya. Aku jadi ingat film The Postman (1997) yang berkisah tentang peran penting tukang pos AS pasca konflik dan bencana. Apalagi semenjak penjualan online mulai marak, layanan pengiriman barang menjadi “booming”. Biar begitu, toko-toko setempat rajin pula memenuhi kotak suratku dengan reklame diskon. 

Demikianlah. Walau hari ini sms, email, messenger, dsb. telah menggantikan sebagian besar layanan pos, tetap kuhaturkan salam takzimku untuk teman-teman yang bekerja di sana.

This entry was posted in Geografi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s