15 Agustus


Ruang tamu rumah itu masih kusam walau sudah tujuh bulan kami huni kembali pasca pembersihan bengkalai tsunami. Garis bekas genangan air setinggi dua setengah meter sangat jelas terlihat di dindingnya. Bahkan, bau khas tanah yang mengering dari air laut masih tercium.

Siang itu, aku menatap lamat-lamat kotak ajaib empat belas inci yang dibelikan istriku dari gaji pertamanya. Antena luar tidak ada, jadi aku berusaha menjangkau sinyal dari menara TVRI di daerah Mata Ie dengan antena bawaan televisi-analog-layar-datar-mungil itu. Aku yakin, ruang tamu berjarak paling dekat dengan menara itu dibanding ruangan lain. Hasilnya lumayan. Kendati gambarnya sedikit kabur, acara yang disiarkan secara nasional itu dapat kuindera dengan jelas.

Itulah hari yang detilnya kuingat dengan baik. Inilah hari perdamaian, yaitu hari ditabalkannya kesepakatan damai di Helsinki sana. Bagiku, perdamaian ini adalah rizki terbesar kami setelah puluhan tahun dirundung konflik.

Kerja memang belum selesai dan tak akan pernah. Sejak televisi itu kupindahkan lagi ke pinggir ruang makan pada sore hari sepuluh tahun lalu itu, aku sudah sedang akan mengisi masa damai ini dengan kerja yang lebih keras dan cerdas lagi. Itulah tiketku guna menyusul para syuhada di sana.

This entry was posted in Bin M.A. Jangka. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s