Camat Pungo


image

“Jika air itu tak mengalir, Camat duluan yang akan kita ceburkan ke sungai,” ucap seorang lelaki paruh baya pada orang di sampingnya.

“Ya. Camat pungo!” timpal seorang lagi.

Memerah telinga Makcikku mendengar komentar penumpang di belakangnya. Ingin ia berhenti di tengah jalan dan turun dari angkutan antarkecamatan yg tengah melaju kencang itu. Ia tak kuat hati.

Kisah dari adik ibuku itu aku dengar saat SMP, atau sepuluh tahun sejak bendungan di Krueng Peusangan itu dibangun bersama warga. Bapak adalah camat di sana ketika itu.

Ya, “camat pungo” (camat gila) adalah panggilan sebagian orang kepada Bapak yang berinisiasi mengairi sawah tadah hujan dengan membendung air sungai yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan dan berhilir di Selat Malaka. Sesuatu yang terlalu “cet langet” (tak mungkin) di masanya, apalagi dengan dana terbatas. Namun, dengan dukungan swadaya masyarakat, proyek ini berhasil.

Bekerja untuk publik memang begitu. Anda bisa jadi tak populer. Damed if you do, damed if you don’t!

Sepertinya, dalam beberapa hal, aku mewarisi “kepungoan” itu.

:-D

Image | This entry was posted in Bin M.A. Jangka. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s