Reformasi Pemilu Eksekutif


Setiap orang mestinya dapat datang ke KPU dengan membawa KTP-nya sendiri (sbg bukti kewarganegaraan, domisili, dan umur) untuk mendaftar sbg pasangan calon (palon) kepala pemerintahan (eksekutif). Ini terkait dengan hak untuk ikut serta dalam pemerintahan (take part in government) dan hak untuk memilih dan dipilih (elect and be elected). Lalu, mengapa itu tidak bisa terjadi?

Kita ketahui bahwa syarat yang dibebankan pada palon diperberat, misalnya ada ketentuan perolehan kursi legislatif dengan jumlah tertentu untuk partai atau jumlah minimal KTP untuk calon perseorangan. Boleh jadi alasannya adalah agar tidak terlalu banyak yang bisa mencalonkan diri.

Mengapa pemilihan kepala pemerintahan dibatasi hanya satu palon perpartai? Boleh jadi jawabannya adalah karena posisi jabatan itu hanya satu kursi sehingga diharapkan terjadi konsolidasi suara pada satu palon.

Mengapa kalau banyak palon? Kemungkinan alasannya adalah penghitungan suara bisa ribet dan berkali-kali, kualitas pemimpin tidak terjaga, dsb.

Sebenarnya, jawaban-jawaban klise di atas adalah penyebab pemilu tidak memberi kontribusi bagi munculnya banyak pemimpin baru. Demokrasi menjadi elitis, tidak partisipatif. Orang-orang yang cakap dan baik banyak, tapi kebanyakan mereka “dilemahkan” ketika berhadapan dengan tata cara/prosedur demokrasi kita. Alih-alih hendak menjauh dari monarkhi, kita malah terperangkap dalam mulut oligarkhi. Demokrasi model ini mengebiri rakyat yang sebenarnya adalah pemilik (principle), pelaku, dan penikmat demokrasi.

Ingat juga, kita menganut sistem presidensial, bukan parlementer. Dalam sistem presidensial, mandat eksekutif dan legislatif diperoleh dari pemilih. Berbeda dengan parlementer di mana mandat eksekutif diberikan oleh legislatif.

Ketika setiap warga negara dengan bekal KTP dapat langsung mencalonkan diri di KPU, peluang pemilih untuk mendapat calon pemimpin terbaik menjadi lebih terbuka. Memang, palon yang diajukan partai memiliki sumberdaya (untuk kampanye; menjalankan pemerintahan; dsb.) yang lebih siap ketimbang yang maju sendirian. Biarkan saja kompetisi terjadi. Yang jangan adalah menghambat warga negara untuk bertanding dalam pemilu.

Jika persyaratan menjadi palon dalam pemilu eksekutif sesederhana di atas, maka barulah setiap kandidat dapat memusatkan perhatian pada visi, misi dan konsep rencana kebijakannya. Sebaliknya, jika untuk memenuhi persyaratan membutuhkan dana besar seperti sekarang, maka peserta pemilu masih akan disibukkan mencari dukungan pada pemilik modal.

Reformasi Sistem Pemungutan Suara

Untuk pelaksanaan pemilu, sistem pemungutan suara yang hemat dan mengakomodasi dukungan rakyat perlu diterapkan. Satu sistem pemilihan yang dapat diadopsi yang lazim dipakai di Australia, India, AS, HK, NZ, Kanada, PNG, dan Irlandia adalah sistem “instant run-off voting’ (IRV).

IRV dimaksudkan untuk memilih satu pemenang dari banyak calon dalam satu kali pemilu dengan tetap menjaga proporsionalitas kesukaan pemilih pada calon-calon yang maju. Prinsipnya adalah pemungutan suara sekali, perhitungan suara berkali-kali. Sistem ini menghindari munculnya pemenang yang hanya mendapat persentase suara kurang dari 50% dalam satu kali pemilu sebagaimana yang saat ini berlaku di Indonesia (popular voting systems; first-past-the-post).

Dalam IRV,  setiap pemilih memberi peringkat pada nama-nama palon. Yang mendapat peringkat terendah akan dikeluarkan dari perhitungan selanjutnya. Demikian seterusnya hingga didapat satu palon dengan perolehan suara lebih besar dari 50%. Komputerisasi perhitungan akan mempercepat proses ini.

Demikianlah, demokrasi mestinya murah, mudah, dan terbuka untuk semua.

Baca: IRV

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s