Prasangka


Lelaki muda itu menggerak-gerakkan tangannya. Sesekali wajahnya serius, sesekali tersenyum. Di depannya ada sepiring lontong. Ia sendirian.

“Apakah ia pasien RSJ di seberang jalan?” selidikku yang duduk dua meja darinya.

Piring lontong maknyos di warkop dekat Masjid Lampriet itu sudah kujilat habis. Aku bergegas beranjak ke kasir. Kulewati meja pemuda berkaos merah itu. Tiba-tiba, mataku tertuju pada suatu benda yang diletakkan di depan piring lontong yg sudah ia lahap setengah: sebuah ponsel!

Oh, ternyata ia sedang berkomunikasi dengan seseorang di seberang sana melalui bahasa isyarat.

Ah, agaknya aku yang perlu ke RSJ.

This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s