Public First


Di rumah sakit, kredo yang dipegang tenaga medis adalah “patient safety first” atau “patient first”. Keselamatan pasien adalah yang utama. Segala ego profesi, baik ners, apoteker, maupun dokter, luruh di hadapan pasien. Sepatutnya, dalam layanan publik yang lebih luas, kredo serupa mestilah menancap dalam sanubari penyelenggara negara, baik lokal maupun nasional.

Kemaren, koran memberitakan lagi tentang pemindahlokasian warga di Jakarta. Tentu, selalu ada yang pro dan ada yang kontra. Apalagi memasuki masa pilkada, konflik pemanfaatan ruang ini semakin hangat dibicarakan. Tapi, seperti di singgung di atas, hasrat politik pragmatis kita haruslah luruh di depan kepentingan warga. Opini dan dukungan kita mestilah dalam lingkup kredo “public first.”

Di Aceh, orang-orang bertanya-tanya tentang dana otsus yang jumlah totalnya sebanding dengan biaya membangun tiga pencakar langit tertinggi di dunia seperti di Dubai. Adakah dana itu mampu memantik kesejahteraan orang banyak? Adakah kredo “public first” hadir dalam jiwa calon-calon peserta pilkada 2017? Sepatutnya, hasrat politik pragmatis kita selari dengan kepentingan publik.

Ingatlah kawan, “Public First!”

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s