Pilpres AS (Belum) Usai


Berbeda dengan kita di Indonesia, rakyat Amerika Serikat tidak memilih langsung presidennya. Pemilu Presiden AS diselenggarakan untuk memilih 538 orang wakil yang akan duduk dalam lembaga pemilihan presiden yang dinamai Electoral College (EC). Merekalah yang pada tanggal 19 Desember 2016 (hari Senin pertama setelah hari Rabu kedua dalam bulan Desember tahun pemilu) nanti bersidang untuk memilih presiden.

Menurut Konstitusi AS, EC berwenang memilih siapapun dari calon resmi presiden yang diajukan partai. Ya, Hillary dapat dipilih menjadi presiden walau hasil pilpres kemarin menempatkan 306 orang (56,88%) dari Partai Republik di EC. Apalagi, capres Demokrat itu memang lebih banyak dipilih oleh rakyat secara nasional (popular vote).

Konstitusi AS mengatur pula dua kemungkinan saat terjadi perubahan hasil pilpres akibat perubahan pilihan oleh anggota EC (faithless elector). Pertama, jika tidak ada pasangan pilihan EC yang mendapat suara terbanyak (seri), maka DPR yang akan memilih presiden dan Senat yang memilih wapres. Kedua, jika satu saja anggota DPR atau Senator menolak keputusan EC saat Sidang Umum Kongres (kali ini jatuh pada tanggal 6 Januari 2017), maka perubahan pilihan satu atau beberapa anggota EC itu diabaikan. Penjabat “Secretary of State” negara bagian asal anggota EC tersebut yang kemudian memilih pasangan calon.

Sistem “check and balance” yang berlapis dlm tata negara AS memungkinkan Presiden terpilih bukan yang berkampanye kemaren. Jika pemilihan diambil alih Kongres, calon baru bisa dimunculkan.

Dari pengalaman 57 kali pilpres sejak AS berdiri, kemungkinan di atas sulit terjadi karena biasanya keputusan anggota EC sama dengan partainya. Hanya sedikit yang berani berubah pikiran. Kini, sebanyak 29 negara bagian mewajibkan calon wakil mereka di EC menandatangani pernyataan (Certificate of Vote) untuk memilih pasangan tertentu. Karena itulah, pemenang pilpres AS dapat diketahui dari perolehan kursi di EC. Dengan kursi mayoritas yang dimiliki partainya, Trump yang kontroversial itu bisa dipastikan akan menjadi Presiden AS ke-45.

Umumnya, hasil pemilihan Presiden AS melalui EC sama dengan “popular vote”. Tapi, ini kali keempat terjadi perbedaan. Dari sebab itu, sejak 2006 diberlakukan aturan National Popular Vote (NPV) di beberapa negara bagian tanpa perlu mengamandemen Konstitusi. NPV mengatur agar pilihan wakil suatu negara bagian di EC seiya-sekata dengan pilihan rakyat secara nasional. Hingga 2016, baru 11 negara bagian yang mengadopsi ketentuan ini dengan total 165 kursi di EC. Diperlukan minimal 105 kursi lagi agar “popular vote” automatis menjadi penentu pemenang pilpres.

Di atas semua itu, dengan mengingat bahwa EC dirancang para pendiri negara untuk memastikan Presiden AS terpilih adalah yang benar-benar layak dan mampu melindungi Konstitusi, akankah kali ini mereka mengubah pilihannya?

Berita terkait:

Hasil Pilpres AS.

Ada dugaan kecurangan Pilpres, Obama perintahkan investigasi.

This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s