Kuat tapi Takut?


Ada hal yang menarik tentang kebijakan beberapa Presiden AS di akhir masa jabatannya terhadap konflik Palestina.

Pada tahun 1988, di akhir masa kepresidenannya, Ronald Reagan membuka dialog dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Lalu, pada tahun 2000, Bill Clinton membeberkan visinya untuk perdamaian Palestina-Israel dalam sebuah dokumen yang dikenal dengan “Clinton Parameters” tepat menjelang akhir masa jabatannya.

Lihat pula yang dilakukan George W. Bush menjelang akhir masa kekuasaannya tahun 2008. Ia menyetujui Resolusi DK PBB 1850 yang merekomendasikan pembaruan proses perdamaian Palestina-Israel.

Adapun tanggal 23 Desember 2016 yang baru lalu, kurang dari sebulan era Barack Obama di Gedung Putih usai, AS melakukan hal yang tidak biasa. Ketimbang mengajukan veto, Obama malah abstain terhadap Resolusi DK PBB nomor 2334 yang menyebabkan Israel mengalami kesulitan melanjutkan pembangunan permukimannya di Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Ini dilakukannya dalam rangka mendukung penyelesaian konflik dengan hadirnya negara Palestina yang hidup berdampingan dengan Israel (two-state solution). Kabar terbaru malah menyebutkan bahwa Obama juga mengirimkan bantuan $221 juta untuk Palestina di akhir masa jabatannya.

Dari rekam jejak di atas, agaknya, para Presiden AS memiliki keinginan mengakhiri konflik di Palestina. Namun, tekanan politik Zionis sangat kuat sehingga mereka hanya berani menjelang masa jabatan maksimalnya (dua periode) berakhir.

Bacaan:

Advertisements
This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s