Kuis Radio


Kemaren aku mendengar kuis di sebuah radio. Ini mengingatkanku pada masa remaja dulu saat Ramadhan. Selain gemar mendengarkan ceramah, terutama oleh KH. Zainuddin MZ; menyimak sandiwara radio; menikmati lantunan azan di Flamboyan FM Banda Aceh (azannya masih disiarkan hingga sekarang dan masih yang paling indah dibanding azan radio lain); aku juga pernah ikut beberapa kuis radio, lho. Begini kisahnya.

Sore hari sehabis ashar di bulan puasa, aku menghidupkan radio Citra FM, salah-satu dari dua stasiun radio FM yang ada di Kota Bireuen ketika itu. Di situ, terdengar penyiarnya membawa acara kuis.

Biasanya, pertanyaan kuis yang diajukan berkisar tentang ibadah puasa. Tapi, kali ini kuisnya unik: peserta diminta mendiamkan “bayi” yang menangis. Jadi, setiap peserta kuis menelepon, terdengar bayi menangis sekitar 30 detik. Siapa yang mampu membuatnya berhenti menangis, ia dapat hadiah. Tak jelas hadiahnya apa.

Sambil berselonjor di kursi tamu, aku cekikikan mendengar daya upaya beberapa peserta kuis mendiamkan sang bayi. Tak ada yang berhasil, padahal acara kuis hampir usai.

Aku jadi gatal juga untuk mengikuti kuis itu. Apalagi, samar-samar aku ingat pernah membaca anekdot mendiamkan bayi ini. Segera kuraih gagang telepon rumah dan kutekan nomor stasiun radio itu. Setelah beberapa kali bersaing dengan penelepon lain, akhirnya panggilanku masuk.

“Ya, siapa ini?” tanya suara di seberang.

“Arif dari Matang,” jawabku deg-degan. Sayup-sayup kudengar suaraku di pesawat radio yang kuletakkan agak jauh dari telepon. Rasanya gimana, gitu.

“Oke, Rif. Diamin adik bayinya, ya!”

Belum sempat menenangkan diri karena baru pertama ini aku masuk radio, suara tangis bayi pecah di telingaku. Aku panik dan terdiam. Waktu 30 detik terus berjalan. Lalu, suaraku pelan-pelan keluar. “Cup…cup..adek bayi diam, ya.”

Tangisan bayi itu makin besar.

“Adek bayi, diam, ya!” suaraku kutinggikan. “Ka…ka…kalau diam, kita bakal menang kuis. Nanti, hadiahnya kita bagi dua,” bujukku gagap.

Tiba-tiba tangisan bayi hilang. “Halo! Halo!” Aku ragu, jangan-jangan sambungan terputus.

“Selamat, Rif! Kamu memenangkan kuis sore ini. Ambil hadiahnya di studio, ya!” pembawa acara kuis menutup telepon. Suaranya berlanjut di radio mengabarkan hasil kuis hari itu. Ia menyebut namaku sebagai pemenangnya.

Begitulah. Aku senang sekali. Dengan ditemani abang sepupuku, aku naik motor ke stasiun radio yang berjarak 10 km dari rumahku itu. Petang menjelang berbuka, kami pulang dengan membawa hadiah, yakni beberapa bungkus kopi bubuk lokal bermerek “Arasco”.

Advertisements
This entry was posted in Cang Panah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s