Memekarkan Ibukota Aceh


Wacana memperluas Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh masih bergulir. Yang paling terkenal sekaligus kontroversial adalah memasukkan beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Besar ke dalam wilayah administrasi Banda Aceh. Namun, adakah alternatif lain?

Berikut dua pilihan lain yang mungkin untuk dipertimbangkan.

Downtown Banda

Bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi pada sebuah kota seperti di film-film Hollywood itu biasanya adalah lokasi perkantoran. Pada hari kerja, daerah ini ramai sekali. Namun pada Sabtu dan Minggu akan sepi. Inilah yang disebut “downtown”. Adapun tempat tinggal para pekerja itu berada di daerah sekitarnya yang disebut “suburban”. Perumahan banyak dibangun di sini.

Berkaca pada sisi positif kota-kota dunia, ada baiknya Kota Banda Aceh tidak perlu diperluas ke kecamatan-kecamatan perbatasan di Aceh Besar. Fungsi ibukota provinsi ini saja yang diarahkan perlahan menjadi downtown. Pusat-pusat pemerintahan dan bisnis berada di sini. Tentu, karena luasannya tidak ditambah, konsekuensi jangka panjangnya adalah pembangunan menjadi ke atas, berupa pencakar langit.

Adapun suburban, diarahkan berada di kecamatan yang berbatasan dengan ibukota, seperti Ingin Jaya, Darul Imarah, dan Lhoknga. Daerah ini perlu dibangun dengan prinsip “smart growth”, artinya suburbanisasi ini dibatasi pada wilayah tertentu saja dengan tetap menjaga daerah pertanian yang produktif.

Konsekuensi lain, jaringan transportasi perlu didesain ulang menyesuaikan dengan arahan pemanfaatan lahan. Pasti, dengan prinsip murah, mudah, dan hemat ruang.

Dalam prakteknya saat ini, banyak warga seperti saya yang bekerja di Banda Aceh dan tinggal di Aceh Besar. It’s happening.

Kemukiman Raya

Perluasan wilayah administratif atau pengelolaan gabungan wilayah kekotaan dapat pula dipilih untuk pengembangan ibukota provinsi Aceh ke depan. Keduanya membutuhkan otoritas.

Jika Banda Aceh diperluas dengan memasukkan beberapa kecamatan Aceh Besar di perbatasan, maka otoritas tidak berubah, yakni tetap pada pemerintah kota.

Namun, jika dilakukan pengelolaan bersama antara wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, maka diperlukan otoritas gabungan (combine authority), baik yang bersifat koordinatif (badan pengelola/koordinasi) atau definitif (penambahan level pemerintahan administratif). Badan pengelola/koordinasi didesain untuk mengurus hal-hal yang bersifat teknis untuk urusan tertentu lintas kota dan kabupaten tersebut. Sedangkan pembentukan level pemerintahan baru, sayangnya, tidak dikenal dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

Sebagai penambah wawasan dalam hal otoritas gabungan, mari kita lirik Kota New York. Pemerintahan “city” (kota) ini sebenarnya adalah gabungan lima “county” (semacam kabupaten) yang merupakan level pemerintahan di bawah negara bagian. Biasanya di AS, pemerintahan county berada pada level lebih tinggi dari pemerintahan kota. Tapi, yang ini berbeda sendiri. Pemerintahan Kota New York berada di atas pemerintahan lima county itu. Artinya, terdapat level pemerintahan tambahan di bawah negara bagian dan di atas county. Hal yang mirip berlaku di Greater London, Inggris.

Di Inggris, gabungan beberapa kota bisa juga membentuk “ceremonial county” dengan otonomi tetap pada kota-kota itu. Greater Manchester adalah contohnya.

Di Aceh, level pemerintahan sedikit berbeda dengan daerah lain. Terdapat pemerintahan adat yang disebut “kemukiman”. Levelnya ada di bawah kecamatan dan di atas gampong (desa). Prinsip kemukiman sama dengan otoritas gabungan pada pengelolaan city dan county di atas sehingga bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan wilayah yang lebih luas di Aceh.

Nah, jika pengelolaan ibukota provinsi dan sekitarnya dilakukan dengan pembentukan otoritas gabungan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, maka inovasi yang mungkin dilakukan adalah menciptakan level pemerintahan adat (ceremonial county) baru di bawah provinsi dan di atas kabupaten/kota. Kita sebut saja wilayahnya dengan “kemukiman raya”. Lengkapnya, “Kemukiman Raya Bandar Aceh Darussalam.”

Advertisements
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s