Pendidikan, Berinovasilah!

Urusan sekolah memang dinamis. Kali ini, jadwal belajar-mengajar yang menjadi perhatian publik. Tidakkah lebih baik jika Pusat melakukan desentralisasi untuk urusan ini? Biarkan tiap provinsi mengaturnya sesuai kondisi masyarakat setempat.

Lebih jauh, yang perlu dijaga Kementerian Pendidikan adalah pencapaian kemampuan dasar (mata pelajaran di UN?) dan peningkatan kompetensi guru. Adapun pendidikan secara umum dan pengajarannya, biarkanlah daerah berinovasi.

Dengan demikian, akan kita dapati ragam pelaksanaan pendidikan di 34 provinsi. Artinya, ada peluang 34 inovasi dalam waktu yang bersamaan ketimbang hanya satu inovasi dari seorang menteri. Pada gilirannya, yang terbaik akan menjadi tolok ukur (benchmark) pendidikan nasional kita.

Bacaan lain:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Dup…Dup!

Kemaren siang, listrik mati. Si kecil yang berusia dua puluh empat purnama minta dihidupkan tivi. Ia mau nonton Upin Ipin.

“Lagi mati lampu, nih. Nanti, ya,” ucapku sambil menguap. Terik sekali puasa kemaren.

Dengan botol susu di tangan, ia bangun dari duduknya melangkah menuju kursi tamu. Kursi itu ia jadikan tangga untuk menggapai saklar lampu.

Klik. Lampu ruangan hidup.

“Dup…dup!” teriaknya.

Aku tertawa. Tak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ya, ia baru saja menghidupkan lampu LED yang dilengkapi batre sehingga dapat hidup barang tiga jam. Lampu jenis ini aku pasang di hampir semua ruangan sejak listrik sering mati di kampung kami. Konon, katanya, pasokan daya kurang.

Adakah penyesuaian subsidi listrik  menambah pundi untuk membangun pembangkit baru bagi kami?

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Stand for Fulbright

Beasiswa Fulbright dicanangkan dg keyakinan bahwa saling mengenal antarbangsa adalah kunci perdamaian. Pendidikan Andaman media yang paling baik untuk mewujudkannya.

Saya memiliki keyakinan yang sama.

#StandForFulbright

Literatur:
Advocacy: Stand for Fulbright

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Ke Toilet Via Bulan

Katherine Johnson berlari ke toilet yang berjarak 1,5 km dari kantornya. Ia terpaksa karena toilet untuk pegawai berkulit hitam seperti dirinya cuma ada di gedung lain dalam kompleks tempatnya bekerja, NASA.

Katherine direkrut lembaga antariksa AS di Virginia sejak 1953 karena ia jenius dalam bidang fisika dan matematika. Ketika itu, negara bagian ini masih menerapkan pemisahan fasilitas publik untuk warga kulit putih dan hitam. Mereka setara, tapi dipisah. Mengherankan bahwa adat ini berlaku juga di lingkungan kerja federal yang menjadi simbol pencapaian iptek tertinggi manusia semacam NASA.

Bagi Katherine dan belasan kawan kerjanya yang berkulit hitam, menuju ke bulan adalah lebih mudah ketimbang ke toilet.

Peran dan tantangan yang dihadapi para perempuan hitam di NASA yang tak begitu dikenal publik inilah yang menjadi inti cerita film “Hidden Figures” (2016). Keberadaan Katherine (saat ini berusia 89 tahun) amat penting dalam ketelitian dan ketepatan perhitungan untuk peluncuran roket ke luar angkasa. Tanpanya, peluncuran roket berawak pertama di AS mungkin takkan berhasil. Impian Kennedy ke bulan mungkin tak pernah terwujud.

Kisah nyata ini menggambarkan bahwa dunia ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki pembatas dengan dunia sosial/hubungan antarmanusia. Kemajuan yang satu tidak selalu memajukan yang lain.

Pemisahan toilet di NASA memang dihapus pada akhirnya. Namun, bukan karena mereka mampu mencapai bulan, tapi karena protes dari orang-orang cerdas dan berani semacam Katherine.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Perdamaian Utuh

Di dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan ayat 208 Al-Baqarah dengan sudut pandang berbeda dari tafsir pada umumnya. Kalimat perintah Ilahi yang berbunyi “ud khulu fissilmi kaffah” ditafsirkan sebagai keharusan kaum muslimin agar benar-benar mendukung perdamaian secara utuh (kaffah). Bukan mendukung fanatisme jahiliyah yang sering menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

Hidup damai antar sesama muslim dan umat lain, lanjut mantan Menteri Agama ini, adalah ajaran paling penting dalam Islam dan agama samawi lainnya. Sebaliknya, kejahiliyahan yang berujung pada permusuhan adalah langkah syaitan (khuthuwati syaithan) yang tak patut diikuti barang selangkah pun.

#tadarrus

Posted in Al-Furqan | Leave a comment

Berdamailah Kata

adakah pada tiap kata
ia menjadi alat
untuk Tuan bersengketa?

adakah pada tiap peristiwa
ia menjadi alat
untuk Puan berdawa?

oh, Tuan dan Puan
puasa telah tiba
tidakkah cukup
ia menjadi alat
untuk Tuan bertitah tuah
untuk Puan beramah tamah

oh, berdamailah kata
menjauhlah bantah-berbantah
cukuplah
ia menjadi alat
untuk Tuan dan Puan
kaya berpahala

Posted in Sastra | Leave a comment

Kuis Radio

Kemaren aku mendengar kuis di sebuah radio. Ini mengingatkanku pada masa remaja dulu saat Ramadhan. Selain gemar mendengarkan ceramah, terutama oleh KH. Zainuddin MZ; menyimak sandiwara radio; menikmati lantunan azan di Flamboyan FM Banda Aceh (azannya masih disiarkan hingga sekarang dan masih yang paling indah dibanding azan radio lain); aku juga pernah ikut beberapa kuis radio, lho. Begini kisahnya.

Sore hari sehabis ashar di bulan puasa, aku menghidupkan radio Citra FM, salah-satu dari dua stasiun radio FM yang ada di Kota Bireuen ketika itu. Di situ, terdengar penyiarnya membawa acara kuis.

Biasanya, pertanyaan kuis yang diajukan berkisar tentang ibadah puasa. Tapi, kali ini kuisnya unik: peserta diminta mendiamkan “bayi” yang menangis. Jadi, setiap peserta kuis menelepon, terdengar bayi menangis sekitar 30 detik. Siapa yang mampu membuatnya berhenti menangis, ia dapat hadiah. Tak jelas hadiahnya apa.

Sambil berselonjor di kursi tamu, aku cekikikan mendengar daya upaya beberapa peserta kuis mendiamkan sang bayi. Tak ada yang berhasil, padahal acara kuis hampir usai.

Aku jadi gatal juga untuk mengikuti kuis itu. Apalagi, samar-samar aku ingat pernah membaca anekdot mendiamkan bayi ini. Segera kuraih gagang telepon rumah dan kutekan nomor stasiun radio itu. Setelah beberapa kali bersaing dengan penelepon lain, akhirnya panggilanku masuk.

“Ya, siapa ini?” tanya suara di seberang.

“Arif dari Matang,” jawabku deg-degan. Sayup-sayup kudengar suaraku di pesawat radio yang kuletakkan agak jauh dari telepon. Rasanya gimana, gitu.

“Oke, Rif. Diamin adik bayinya, ya!”

Belum sempat menenangkan diri karena baru pertama ini aku masuk radio, suara tangis bayi pecah di telingaku. Aku panik dan terdiam. Waktu 30 detik terus berjalan. Lalu, suaraku pelan-pelan keluar. “Cup…cup..adek bayi diam, ya.”

Tangisan bayi itu makin besar.

“Adek bayi, diam, ya!” suaraku kutinggikan. “Ka…ka…kalau diam, kita bakal menang kuis. Nanti, hadiahnya kita bagi dua,” bujukku gagap.

Tiba-tiba tangisan bayi hilang. “Halo! Halo!” Aku ragu, jangan-jangan sambungan terputus.

“Selamat, Rif! Kamu memenangkan kuis sore ini. Ambil hadiahnya di studio, ya!” pembawa acara kuis menutup telepon. Suaranya berlanjut di radio mengabarkan hasil kuis hari itu. Ia menyebut namaku sebagai pemenangnya.

Begitulah. Aku senang sekali. Dengan ditemani abang sepupuku, aku naik motor ke stasiun radio yang berjarak 10 km dari rumahku itu. Petang menjelang berbuka, kami pulang dengan membawa hadiah, yakni beberapa bungkus kopi bubuk lokal bermerek “Arasco”.

Posted in Cang Panah | Leave a comment