Bersiaplah untuk Esok

Siapkan diri kita untuk kalah. Saat itu tiba, berilah lembaran visi dan misi kita pada yang menang. Berkontribusilah dengan atau tanpa jabatan. Nanti, lawan kita bukan lagi mereka yang dilantik dan disumpah itu. Lawan yang sesungguhnya adalah kemalasan, ketertutupan, ketidakpedulian, dan karakter buruk lain yang berujung pada keputusasaan.

Siapkan pula diri kita untuk menang. Saat itu tiba, ajaklah bekas lawan untuk menyempurnakan visi dan misi ke depan. Beri peluang tiap anak bangsa untuk berkontribusi. Nanti, pandai-pandailah dalam memilih kawan. Kawan yang sesungguhnya dalam membangun adalah keuletan, keterbukaan, kepedulian, dan karakter baik lain yang menyemai harapan.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Inilah Kandidat Pilihanku

Akhirnya, telah jelas pasangan kandidat mana yang akan kucoblos nanti. Pilihanku dalam pemilu ini telah kupikirkan masak-masak, serasional mungkin. Tak salah lagi. Aku telah membaca visi, misi, dan programnya. Tak ketinggalan, aku pun memperhatikan betul penampilannya saat debat. Nah, agar semua tahu, dan mudah-mudahan mempengaruhi “swing voters” lain, akan kuumumkan kandidat pilihanku.

Sebelum aku umumkan di sini, aku sadar bahwa mungkin di antara teman kerja, rakan sekampung, bahkan saudaraku sendiri akan memiliki pilihan kandidat yang berbeda. Harus ku akui, berat juga berbeda dengan mereka. Aku tahu bahwa berbeda pendapat bisa berujung pertikaian. Apalagi, belakangan ini media sosial sungguh panas. Nyindir ini-itu, bully sana-sini, hoax sini-sana. Kawan jadi lawan, lawan makin dilawan. Riuh, pokoknya!

Belakangan ini, beredar meme yang ada foto Cak Lontong. Meme ini menasihati bahwa saudara dan temanlah yang datang membantu kita saat susah, sedangkan kandidat pilihan kita itu mana ada yang peduli. Komedian tersohor ini mengingatkan pula bahwa pemilu ini jangan sampai habis-habisanlah. Dibawa santai saja.

Tapi, apa boleh buat. Inilah demokrasi di mana kita tidak saja rela berbeda, tapi juga siap bertentangan pendapat. Ponsel boleh panas, kuota data boleh habis, namun hati harus dingin dan kewarasan tak boleh hilang. Aku tahu betul, calon pilihanku adalah yang terbaik dan patut menang. Jadi, lumrah saja aku umumkan pilihanku. Jangan sampai yang terburuk yang menang. Amit-amit!

Oleh karena itu, dengan pertimbangan di atas dan hal-hal lain yang tidak mungkin panjang lebar kujelaskan di sini, maka, kunyatakan bahwa aku akan memilih…. Tapi, sebentar. Apa betul tak membuat gaduh hubunganku dengan teman-temanku nanti? Jangan-jangan, Cak Lontong ada benarnya. Aku bakal tak enak hati dengan teman dan handai-taulanku. Kalau aku sakit, siapa yang peduli? Kalau perlu duit, aku hutang ke mana?

Ah, sudahlah. Tidak jadi. Aku rahasiakan saja kandidat pilihanku.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Keamanan dan Empati

Pukul tiga sore (29/1), saat kebijakan pembatasan imigrasi AS diterapkan hingga 90 hari ke depan, Trump sedang menonton film animasi “Finding Dory” (2016) di Gedung Putih. Ironisnya, film itu bercerita tentang anak (ikan) yang terpisah dari keluarganya, persis seperti yang saat itu sedang terjadi di bandara, seperti di Dallas.

Hal lain yang terjadi di beberapa bandara AS pada hari Minggu itu:

  • demonstrasi menentang kebijakan larangan imigrasi;
  • seorang senator ikut berdemo;
  • veteran perang Irak ikut berdemo;
  • shalat jamaah di lobby kedatangan bandara;
  • ada penjemput yang menjadikan selendangnya sebagai jilbab sebagai wujud simpati.

Menurut Trump, kebijakan pembatasan imigrasi dilakukan untuk meningkatkan keamanan. Namun, pihak lain justru melihat ini tidak diperlukan. Apalagi satuan kontraterorisme AS sendiri tidak merekomendasinya.

Alasan lain penolakan kebijakan imigrasi Trump yang lebih mendasar adalah bahwa pengetatan imigrasi terhadap tujuh negara muslim dan para pengungsi adalah tidak sejalan dengan falsafah bangsa AS dan semangat saling menolong antarnegara. Empati terhadap keluarga dan para korban konflik sangat diperlukan.

Literatur:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Sejarah AS: Presiden vs Jaksa

Pada hari Sabtu, 20 Oktober 1973, Presiden Nixon memecat jaksa yang menangani kasus Watergate yang ditengarai melibatkan dirinya. Pemecatan itu diprotes Jaksa Agung dan wakilnya dengan pengunduran diri. Peristiwa berhentinya tiga pejabat kejaksaan agung dalam satu malam ini dikenal dengan “Saturday Night Massacre”. Sejak itu, urusan semakin runyam. Nixon diancam “impeachment” (diadili oleh Kongres) sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974.

Beberapa saat yang lalu, tersiar kabar bahwa Trump memecat Sally Yates, Plt. Jaksa Agung AS. Mungkin ini tidak melanggar aturan karena Yates dianggap tidak melaksanakan perintah atasannya itu untuk membatasi imigran. Tapi, Trump patut memperhatikan mengapa penegak hukum itu menolak perintahnya. Adakah karena perintah Sang Presiden melawan hukum?

Trump patut mendengar pidato anggota DPR AS, Barbara Jordan, terkait Nixon.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Dari Cuitan menjadi Tulisan

Seringkali status di Facebook saya mulai dengan satu atau dua kalimat. Tanpa pikir panjang, segera saya publikasikan.

Selang beberapa saat, pikiran saya menelaah lagi cuitan tadi yang telah tersebar di seluruh dunia itu. Ada yang perlu dikoreksi, ada yang perlu diperjelas, ada yang perlu dikaitkan dengan informasi terkini (Wikipedia, opini, berita, Youtube, dsb), ada ide baru dari celutukan/komentar teman, dst.

Lalu, saya memperbaharui status Facebook itu lagi. Dari dua kalimat menjadi tiga kalimat, lalu dua paragraf, kadang sepuluh paragraf, hingga jadilah satu tulisan utuh. Biasanya, tulisan itu saya publikasikan juga di blog khazanaharham.wordpress.com ini.

Begitulah cara saya belajar menulis belakangan ini. Dari cuitan menjadi tulisan.

Literatur:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Program Keamanan Imigrasi AS

Pasca peristiwa “9/11”, pada September 2002, AS memberlakukan aturan khusus imigrasi untuk 24 negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia, plus Korea Utara. Program pada era Bush ini dinamai National Security Entry-Exit Registration (NSEERS). Setiap pemegang visa AS dari negara-negara itu, terutama yang sudah tinggal di AS, wajib mendaftarkan diri pada program ini dengan pengambilan foto, perekaman sidik jari, dan wawancara.

Untuk pengunjung baru, dilakukan pendaftaran NSEERS secara acak di bandara tertentu. Biasanya dipilih penumpang laki-laki. Tahun 2007, saya pernah terpilih dan diminta masuk ruangan khusus. Tidak ada hal yang menakutkan, hanya registrasi biasa dan tidak ada wawancara. Sepertinya, dari waktu ke waktu, program keamanan ini hanya formalitas. Yang justru mendebarkan adalah pemeriksaan badan dan barang seluruh penumpang saat memasuki bandara.

Sejak 2011, NSEERS dibekukan. Namun, regulasinya tetap ada untuk digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Baru sekitar sebulan yang lalu, 22 Desember 2016, NSEERS benar-benar dihapus Obama.

Kini, Trump melakukan hal lain. Ia melarang warga biasa atau pengungsi akibat konflik dari tujuh negara mayoritas muslim untuk memasuki AS. Ketentuan ini berlaku selama 90 hari. Selain itu, ia juga berencana mendeportasi mereka yang sudah masuk. Kebijakan ini tidak berlaku untuk pemegang visa dan “green card” AS yang sudah tiba di bandara menyusul keluarnya perintah pengadilan federal.

Sementara itu, protes terhadap kebijakan imigrasi Trump terus berlangsung.

Pengetatan Imigrasi Sebelumnya

Kebijakan AS melakukan pengetatan imigrasi telah berlangsung enam kali pada era presiden sebelumnya.

Pertama, pada tahun 1882, AS melarang imigran Tiongkok memasuki wilayahnya untuk menjaga lapangan kerja bagi warganya sendiri. Aturan ini melunak tahun 1943 saat Perang Dunia II karena Tiongkok menjadi anggota Negara Sekutu bersama AS.

Kedua, pada tahun 1903, menyusul penembakan Presiden William McKinley pada tahun 1901, dikeluarkan aturan imigrasi yang membatasi masuknya ekstrimis/anarkhis, penderita epilepsi, pengemis, dan pelaku prostitusi.

Ketiga, saat Perang Dunia II, AS membatasi imigran Yahudi dari Jerman karena khawatir akan disusupi Nazi yang menjadi musuhnya ketika itu.

Keempat, pada tahun 1950, Kongres mengesahkan aturan untuk mendeportasi imigran yang dicurigai merupakan anggota partai komunis dan membatasi hak kewarganegaraan orang-orang yang terkait dengan organisasi komunis. UU ini berlaku walau ditolak Presiden Truman karena ia menilai itu bertentangan dengan Konstitusi.

Kelima, pada tahun 1980, warga Iran dilarang memasuki AS. Hal ini terjadi karena peristiwa pengepungan Kedubes AS di Teheran tahun 1979 dan penawanan 52 warga AS selama 444 hari.

Keenam, pada tahun 1987, AS melarang imigran yang terjangkiti HIV memasuki wilayahnya. Aturan ini dicabut oleh Obama pada tahun 2009.

Dapat dipahami bahwa kebijakan keamanan imigrasi yang dibuat AS di satu sisi bertujuan untuk pertahanan dan keamanan, namun di sisi lain dapat bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi dan sejarah AS sebagai negara yang dibentuk oleh imigran.

Literatur:

Posted in Geografi | Leave a comment

Ambillah Hikmah

Jika kita mau mengambilnya
Pada tiap cerita
Tiap huruf
Tiap nafas
Tiap detik
Tiap pasir
Tiap daun
Tiap kerlip
Tiap embun
Tiap dengung
Ada hikmah di sana
Jika kita mau mengambilnya

Posted in Sastra | Leave a comment