Ambillah Hikmah

Jika kita mau mengambilnya
Pada tiap cerita
Tiap huruf
Tiap nafas
Tiap detik
Tiap pasir
Tiap daun
Tiap kerlip
Tiap embun
Tiap dengung
Ada hikmah di sana
Jika kita mau mengambilnya

Posted in Sastra | Leave a comment

Politik 101

Kukatakan pada anakku, “Menikahlah dengan gadis pilihan Ayah.”
“Tidak mau, Yah!” jawabnya.
Aku melanjutkan, “Gadis itu anak Bill Gates, lho.”
“Baiklah kalau begitu,” pungkasnya.

Kemudian, aku menelepon Bill Gates, “Aku ingin anak gadismu menikah dengan anakku.”
“Oh, tidak boleh!” jawabnya.
Aku melanjutkan, “Anakku itu CEO Bank Dunia, lho.”
“Baiklah kalau begitu,” pungkasnya.

Lalu, aku menghubungi Presiden Bank Dunia, “Tolong angkat anakku menjadi CEO Bank Dunia.”
“Oh, tidak bisa!” jawabnya.
Aku melanjutkan, “Anakku itu menantu Bill Gates, lho.”
“Baiklah kalau begitu,” pungkasnya.

Begitulah POLITIK.

(Bill Keller, jurnalis/penulis)

Posted in Kutipan | Leave a comment

Demokrasi yang Cumeh

Laporan The Economist memperlihatkan bahwa negara-negara yang dikepalai Ratu Elizabeth II termasuk dalam kategori “full democracy”. Adapun AS, yang digadang sebagai kampiun demokrasi, hanya masuk kategori “flawed democracy”, yakni terdapat cumeh (Aceh: rusak/cacat kecil) dalam prakteknya. Tapi, bisa jadi, penyebab kecumehan berasal dari dalam konsep sistemnya itu sendiri.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa jabatan presiden a la Amerika Serikat adalah sama dengan raja yang dipilih. Ini bermula saat para pendiri AS merumuskan bentuk pemerintahan negara baru itu di tahun 1776. Mereka menolak mengadopsi sistem kerajaan (monarchy) yang turun-temurun (dinasty) seperti di negara nenek moyang mereka, Inggris. Sistem Kerajaan Inggris menempatkan kepala negara dan kepala pemerintahan pada seorang raja. Maka, diciptakanlah jabatan presiden yang berfungsi sama seperti raja yang orangnya dipilih setiap empat tahun. Berbarengan dengan itu, kekuasaan sang presiden diimbangi oleh dua kekuasaan terpisah dan sejajar, yakni Kongres (legislatif) dan Mahkamah Agung (yudikatif).

Adapun di Inggris sendiri, tata negara bergerak dinamis. Walaupun tidak memiliki satu konstitusi resmi yang utuh, Kerajaan Inggris berpedoman pada aturan-aturan baru yang lahir dari konteks penyelenggaraan negara. Raja ditempatkan sebagai simbol (the dignified) dan perdana menteri sebagai pemangku urusan pemerintahan sehari-hari (the efficient). Kebijakan pemerintah dirumuskan di Parlemen, dan para hakim memiliki kekuasaan tersendiri.

Parlementer vs. Kongresional

Penulis buku “The English Constitution” (1865), Walter Bagehot (jurnalis The Economist), mengatakan bahwa sistem presidensial/kongresional a la AS memiliki beberapa kelemahan dibanding dengan sistem parlementer di Inggris.

Pertama, presiden yang terpilih dengan berpijak pada popularitas belum tentu cakap mengurusi pemerintahan dan paham politik. Rakyat harus menunggu tiap empat tahun untuk mengganti pemimpin yang tidak cakap itu. Sedangkan di Inggris, seorang Perdana Menteri (PM) dapat diganti kapan saja jika tak berkompeten lagi. PM lazimnya adalah pimpinan partai yang diasumsikan memiliki kemampuan kepemimpinan dan pengalaman politik yang memadai.

Kedua, perdebatan di lembaga Kongres AS sifatnya satu pihak. Hasilnya belum tentu diimplementasikan oleh presiden. Sebaliknya, di Inggris, keputusan Parlemen adalah perintah untuk PM.

Ketiga, dapat terjadi bias kepentingan politik presiden dalam posisinya sebagai kepala negara. Adapun di Inggris, raja tidak berpolitik praktis.

Uraian Bagehot ikut mempengaruhi analisis Woodrow Wilson dalam disertasinya “Congressional Government: A Study in American Politics” (1885). Wilson mendukung sistem parlementer. Ia kemudian menjadi Presiden ke-28 AS dan satu-satunya presiden yang bergelar doktor.

Beberapa negara republik juga menerapkan sistem pemerintahan seperti di Inggris. Sistemnya dikenal dengan sebutan “sistem semi-presidensial.” Salah-satu alasannya adalah untuk menghindari kelemahan sistem presidensial yang memungkinkan demokrasi cumeh oleh dirinya sendiri.

Literatur:
Kategori negara demokrasi.

Posted in Opini | Leave a comment

Investasi Asia

BKPM, siang tadi melalui akun Twitternya, melaporkan perkembangan realisasi investasi tahun 2016. Salah-satu yang menarik adalah pemeringkatan asal negara investor. Kegiatan Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar berasal dari tetangga kita, Singapura, disusul Jepang dan Tiongkok. Ternyata, 67,3% belanja swasta asing yang telah dihabiskan di Indonesia tahun lalu berasal dari Asia sendiri.

Bagaimana dengan investasi dari negara lain? Kita lihat AS, misalnya. Presiden Trump telah bertemu dengan 12 pengusaha besar AS Senin (23/1) lalu. Dalam pertemuan itu, Trump memberi tawaran bebas pajak dan insentif lain bagi perusahaan mereka yang berlokasi di AS. Pilihan lain bagi mereka adalah membuka pabrik di luar negeri, tapi konsekuensinya adalah pajak masuk (border tax) barang ke AS akan dibuat lebih besar. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga pasar dan lapangan kerja dalam negeri. Hari itu Trump juga menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik.

Sepertinya, untuk sementara ini, kerjasama ekonomi ke depan lebih terbuka antarsesama negara Asia.

Literatur:

Posted in Geografi | Leave a comment

Tidak Perlu Rugi Lima Tahun

Kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya menyusahkan diri sendiri dengan sistem pilkada lima tahunan ini. Bayangkan misalnya, ada lima kandidat. Semuanya baik. Tapi, hanya ada satu pasangan yang cakap dalam urusan pemerintahan/pembangunan. Jika yang terpilih adalah yang cakap itu, senanglah seisi negeri. Namun, celaka lima tahun jika sebaliknya.

Yang cakap belum tentu populer, dan yang populer belum tentu cakap. Biasanya, yang menang adalah yang populer. Sistem pilkada begini jadinya ya, untung-untungan. Semacam PHP, gitu.

Mestinya, pelaksana pemerintahan selalu diserahkan pada orang yang mampu. Ya, yang berkompeten sepanjang lima tahun. Caranya?

Pertama, pilihlah beberapa wakil rakyat, cukup 7 atau 9 orang, untuk duduk di dewan. Persis seperti pileg selama ini, hanya jumlah kursi lebih kecil.

Kedua, dewan mengangkat satu orang yang paham manajemen pemerintahan. Buka peluang calonnya lebar-lebar. Cari dari Sabang sampai Merauke. Dapatkan orang-orang yang berkompeten. Ridwan Kamil, misalnya, bisa menjadi acuan standar. Sebut saja SMDI (Standar Manajer Daerah Indonesia).

Ketiga, dewan cukup membuat kebijakan umum dan rambu-rambu (regulasi). Detil pelaksanaan diserahkan pada “sang manajer” itu. Pantau dan evaluasi kinerjanya. Jika tak memuaskan, dewan bisa menggantinya kapan saja. Sebaliknya, jika kinerjanya bagus, maka dewan pada periode berikutnya dapat mengangkatnya lagi.

Dengan demikian, rakyat tidak perlu lagi berharap-harap cemas mendapatkan pemenang pilkada yang cakap. Mereka cukup memilih orang-orang setempat yang baik, bijak, dan populer untuk duduk di dewan. Adapun untuk pelayanan publik sehari-hari, serahkan saja pada manajer profesional.

Sederhana, bukan?

Literatur:
Kota Georgetown, Texas.

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Proaktif

Suatu ketika, Simon Sinek, seorang konsultan pemasaran AS, berbincang dengan salah-seorang petinggi Apple. Simon memberinya informasi bahwa Microsoft baru saja memproduksi komputer dengan teknologi mutakhir.

“Hebat!” respon orang dari Apple itu singkat. Hanya itu. Ia tidak antusias bertanya lebih detil tentang produk baru Microsoft itu, bagaimana teknologinya, berapa harganya, dsb. Mengapa begitu?

Apple, kata Simon, berkompetisi dengan dirinya-sendiri: produk tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu; iPhone 7 harus lebih canggih dan mudah dipakai daripada iPhone 6; layar Mac harus lebih nyaman dilihat; aplikasi di iTune harus semakin berkualitas dan beragam, dst. Mereka tidak reaktif dengan pencapaian perusahaan lain, tapi proaktif memproduksi yang terbaik.

Think Differently

Simon kerap menjadikan Apple sebagai contoh konsep alur pikir penjualan (marketing) yang dipopulerkannya, yakni
Why –> How –> What.

Simon mengilustrasikan alur komunikasi Apple kepada konsumennya seperti berikut.

“Kami ingin menghasilkan sesuatu yang terbaik. Kami yakin bahwa dengan berpikir berbeda dari yang lain, produk kami akan berkualitas tinggi (Why). Untuk itu, kami mendesain setiap produk dengan indah, mudah digunakan, dan kuat (How). Inilah barangnya, Mac dan iPhone (What). Anda tertarik?”

Perusahaan lain biasanya beralur pikir sebaliknya. Mereka langsung memperkenalkan merek, wujud, cara kerja, dan kelebihan produknya. Sedikit yang menegaskan filosofi di balik itu semua. Orang mungkin akan membelinya, tapi akan segera beralih ke merek lain ketika harga, spesifikasi, dan desainnya lebih bagus.

Adakah yang membeli produk Apple yang biasanya lebih mahal itu? Ada. Memang, tidak lebih banyak dari pengguna Microsoft. Tapi, konsumennya adalah orang-orang yang tidak sekedar butuh alat elektronik canggih, melainkan juga ingin menjadi bagian dari kelompok yang istimewa, yang “think differently”.

Pada tahun 2016, Apple mampu melampaui perusahaan teknologi lain. Apple tidak sedang menaklukkan mereka, tapi justru menaklukkan dirinya sendiri.

Bacaan:

Posted in Cang Panah | Leave a comment

Kuat tapi Takut?

Ada hal yang menarik tentang kebijakan beberapa Presiden AS di akhir masa jabatannya terhadap konflik Palestina.

Pada tahun 1988, di akhir masa kepresidenannya, Ronald Reagan membuka dialog dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Lalu, pada tahun 2000, Bill Clinton membeberkan visinya untuk perdamaian Palestina-Israel dalam sebuah dokumen yang dikenal dengan “Clinton Parameters” tepat menjelang akhir masa jabatannya.

Lihat pula yang dilakukan George W. Bush menjelang akhir masa kekuasaannya tahun 2008. Ia menyetujui Resolusi DK PBB 1850 yang merekomendasikan pembaruan proses perdamaian Palestina-Israel.

Adapun tanggal 23 Desember 2016 yang baru lalu, kurang dari sebulan era Barack Obama di Gedung Putih usai, AS melakukan hal yang tidak biasa. Ketimbang mengajukan veto, Obama malah abstain terhadap Resolusi DK PBB nomor 2334 yang menyebabkan Israel mengalami kesulitan melanjutkan pembangunan permukimannya di Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Ini dilakukannya dalam rangka mendukung penyelesaian konflik dengan hadirnya negara Palestina yang hidup berdampingan dengan Israel (two-state solution). Kabar terbaru malah menyebutkan bahwa Obama juga mengirimkan bantuan $221 juta untuk Palestina di akhir masa jabatannya.

Dari rekam jejak di atas, agaknya, para Presiden AS memiliki keinginan mengakhiri konflik di Palestina. Namun, tekanan politik Zionis sangat kuat sehingga mereka hanya berani menjelang masa jabatan maksimalnya (dua periode) berakhir.

Bacaan:

Posted in Cang Panah | Leave a comment