Cicak
Jika pelanduk adalah ikon untuk si cerdik, maka agaknya cicak akan menjadi ikon baru bagi bangsa Indonesia. Ikon yang disandangkan kepada orang-orang pemberani dan terhormat yang menjaga uang rakyat agar tidak dicuri koruptor.
Kami mendukung eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia.

(Sumber gambar: Facebook – Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto)
Ubuntu 9.10: Alsa force-reload
If you can’t here sound or the output is dummy after installing new software or upgrading Ubuntu 9.10, then try this command:
sudo /sbin/alsa force-reload
My Letter to Gov. Perry
This is my letter to Texas Governor, Rick Perry.
Dear Mr. Perry
My name is Arif Arham. I am from Aceh, Indonesia. I am also an Aggie who was a graduate student of Geography in Texas A&M University (August 2007-May 2009). Now, I am a public servant in the Bureau of Development, the Office of Governor of Aceh. I write this letter because I need your advise in managing Aceh through one simple question: what would you do if you were the Governor of Aceh?
Aceh almost similar to Texas in term of its natural resources and people. We have gas, gold, and a good place for agriculture and fishery industries. Texas is well known in Aceh as a cowboy land since we enjoy cowboy movies. Generally, our democracy system is almost similar to the US. Aceh has the executive, legislative, and judicial branch as in Texas. After tsunami on December 26, 2004, we have to rebuild Aceh, and we want to build it better. But, what does it mean? How can we do it? What do we need?
When I saw a GDP comparison between Texas and our country I just realize that I had been in a really great state for two years. I also read “Investing in Texas: A guide for foreign investment”. Therefore, I understand more about what “everything is big in Texas” means. In addition to know how Texans manage their community, I had visited the regular session of the City Council of College Station twice and saw a true democracy applied by your people. I was impressed. So please make me impress again by giving us an advise to build our community better.
Gig’em
Arif Arham
Perubahan UUD’45
Iseng-iseng saya mencari “Arif Arham” di Google.com. Yang mengagetkan adalah salah-satu hasil pencariannya berupa buku Naskah Akademis Rancangan Perubahan UUD 1945 di Openlibrary.org, di Books.google.com, dan bahkan di Library of Congress. Tak jelas siapa yang memasukkan informasi tersebut, namun kopian buku itu sudah lama tidak terlihat sejak saya meninggalkan Yogyakarta tahun 2002.
Buku ini adalah hasil kerja tim dari 13 (saya lupa jumlah pasti anggota tim ini) mahasiswa UGM pada awal reformasi. Nama saya muncul di awal karena anggota tim diurut menurut abjad. Hanya saya yang memiliki nama dengan huruf awal “A”. Saya pun lupa nama teman-teman yang lain. Jika ada yang membaca ini, mohon menghubungi saya.
Make your own font!
Do you want to make a font from your hand writing? Go to Fontcapture.com and get one! It’s easy and free.
World Bank & OpenOffice
Saya mendapat email dari seorang kawan di suatu milis. Isinya tentang informasi ketersediaan komputer bekas dari kantor World Bank di Banda Aceh untuk disumbangkan kepada masyarakat/sekolah. Yang menarik adalah bahwa ternyata World Bank menggunakan OpenOffice!
Download formulir permintaan komputer dari World Bank (Anda harus memiliki OpenOffice untuk membukanya).
Ini email lengkapnya:
——–mulai——–
Dear Bapak/Ibu,
The World Bank offices in Indonesia have retired more than 300 desktop and notebook computers, a part of which are in Banda Aceh office. The retired computers are equipped with keyboard, mouse and a power cord, but without a monitor. They are in good condition, with Windows XP and Open Office installed. Technical specifications of the computers are available upon request.
The computers are ready for donation to charitable non-government organization (NGOs) and schools who may find them useful to support their charitable activities.
We are inviting proposals from organizations and schools to receive the computers. We encourage Banda Aceh area based organizations and schools to participate. Submitted proposals will be evaluated by a committee that will evaluate proposals according to defined selection criteria. If you recognize an organization that would benefit by acquiring the computers, please forward the attached file, to the organization’ s personnel. Information on this donation program, selection criteria, how to submit proposal, as well as proposal form is included in the file, written on Bahasa Indonesia. Completed proposal must be submitted no later than Friday, 6 November 2009.
PDF Format
(See attached file: DonasiKomputerWorld Bank.pdf)
WORD Format
(See attached file: DonasiKomputerWorld Bank.doc)
Queries on this matter should be directed to Carolyn F. Usmany (Lolo) at email address cusmany@worldbank. org or at phone number (021)5299-3000.
Thank you very much for your help in disseminating this program.
Budi S. Matondang
Tel: +62.21.5299- 3085 World Bank Office, Jakarta
E-mail: bmatondang@worldban k.org
WBOJ – IT Support ‘ext 4848 *itsupportindonesia@ worldbank. org
——–selesai——–
Ubuntu: Mirror and User
Rupanya pengguna Ubuntu di Indonesia sangat sedikit. Sebaliknya, di Amerika Serikat sangat banyak. Informasi ini dapat Anda baca di website Ubuntu pada bagian penjelasan tentang ‘mirror‘. Menurut situs ini, untuk membuat mirror di Indonesia, kebutuhan bandwidth paling besar cukup 10 Mbps; sedang di AS minimal 400 Mbps untuk melayani pengguna Ubuntu yang lebih banyak. Biarpun demikian, ternyata mirror yang ada di Indonesia menyediakan bandwidth yang besar juga yaitu 1 Gbps.
Kesimpulannya, pemasyarakatan Linux harus lebih gencar, nih!
Texas’ Advantages
“If Texas were its own nation it would represent the world’s 12th largest economy” (Invest in Texas, 2009).
“The economy of Texas is roughly equivalent in size to the economies of Indonesia, Thailand, Singapore, Malaysia, and the Philippines combined” (Office of the Governor of Texas).
Untuk mengatur Texas yang luasnya 1/3 Indonesia, Kantor Gubernur, Senat/DPR, dan Mahkamah Texas berada dalam satu gedung di Austin.
Ayo, keluar kandang!
Saya yakin bahwa bangsa ini masih bisa dibenahi dengan syarat agar orang-orang baik dan berani harus ke luar kandang dan terus berteriak: hentikan kerusakan, hentikan kebinasaan. Jihad melawan kerusakan adalah jihad sejati. Jangan biarkan bangsa ini menjadi puing peradaban!”
Karmic Koala 9.10
Sebagaimana biasa, setiap enam bulan adalah harapan baru dan semangat baru bagi pengguna open source software Ubuntu. Penambahan feature, upgrade software, dan keindahan baru desain desktop adalah hal yang selalu dinanti. Kestabilan dan keamananan sudah tentu ada, bahkan menjadi trade mark sistem operasi komputer gratis ini.
Di awal kehadiran Karmic Koala (Ubuntu 9.10) pada Oktober 2009 kami mulai menggunakan KDE (Kubuntu) sebagai desktop di kantor. Ia agaknya lebih indah dan dekat pada tampilan Windows yang jamak dipakai saat ini dibanding desktop Gnome. Apalagi kehadiran si Koala beriringan waktunya dengan Windows 7 yang komersial itu. Ini adalah ikhtiar kami yang tak henti-hentinya untuk menarik pengguna software proprietary dan bajakan kepada alternatif yang lebih stabil, aman, dan terjangkau.
Akhirnya, tak lupa kami ucapkan selamat ulang tahun ke-5 Ubuntu!
Buku IT untuk Sekolah
Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Komunikasi dan Informasi serta Kementerian Riset dan Teknologi telah menerbitkan buku pembelajaran komputer untuk SMA berbasis open source. Aplikasi yang digunakan adalah Open Office yang diinstall di Ubuntu. Buku IT ini dapat didownload gratis.
IOWave 09
Beri tahu tetangga agar tidak panik jika mendengar sirene saat latihan Indian Ocean Wave Exercise 2009 (IOWave ‘09) yang diadakan dua kali:
- Gladi bersih tanggal 11 Oktober 2009, pukul 10.00 – 12.00 WIB. Lokasi 6 titik di Banda Aceh: Kantor Gubernur Aceh, Lampulo, Blang Oi, Ujung Pancu, dan Kajhu. Ditambah Aceh Besar dan Sabang.
- Pelaksanaan tanggal 14 Oktober 2009, pukul 07.45 – 12.00 WIB. Lokasi 2 titik di Banda Aceh: Blang Oi dan Lhoknga. Ditambah Aceh Besar dan Sabang.
Kesetaraan bagi yang cacat
Kemaren sore, reporter TVOne melaporkan situasi di Padang, kota yang pekan lalu digoyang gempa sebesar 7,6 skala richter. Dalam laporannya ia menceritakan perkembangan Suci Refika Wulansari (27) yang terperangkap dalam reruntuhan gedung Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang tempat ia mengajar. Ia tak sendiri, rekan-rekan dan mahasiswanya yang telah meninggal menemaninya selama 42 jam. Yang membuat ia lama dievakuasi adalah karena kakinya terjepit sehingga petugas penyelamat sempat berinisiatif mengamputasinya di lokasi kejadian. Walau pada akhirnya ia dapat dikeluarkan dari reruntuhan itu dengan anggota tubuh lengkap, namun kedua kakinya harus dipotong saat ia dirawat di rumah-sakit.
Sang reporter menambahkan bahwa Suci yang baru tiga hari mengajar di STBA Prayoga pernah bercita-cita hendak menjadi PNS. Namun, karena kedua kakinya tiada lagi, harapan itu tak kesampaian.
Saya pernah berkesempatan belajar sebentar di Amerika Serikat. Kesan yang saya tangkap adalah negara itu memang sangat kuat. Salah-satu sebabnya adalah kemampuan mereka menggunakan semua sumberdaya, termasuk manusia, untuk membangun negaranya. Tak terkecuali para penyandang cacat (disabilities). Di sana semua orang, baik tua, muda, pria, wanita, hitam, putih, cantik, tak cantik (pegawai bank misalnya, tak semua cantik fisiknya) normal maupun penyandang cacat memiliki kesempatan kerja yang sama sesuai kemampuannya. Ketentuan ini dilindungi oleh undang-undang federal.
Adakah pekerjaan seorang PNS selalu membutuhkan kaki yang lengkap? Tidak. Apalagi jika Anda menjadi seorang pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Bekerja di kantor pun bisa, misalnya untuk mengetik dan tugas-tugas administrasi lain. Karena itu, kita perlu mendorong pemerintah untuk membuka kesempatan bagi Suci dan siapa pun yang tak lengkap anggota tubuhnya untuk menjadi pelayan rakyat. Karena negara ini milik kita semua.
Suci, tetaplah dengan cita-citamu.
Sahana
Info ini baru diperoleh. Ada satu aplikasi web untuk manajemen bencana yang diberi nama Sahana. Sudah mulai dicoba dalam penanganan bencana gempa Sumatra. Coba lihat di sini.
BNPB juga dapat mencoba menggunakan Sahana untuk mulai mengembangkan sistem informasi bencana yang lebih terbuka. Ini dapat menjadi bagian dari usaha Pemerintah melibatkan masyarakat. Mengapa harus BNPB, bukankah masyarakat saja sudah cukup? Penanganan bencana teramat penting sehingga tidak bisa ditangani sambilan atau reaksional. BNPB memiliki kewenangan dan sumberdaya untuk menangani bencana karena memang dibuat untuk itu. Dalam keadaan tanpa bencana pun badan negara yang belia ini harus tetap siaga. Masyarakat dilibatkan karena saat bencana terjadi energi atau semangat untuk berpartisipasi besar sehingga harus terarah, fokus, dan terorganisasi dengan baik.
Diharapkan saat:
- prabencana kita akan memiliki kesiapan sumberdaya terlatih untuk memasok data;
- segera seusai bencana mereka bisa langsung mengirimkan data, dan
- pascabencana informasi rehabilitasi & rekonstruksi menjadi lebih termonitor.
Masalah yang paling sering dipertanyakan oleh para ahli bencana dan petugas pelaksana lapangan adalah keakuratan informasi dari metode sukarela ini. Hal ini wajar karena informasi sangat penting saat tanggap darurat. Kesalahan informasi tidak hanya menjengkelkan para petugas tapi juga membuang waktu dan tenaga untuk membantu korban. Pemerintah tentu tidak akan mempertaruhkan keselamatan warga untuk sesuatu yang tak dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk menghindari informasi palsu dan menjaga keakuratan data, masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat mendaftarkan diri, kemudian mereka dibekali standard operation procedure (SOP), dan dilatih secara serius. Pendaftaran memerlukan data yang jelas dan benar sehingga informasi diri seperti tempat domisili, KTP, atau NIK (Nomor Induk Kependudukan) dapat diminta. Mereka, sebut saja Sahabat BNPB, dapat diberi kartu anggota sebagai salah-satu wujud ikatan/solidaritas komunitas kemanusiaan ini. SOP dan pelatihan dapat dilakukan secara online. Try-out/simulasi dapat dilakukan secara reguler untuk berbagai jenis bencana.
Sistem manajemen bencana Sahana dapat terus dikembangkan karena bersifat terbuka (open source). Penambahan fitur notifikasi terhadap suatu data yang diperbaharui atau dikoreksi oleh anggota lain perlu dibuat. Setiap informasi memiliki kode/nomor. Jika suatu data telah out of date, maka pencari informasi akan tahu bahwa informasi nomor tertentu telah diperbaharui.
Ini hanya usulan yang masih premature. Tentu akan lahir ide-ide lain yang lebih mudah, murah, dan masuk akal. Sahana menjadi awal bagi kita agar lebih serius memanfaatkan teknologi informasi dalam penanganan bencana. Prinsipnya adalah bagaimana cara agar masyarakat dapat menyediakan informasi kebencanaan yang dapat dipakai oleh para stakeholder penanggulangan bencana.
Gotong-Royong Maya: Let’s VGI!
Anda memiliki informasi stok bahan logistik, posko kesehatan, daerah yang masih perlu bantuan evakuasi korban, layanan telepon gratis, dsb untuk korban gempa Sumatra? Sebarkan informasi yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana dalam Peta Tanggap Darurat sebagai hasil kolaborasi bersama.
Kewajiban masyarakat sesuai Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pasal 27, butir (c) adalah memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana.
Untuk menambahkan informasi:
- Klik “View Larger Map” dan login dengan akun Google Anda,
- klik “Edit”
- klik ikon “Add a placemark” di kiri atas peta
- tempatkan placemark itu di lokasi yang ingin ditambahkan informasinya.
Catatan:
- Fase penanggulangan bencana adalah prabencana (mitigasi & kesiapsiagaan), saat tanggap darurat, dan pascabencana (rehabilitasi & rekonstruksi). Saat ini kita memasuki tahap tanggap darurat.
- VGI (volunteered geographic information) adalah pelibatan masyarakat luas untuk membangun data geografi melalui internet. Be part of it!
- Peta ini TIDAK resmi, informasi resmi dari Pemerintah terdapat di peta BNPB.
- BNPB menetapkan masa tanggap darurat selama 1 bulan sejak terjadinya gempa Sumatra pada 30 September 2009.
Indonesia Siap!
Bencana alam terus terjadi di tanah air kita, Indonesia. Sayangnya, kita belum benar-benar siap menghadapi bencana itu dengan pengetahuan tentang manajemen bencana, reaksi yang tepat sesuai dg jenis bencana, dan tim yang solid di lingkungan kita untuk saling mendukung dalam keadaan darurat.
Karena itu, kita harus lebih banyak merencanakan, mengadakan latihan keselamatan bencana, dan mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi bencana. Kita harus siap. Indonesia Siap!
Silahkan bergabung dalam gerakan masyarakat ini di Facebook, Group: Indonesia Siap!
Are you ready?
Preparing for future unpredictable disastersis crusial. Therefore, my family had conducted home evacuation drill this morning by motorcycle.
What do we need to do to be prepared? You’re better visit this link: Community Preparedness.
Ikhlas
Keikhlasanku dalam hidup hampir goyah. Satu-satunya cara mengokohkannya adalah melihat Al-Musawwir dalam paras anakku. Ketika ia terlelap saat aku pulang mencari nafkah.
Mengapa Linux?
Beberapa teman dalam kesempatan yang berbeda pernah bertanya mengapa saya menggunakan Linux ketika Windows menjadi sistem operasi yang umum dipakai masyarakat dan memiliki banyak aplikasi bagus. Jawaban saya adalah: “Saya tertarik pada Linux bukan sekedar karena ada aplikasi yang saya butuhkan secara gratis, tapi juga karena gerakan open source semacam Linux adalah gaya hidup, prinsip dan filsafat sekaligus.”
Kawan-kawan yang mencoba Linux dengan didasarkan pada keinginan menemukan cara untuk berinternet lebih cepat, bekerja tanpa diganggu virus, menghindari razia software bajakan, atau mencoba OS gratis, hanya akan bertahan dalam waktu singkat. Selanjutnya mereka akan kembali ke dunia proprietary setelah apa yang didapat tak seindah Windows. Hanya kawan-kawan yang memiliki kesenangan untuk berbagi, kreatif, dan berpikir di luar kotaklah yang bisa tetap istiqamah dalam gerakan open source ini.
Jejaring Tanggap Bencana
Banyak sebab mengapa tanggap bencana (emergency response) lambat dan tak efektif membantu korban. Dalam kajian manajemen bencana (emergency management) ditemukan bahwa kegagalan fase ini dapat terjadi oleh berbagai sebab. Salah-satunya adalah karena tanggung jawab tanggap bencana diserahkan kepada otoritas/pemerintah setempat. Saat gempa dan tsunami di Aceh, keluarga Wakil Gubernur, Kapolda, Walikota Banda Aceh dan aparatur setempat menjadi korban. Praktis layanan publik dari pemerintah daerah lumpuh total. Begitu pula dengan apa yang saat ini terjadi di Padang di mana kantor-kantor pemerintah tidak bisa beroperasi setelah gempa 7,6 skala richter pada 30 September lalu. Jadi, bagaimana mereka bisa bekerja membantu yang lain?
Berkaca dari kejadian di atas, tanggap bencana haruslah dilimpahkan kepada aparatur negara yang tidak terkena bencana. Yang paling mungkin melakukannya dengan cepat adalah militer dan pemerintah daerah yang bertetangga dengan daerah yang terkena dampak bencana. Karena bencana alam adalah kejadian luar biasa dan darurat, maka kerangka pikir manajemennya pun mengikuti kondisi kedaruratan itu. Koordinasi segala sumberdaya (orang dan alat) dilakukan oleh:
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jika dampak bencana sangat besar dan menjangkau lebih dari satu provinsi; atau
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi atau kabupaten/kota di luar kabupaten/kota dampak bencana, jika daerah dampak bencana berada dalam satu provinsi.
Kita sebut saja sistem ini sebagai “jejaring tanggap bencana”.


